Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

PESTA KELUARGA KUDUS, YESUS, MARIA, YUSUF A/2019

Sir 3:2-6, 12-14; Kol 3:12-21; Mat 2:13-15, 19-23;

PENGANTAR
    Menurut ajaran Kitab Suci seperti akan kita dengarkan, ternyata kita ini di dalam keluarga pertama-tama harus lebih mementingkan kewajiban daripada menekankan hak kita masing-masing. Dalam keluarga kita harus lebih mengutamakan sikap dan perbuatan yang baik demi kepentingan orang lain dari pada kepentingan diri sendiri. Guna memiliki sikap dasar kekeluargaan ini, maka semua anggotanya dalam hidup berkeluarga dan hidup berkomunitas harus lebih berjiwa untuk melayani daripada lebih ingin dilayani. Mari kita mendengarkan ketiga Bacaan Kitab Suci hari ini dengan seksama dan dengan hati terbuka.

HOMILI
    

    Kitab Sirakh (abad 2 seb. Kr) menekankan hormat kita kepada orang tua. Dan Paulus memberi nasihat kepada umat di Kolose agar mereka hidup berkeluarga sungguh secara kristiani. Dan ciri-ciri khas keluarga kristiani ialah untuk selalu saling mengasihi, mengampuni, hidup berdamai dan merasa terima kasih menurut ajaran dan teladan Kristus, yang rela mengobarkan diri-Nya seutuhnya. Sepintas lalu ceritera Injil hari ini tentang Keluarga Kudus dapat kurang menggembirakan, malahan lebih menyedihkan. Si bayi Yesus harus lahir di Betlehem dan di dalam pemerintahan Raja Herodes, yang merasa dirinya terancam dan berniat mau membunuh Yesus. Kelahiran Yesus Almasih yang sebenarnya merupakan kegembiraan bagi segenap orang, justru oleh Herodes dianggap sebagai bahaya besar!

    Tetapi Keluarga Yesus tetap berpegang teguh pada sabda Allah. Yusuf taat akan perintah malaikat dan pergi meninggalkan Israel untuk mengamankan kehidupan Yesus. Tetapi kemudian dapat pulang kembali ke Israel ketika keadaan sudah aman. Yusuf taat kepada keluarga dan menjaga serta melindungi keamanan anak angkatnya. Yesus adalah pusat segenap perhatian Maria dan Yusuf.

    Siapakah Yusuf bagi kita? Pribadi dan peranan Yusuf sungguh patut kita perhatikan! Ia melihat Maria sudah mengandung, meskipun bukan anaknya sendiri. Namun ia tidak mengutamakan haknya, melainkan lebih melaksanakan kewajibannya sesuai dengan kata malaikat. Ia sangat prihatin akan nasib Maria, apabila ia ditinggalkannya, meskipun itu sebenarnya adalah haknya. Yusuf bersedia berkorban demi menjaga nama baik Maria!

    Yusuf adalah seorang pribadi yang sederhana, hanya tukang kayu, hidup dengan ekonomi "pas-pasan". Hal ini menurut hukum terbukti ketika ia pergi ke Yerusalem untuk menyunatkan Yesus dan "memurnikan" Maria. Kenyataannya Ia hanya mampu mempersembahkan dua ekor anak burung merpati, padahal sebenarnya ia harus mempersembahkan seekor anak domba. Namun ia tidak mampu.

    Yusuf adalah bapak Yesus lewat adopsi, bukan secara biologis. Terbukti sebagai seorang bapak ia berbuat sebagai lebih daripada sekadar sebagai bapak lewat darah dan daging! Seorang bapak sejati ialah seorang priya yang mampu menanamkan pendidikan dan pembentukan rohani serta moral dalam hati anaknya. Ibaratnya ia harus bertindak dan melayani keluarga sebagai wakil Allah Bapa di surga! Di malam suci di Betlehem bersama Maria dan Bayi Yesus, Yusuf diserahi tugas oleh Bapa disurga untuk mengasuh Putera-Nya di dunia ini. Dan Yusuf melaksanakannya dengan diam-diam namun dengan nyata dan setia!

    Paus Emeritus Benediktus pernah berkata : "Yang penting bukanlah menjadi pelayan yang tak berguna, melainkan menjadi pelayan yang setia dan bijaksana. Hanya tahu namun tidak setia, dan setia namun tidak bijaksana, itu tidak cukup!" Bila hanya salah satu saja yang dimiliki, maka tanggung jawab atas tugas yang diberikan Tuhan itu tidak cukup dan bukan sebagai bukti kesungguhan hati. Kita dapat belajar dari Yusuf. Dalam diri Yusuf imannya tidak terpisah dari perbuatannya. Yusuf disebut sebagai seorang figur atau tokoh yang setia, jujur dan tulus hatinya. Seluruh hidup dan perbuatannya disesuaikan dan diukur dengan sabda Allah.

    Teladan Keluarga Nasaret dapat kita kenal lewat pribadi Maria dan Yusuf. Suatu keluarga, komunitas, paroki, Gereja bukan harus dibangun dengan kekuasaan dan kekuatan, melainkan lebih dengan daya kebaikan dan kesetiaan. Bukan atas kekuatan kekayaan dan harta benda, melainkan dengan kejujuran, ketulusan dan kesediaan untuk saling menghormati dan mengasihi. Marilah dalam merayakan Pesta Keluarga Kudus di Nasaret ini, kita menjadikan Maria danYusuf sebagai teladan bagi kita dalam hidup bersama di dalam keluarga dan komunitas.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/