Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU PRAPASKAH V/A/2017

Yeh 37:12-14; Rom 8:8-11; Yoh 11:1-45.

PENGANTAR
    Menjelang Minggu Palma minggu depan, pada Hari Minggu Prapaskah V ini, Injil Yohanes menegaskan kepada kita, bahwa setiap orang yang percaya kepada Kristus sebagai Mesias atau Penyelamat, sesudah kematiannya akan dibangkitkan kembali, baik dari kematian jasmani maupun kematian rohani.

HOMILI
    Yohanes dalam Injilnya dalam Minggu prapaskah ini meneguhkan iman kita bahwa Yesus adalah Almasih. Yesus diutus Bapa-Nya sebagai pemberi dan penyelamat hidup kita, bukan hanya sekarang ini saja, melainkan juga kelak untuk selamanya. Peristiwa Yesus yang membangkitkan Lasarus itu, tidak lama kemudian diikuti dengan peristiwa yang dialami Yesus sendiri. Ia ditangkap, diadili dan dijatuhi hukuman mati, bahkan mati di salib. Namun tiga hari kemudian Yesus bangkit kembali. Bukankah bagi kita sebagai manusia hal ini sungguh mengherankan? Ternyata kebangkitan Lazarus dan kebangkitan Yesus sendiri merupakan tanda puncak kabar gembira, yakni bahwa Yesus Kristus adalah sungguh Penyelamat kita.

    Selama masa prapaskah ini, kita berusaha hidup sederhana dengan berpantang dan berpuasa. Di samping itu kita semua, masing-masing menurut keadaan dan kemampuannya sendiri berusaha berbuat baik, dan memberi derma kepada sesama yang berkekurangan. Semuanya itu kita selenggarakan bukan demi peraturan, melainkan sungguh bertujuan untuk berusaha menghayati kehidupan kristiani sejati. Peraturan Gereja tentang pantang dan puasa bukanlah tujuan, melainkan sebagai peringatan, bahwa tujuan hidup kita bukan terbatas pada hidup di dunia sekarang ini saja, melainkan tertuju kepada hidup kekal bersama dengan Allah di surga. Jangka waktu hidup di dunia ini terbatas, hanya sebagai persiapan untuk memasuki hidup kekal, tetapi harus kita masuki melalui kematian, yang saat pelaksanaannya bukan kita tentukan sendiri, tetapi dilaksanakan menurut rencana kehendak Allah.

    Ceritera Yohanes dalam Injil tentang pembangkitan Lazarus mengajak kita untuk merenungkan makna kebangkitan kita dari antara orang mati. Yesus telah menunjukkan bahwa Ia sebagai Penyelamat berkuasa mengalahkan kematian. Pembangkitan Lazarus bagi kita merupakan tanda tentang apa yang dapat dialami oleh orang yang sungguh percaya kepada Kristus.

    Tetapi ada catatan yang harus kita perhatikan. Lasarus memang dibangkitkan, tetapi kemudian ia akan mati lagi! Bukan demikianlah orang yang percaya kepada Kristus. Orang yang percaya kepada Kristus akan mati, tetapi sesudah dibangkitkan dari kematian ia tidak akan mati lagi, dan hidup selamanya, seperti dialami oleh Kristus sendiri. Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma berkata: "Kristus sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi, maut tidak berkuasa lagi atas Dia" (Rom 6:9). Dan juga menurut Lukas dalam Injilnya, ketika Ia berbicara tentang kebangkitan, Yesus berkata: "Mereka tidak dapat mati lagi, mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan" (Luk 20:36).

    Berpegang pada Kitab Suci Gereja mengingatkan kita, bahwa iman akan Kristus, yang berkuasa atas kematian harus dijadikan pegangan kepastian hidup bagi orang yang sungguh beriman dalam menempuh hidupnya di dunia ini. Kita secara konkret sebagai orang, yang sungguh percaya kepada Kristus, harus berusaha hidup di dunia ini sebaik mungkin, dan dengan segala ikhtiar sebesar mungkin sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Tetapi segalanya itu harus diarahkan kepada kehidupan abadi bersama Kristus. Apabila kita hidup dengan berpegang pada keyakinan ini, kita akan sanggup menghayati hidup kita sesuai dengan kehendak Allah.

    Di samping itu kita diingatkan supaya sadar, bahwa kematian kita bukan hanya kematian jasmani atau badani saja, tetapi juga, inilah yang mudah kita lupakan!, kematian rohani. Kita juga harus dibangkitkan dari kematian rohani. Banyak orang mati hati dan batinnya, karena mengalami situasi hidup yang berat, menyedihkan, dan merasa tidak mampu mengatasinya. Mereka kehilangan harapan, dan tidak melihat terang dalam kegelapan hidup mereka.

    Kita sebagai umat beriman harus lebih menyadari kebutuhan kita untuk selalu bangkit kembali dari kegelapan tantangan hidup kita, agar dapat hidup lagi penuh harapan. Yesus berkata: "Akulah kebangkitan dan hidup!" (Yoh 11:25).

    Mendengarkan kata-kata Yesus itu, kita pun sekarang ini harus menjawab pertanyataan yang diajukan Yesus kepada Marta saudari Lazarus : "Percayakah engkau akan hal ini?" (Yoh 11:26). Bila kita menjawab: "Ya, Tuhan, aku percaya" dan berpegang teguh pada keyakinannya itu, maka kita harus sanggup menjalani kehidupan kita sebagai murid Kristus sesuai dengan kehendak-Nya. Bila demikian, Kristus menantikan kita di tempat kediaman-Nya yang abadi untuk tinggal bersama Bapa di surga.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/