H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm
MINGGU PASKAH VII /B/2015
Kis 1:15-17.20a.20c-26 1 Yoh 4:11-16 Yoh 17:11-19
PENGANTAR
Menjelang Hari Raya Pentakosta, dalam Hari Minggu ini kita diajak mendengarkan Injil Yoh 17:11-19 tentang wejangan Yesus dalam perjamuan malam terakhir. Doa ini sekaligus merupakan sabda perpisahan. Yesus akan memasuki saat penang-kapan, penderitaan dan kematian-Nya di salib. Hidup dan karya-Nya yang tampak akan berakhir, dan Ia akan kembali kepada Bapa,yang mengutus-Nya. Para murid-Nya harus meneruskan hasil karya penebusan-Nya. Tugas mereka sangat luhur, tetapi berat dan banyak godaan dan hambatannya. Karena itu Yesus mengucapkan doa-Nya kepada Bapa bagi mereka itu.
HOMILI
Dalam Kitab Suci kita dapat melihat, bahwa Yesus dalam hidup dan karya-Nya selalu berdoa. Maka pada pertemuan-Nya dalam perjamuan malam terakhir Ia juga berdoa, khususnya bagi murid-murid-Nya. Kenyataan bahwa Yesus selalu berdoa untuk kita, sungguh merupakan suatu sumber kegembiraan dan peneguhan harapan bagi kita!
Dalam doa-Nya bagi murid-murid-Nya, yang juga bagi kita semua sebagai murid-murid-Nya, Yesus menyebut tiga permohonan yang sangat kita butuhkan dan harus kita hayati serta laksanakan.
Pertama: Yesus berdoa supaya kita, murid-murid-Nya, bersatu. “Ya Bapa, yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku,supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita” Kita semua diciptakan oleh Allah yang satu. Dan berkat baptis kita semua adalah putera-puteri Allah yang satu. Allah sendiri adalah tiga pribadi: Bapa, Putera dan Roh Kudus, namun Bapa, Putera dan Roh Kudus tetap satu. Maka kita semua juga harus bersatu. Allah Bapa, yang adalah kasih, mengutus Kristus dan Roh-Nya untuk mempersatukan semua manusia. Yesus dan Roh-Nya membongkar tembok-tembok pemisah, baik antar bangsa, antar suku, antar sesama bahkan dalam keluarga. Gereja, yaitu kita semua, dimaksudkan oleh Yesus sebagai tanda dan teladan perdamaian dan kerukunan. Gereja harus menjadi sakramen persatuan dan perdamaian. Dapatkah Gereja kita disebut otentik, artinya sungguh sebagai persekutuan murid-murid Yesus, apabila di dalam Gereja itu warga-warganya saling bermusuhan, terpecah belah dan hidup penuh kebencian dan dendam? Yesus berdoa, agar kita selalu bersatu. Tetapi bagi kita bukan hanya berarti, bahwa kita harus bersatu hanya dengan orang-orang seiman atau seagama, tetapi dengan setiap orang, siapapun juga. Yaitu setiap orang yang berkehendak baik.
Kedua: Sangat menarik bahwa Yesus juga berdoa: “Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka, dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat”.
Kita sebagai umat kristiani, pengikut Kristus, tidak diminta Tuhan supaya mengundurkan diri dari dunia, dan memasuki suatu kelompok atau golongan tertutup, ibaratnya suatu ghetto, sebagai kelompok eksklusif dan tertutup terhadap orang-orang lain. Yesus justru mengutus kita ke tengah-tengah dunia, sama seperti Ia sendiri yang bukan diutus Bapa hanya untuk orang Yahudi. Yesus tidak mau menarik murid-murid-Nya dari dunia, sebaliknya mau menyiapkan dan memperkuat mereka, untuk diutus pergi dan memasuki dunia masyarakat untuk menghadirkan keselamatan yang diberikan oleh Tuhan kepada dunia yang membutuhkannya.
Artinya, di tengah segenap kesibukan dan aneka urusan di dunia, kita harus sadar untuk bersikap, berpikir dan berbuat sebagai orang kristiani, artinya menjauhkan diri dari yang jahat, dan hidup sesuai dengan pedoman hidup yang telah diberikan Yesus. Dan Ia sendirilah teladannya! Dunia memang tempat di mana murid-murid Yesus harus hidup. Semua murid Yesus hidup di dunia ini, dengan segalanya yang baik maupun yang jahat, Yesus berdoa agar segenap pengikut-Nya dijauhkan dari yang jahat. Yesus mengajarkan doa permohonan itu juga dalam doa Bapa Kami: “Bebaskanlah kami dari yang jahat”.
Ketiga: Akhirnya Yesus berdoa: “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran….Dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran”. Dikuduskan berarti ditujukan untuk melaksanakan suatu tugas yang direncanakan Tuhan bagi kita masing-masing. Namun dikuduskan juga berarti diberi atau dilengkapi oleh Tuhan dengan rahmat dan kekuatan yang dibutuhkan, untuk melaksanakan apa yang dipercayakan kepada kita masing-masing.
Kita semua dan masing-masing dipanggil dan dikuduskan oleh Allah, untuk mengambil bagian dalam karya Kristus. Kita diutus ke dalam dunia untuk menjadi saksi Kristus. Artinya kita harus memperkenalkan Kristus dan cara hidup-Nya melalui cara hidup kita masing-masing maupun bersama-sama. Kristus adalah saksi Allah, padahal Allah adalah kasih. Kasih inilah yang disebut kekudusan yang sejati. Agar menjadi kudus, yaitu berhubungan erat dengan Allah, maka kita dipanggil menjadi duta kasih Allah bagi sesama.
Hari Minggu ini adalah Hari Komunikasi Sosial Sedunia. Di tengah kemajuan media komunikasi dewasa ini, marilah kita secara khusus makin menyadari dan menghayati komunikasi kasih antar sesama, khususnya dalam keluarga. Komunikasi sosial di bidang apapun hanya benar dan akan berbuah apabila merupakan penghayatan komunikasi kasih.
Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.
kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm