H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm
MINGGU BIASA XIV/B/2015
Yeh 2:2-5 2 Kor 7-10 Mrk 6:1-6
PENGANTAR
Ketiga bacaan Kitab Suci hari ini pendek. Isi pokoknya ialah menunjukkan perlunya sikap dasar batin yang tepat, untuk menentukan segenap sikap lahiriah dan tingkah laku hidup setiap orang. Karena manusia diciptakan sebagai manusia yang mempunyai kehendak bebas, maka sikap dasar manusia memang ditentukan oleh manusia itu sendiri. Namun tiada seorang pun bebas dari hubungannya dengan Allah, yang telah menciptakannya. Inilah yang tampak di dalam sikap bangsa Israel (Bac.1), dalam diri Rasul Paulus (Bac. 2) dan dalam orang-orang sekampung dengan Yesus di Nasaret (Injil Markus hari ini).
HOMILI
Yesus telah banyak mengajar dan mengadakan mukjizat di daerah Galilea, di mana Nasaret berada. Banyak orang mengikuti Dia. Tetapi di Nasaret sendiri, tempat asal dan tempat tinggal-Nya Ia mengecewakan banyak orang, bahkan Ia ditolak. Ajaran dan perbuatan-Nya yang baik diragukan dan dimasalahkan! Diragu-ragukan semua itu diperoleh-Nya dari siapa? Hikmat atau kebijaksanaan apa yang diberikan kepada-Nya? Bukankah Dia itu seperti kita-kita juga? Bukankah Dia itu anak Yusuf tukang kayu, anak si Maria?
Mereka itu yakin, Allah tidak akan mengutus Nabi apalagi Almasih secara begitu biasa, dan di daerah kampung seperti Nasaret. Bukankah Almasih harus datang secara luarbiasa, secara mengagumkan seperti misalnya diusulkan oleh setan di padang gurun untuk terjun dari Bait Allah. Bagaimana mungkin dari keluarga Yusuf tukang kayu dan Maria bisa datang seorang Nabi atau Mesias?
Sekarang ini di negara kita, bila orang ingin menjadi Gubernur secara independen dan tak berpartai belum begitu pasti keberhasilannya, apalagi apabila ingin menjadi Presiden dapat dikatakan tidak mungkin. Dan bila Bapak Presiden atau Wakil Presiden mau mengunjungi daerah tertentu, tak jarang disambut dengan demonstrasi atau ditolak oleh kelompok-kelompok yang berpandangan berbeda. Bahkan di beberapa tempat, pengangkatan seorang Uskup terpilih yang bukan berasal dari daerah yang bersangkutan pun pernah mengalami penolakan oleh kelompok umat beriman yang mengikuti pandangan sempit dan terbatas.
Menghadapi keadaan serupa itu, apakah pesan Injil hari ini kepada kita sebagai umat beriman?
Kiranya sebab sikap penolakan semacam itu ialah, bahwa kita sering menghendaki Allah bertindak menurut keinginan dan kemauan kita, dan bukan menurut kehendak-Nya! Bukan kita yang bersedia menerima dan melaksanakan rencana-Nya untuk menyelamatkan kita, tetapi sebaliknya kita menghendaki supaya Allah menyelamatkan kita menurut pemikiran dan kemauan kita. Padahal seperti diajarkan dan dilaksanakan oleh Yesus, Allah begitu mengasihi kita sampai di dalam diri Yesus Putera-Nya Ia menjadi manusia seperti kita, dalam segala hal kecuali dalam hal dosa! Kasih dan kerendahan hati Yesus itulah, yang harus dijadikan pegangan untuk menentukan sikap kita terhadap Allah dan terhadap manusia sesama kita! Martabat kita semua di hadapan Allah adalah sama. Itulah yang harus selalu menjadi dasar sikap hidup kita. Apa dan siapa pun yang sungguh baik, harus kita nilai sebagai baik, meskipun penampilannya lahiriah “secara resmi, protokoler, menurut adat” dianggap tidak memenuhi cita-cita. Pandangan dan ukuran menurut selera manusiawi serupa itulah, yang dipakai orang-orang Nasaret terhadap Yesus! Yang dinilai agung harus tampak agung!
Kalau ada seorang Pemimpin atau Pembesar apapun datang, hendaklah kita terima dengan hormat dan pantas. Bila kita menyambut kedatangan Sri Paus, kita pasti akan menyambutnya sebaik mungkin, betapapun besarnya beaya yang harus kita gunakan. Sebab Paus adalah Wakil Kristus dan kita semua merindukan berkatnya. Sikap ini benar dan pantas. Tetapi kalau dalam hidup kita sehari-hari ada orang biasa yang berkekurangan atau menderita datang kepada kita, bagaimanakah sikap kita untuk menyambutnya? Ragu-ragukah kita bahwa di dalam diri orang berkekurangan itu Kristus pun juga hadir? Ia orang biasa, bahkan rendah tingkat dan kedudukan hidupnya! Tetapi Kristus ada di dalam orang itu! Akan kita tolakkah Kristus yang juga hadir di dalam diri orang itu?
Berkali-kali Yesus di Galilea mengajarkan nilai-nilai hidup manusia yang benar seperti dikehendaki Allah. Berkali-kali Ia mengadakan mukjizat untuk menolong orang. Tetapi ternyata orang-orang Nasaret sebagai sesama sekampong pun belum melihat dan memahami ajaran dan teladan Yesus itu.
Bagaimanakah sikap kita sebagai murid-murid Yesus dewasa ini, duapuluh abad kemudian? Apakah kita ini yang memang resmi sudah dibaptis menjadi pengikut Kristus sejati, tetapi berjiwa dan bersikap seperti orang-orang Nasaret terhadap Kristus di zaman-Nya? Apakah kita sadar atau tidak sadar sering menolak kedatangan Kristus yang hadir dalam sesama kita, yang sebenarnya membutuhkan pertolongan kita. Kita mudah merasa ada perbedaan terlalu besar di antara keadaan atau kedudukan kita? Untuk bertemu dengan Kristus atau untuk merasa didatangi oleh Kristus, kita tidak perlu harus selalu secara resmi pergi ke gereja, atau bertemu dengan uskup atau imam, ataupun resmi mengikuti ibadat liturgis. Umat kristiani sejati memang perlu beribadat di gereja. Tetapi untuk dapat bertemu dengan Kristus atau ingin didatangi oleh Kristus, kita juga dapat pergi kepada atau didatangi oleh sesama kita siapapun, yang membutuhkan pertolongan kita. Sebab Kristus juga hadir dalam pribadi setiap orang. Semua orang di depan Kristus memiliki martabat yang sama. Hanya syaratnya: sejauh manakah sikap dasar hidupku sungguh sesuai dengan ajaran dan teladan Kristus. Sebagai umat Allah
kita harus yakin bahwa didepan Allah kita tanpa perbedaan adalah semartabat.
Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.
kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm