Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU PRAPASKAH III/A/2017

Kel 17:3-7; Rom 5:1-2.5-8; Yoh 4:5-42.

PENGANTAR
    Untuk Hari Minggu ini, dalam Injilnya Yohanes bercerita tentang pertemuan dan percakapan Yesus dengan perempuan Samaria, yang datang di sebuah sumur, yang disebut sumur Yakub, untuk menimba air. Kebetulan Yesus yang letih dalam perjalanan duduk di pinggir sumur itu untuk beristirahat. Percakapan Yesus dengan perempuan Samaria itu memuat pesan-Nya yang sangat mendasar bagi kita: pertama, kita harus selalu peka terhadap sabda Allah, dan kedua, bahwa manusia, laki-laki dan perempuan, adalah makhluk semartabat di hadapan Allah.

HOMILI
    Ternyata dalam Kitab Suci, khususnya dalam keempat Injil (Mat. Mrk. Luk. Yoh.) tampak dengan jelas, betapa tinggi Yesus menghargai martabat perempuan. Inilah beberapa contoh: sebagai Penyelamat Yesus mengasihi perempuan pelacur (lih. Yoh 7:53-8.11; Mat 21:31-32; Luk 7:36-50). Ia membiarkan diri-Nya disentuh seorang perempuan yang sakit leleh darah,yang dianggap najis oleh masyarakat (lih. 5:27-34). Dan lagi meskipun hari Sabat, Yesus menolong menyembuhkan seorang perempuan yang sudah bungkuk dan telah 18 tahun dirasuk setan (Luk 13:10-17). Banyak sekali Yesus mengadakan mukjizat untuk menolong perempuan mertua Petrus yang sakit demam (Mrk 1:29-31), putri Yairus (Mrk 5:21-43), menerima permohonan seorang perempuan keturunan bangsa Siro-Fenesia, bukan orang Yahudi (Mrk 7:24-30), dan juga membebaskan Maria Magdalena dari roh jahat (Luk 8:2). Yesus ikut berdukacita dengan janda di kota Naim dan terharu hati-Nya dan berbelas kasihan kepadanya (Luk 7:13). Seorang janda miskin yang hanya mampu memberi uang kecil ke dalam peti dana dipuji oleh Yesus (Mrk 12:41-44). Yesus membiarkan dirinya diurapi kaki-Nya dengan minyak narwastu oleh seorang perempuan (Mrk 14:3-8; Yoh 12:1-8). Yesus juga menerima perempuan-perempuan dalam melaksana-kan pewartaan-Nya (Luk 8:2-3), bahkan bermalam di rumah 2 orang perempuan, yang mau mendengarkan wejangan-wejangan-Nya (Luk 10:36). Bahkan ketika Yesus harus berjalan memikul salib-Nya, Ia justru mengajak dan meneguhkan perempuan-perempuan yang menyertai-Nya dan menangisi dan meratapi-Nya (Luk 23:27-31). Dan ketika Ia telah bangkit dari kematian, Ia menampakkan diri pertama-tama kepada kepada seorang perempuan: Maria Magdelana! Demikian tinggi penilaian dan penghargaan Yesus kepada perempuan!

    Dalam Injil Yohanes, Yesus berbicara dengan perempuan Samaria, yang pernah hidup dan bergaul dengan lima orang laki-laki, yang bukan suaminya. Tetapi dengan latar belakang sikap Yesus terhadap orang perempuan seperti kita kenal dalam Injil-Injil tadi, ternyata ada dua pesan Yesus yang perlu kita renungkan dari pertemuan dan percakapan-Nya dengan perempuan Samaria itu. Pertama: Yesus datang di dunia ini untuk menyelamatkan umat manusia, bukan untuk menghukum. Tetapi Ia tidak mau menyelamatkan manusia dengan paksaan, melainkan sesuai dengan kehendak dan kerelaan manusia itu sendiri. Yesus. Ketika berjumpa dengan perempuan Samaria itu, Ia tidak memaksa supaya perempuan itu bertobat, melainkan Yesus melihat, bahwa perempuan itu meskipun dalam keadaan berdosa namun dalam hatinya ia tetap percaya. Buktinya, setelah mendengarkan apa yang dikatakan Yesus, ia lupa datang ke sumur untuk menimba air. Sadar akan keburukan hidupnya, ia peka mendengar-kan dan menerima kata-kata Yesus, bahkan akhirnya mengakui Yesus sebagai nabi, bahkan sebagai Almasih. Dan ia memberitahukan keyakinannya itu kepada warga masyarakatnya.

    Kedua: Kita ini sebagai manusia yang memiliki kesamaan martabat namun juga tanggung jawab terhadap Tuhan adalah laki-laki dan perempuan. Dan Injil Yohanes hari ini mengingatkan kita, bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan orang berdosa. Dan manusia yang berdosa adalah juga laki-laki dan perempuan! Maka pesan Injil Yohanes, yang ingin disampaikan kepada kita dalam ceritera tentang perjumpaan dan pembicaraan Yesus dengan perempuan Samaria itu, bukanlah eksklusif mengenai masalah berlaku perempuan, melainkan juga untuk laki-laki. Jadi kerendahan namun sekaligus kebesaran manusia, baik laki-laki maupun perempuan, diakui sebagai sama dan diperlakukan Yesus secara adil. Meskipun Rasul-rasul Yesus adalah laki-laki, namun Yohanes dalam Injilnya juga menulis, bahwa ketika bangkit dari kematian Yesus menampakkan diri kepada Maria Magdalena (Yoh 20:11-18). Ini menunjukan, bahwa Yesus baik dalam pewartaan maupun dalam perbuatan-Nya tidak membeda-bedakan laki-laki atau perempuan! Harkat orang perempuan harus sungguh dihargai, seperti dilakukan oleh Yesus sendiri seperti misalnya dalam ceritera Injil Yohanes hari ini.

    Allah menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan menurut citra-Nya. Masing-masing dengan kekhususan keadaan pribadinya, namun sebagai ciptaan Allah memiliki martabat yang sama didepan Allah Pencipta mereka. Maka kita harus selalu memandang, menghormati, bersikap dan bertindak terhadap sesama kita, baik laki-laki maupun perempuan, sebagai saudara-saudari yang semartabat seperti kita sendiri di depan Tuhan.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/