H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm
HARI MINGGU BIASA XX/C/2013
Yer 38:4-6.8-10 Ibr 12:1-4 Luk 12:49-53
PENGANTAR
Ketika Yesus lahir di Betlehem, Injil Lukas memberitakan, bahwa malaikat mewartakan kabar gembira: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk 2:14). Tetapi Injil Lukas juga menulis ucapan Yesus ini: “Aku datang melemparkan api ke bumi…Kamu sangka Aku datang membawa damai ke bumi? Bukan! Bukan damai, melainkan pertentangan! Hari ini kata-kata tentang Yesus dan ucapan-ucapan-Nya disampaikan juga kepada kita. Marilah kita mempersiapkan diri untuk mendengarkan sabda-Nya, agar kita makin siap pula menerima tubuh dan darah-Nya dalam Ekaristsi dengan penuh harapan.
HOMILI
Sebagai manusia Yesus menyapa kita secara manusiawi juga. Sebagai seorang pendidik yang sempurna Ia tahu cara terbaik untuk menampilkan diri serta untuk menyampaikan ajaran-Nya kepada semua orang yang mau mendengarkan-Nya. Kadang-kadang Yesus menyampaikan pesan atau ajaran-Nya dengan cara atau bahasa yang sepintas lalu terdengar sebagai ucapan yang keras, bahkan seolah-olah bertentangan. Salah satu contohnya ialah Injil Lukas hari ini.
Sebenarnya apa yang ingin disampaikan kepada kita dalam Injil Lukas itu pada dasarnya ialah, bahwa kita diajak dan diingatkan supaya kita hidup dengan selalu siap siaga dan bersedia. Bukan bersikap pasif, acuh tak acuh atau hanya pilih-pilih yang mudah dan ringan. Yesus berkata:“Aku datang melemparkan api ke bumi”. Api yang bernyala-nyala adalah gambaran tentang terang yang jelas dan menarik perhatian. Tetapi terutama merupakan sesuatu yang tidak dapat dan tidak boleh dibiarkan begitu saja. Perhatikan kebakaran yang kini terjadi di mana-mana! Makna rohani adanya api Yesus itu ialah, bahwa kedatangan Yesus dengan ajaran-Nya merupakan sesuatu yang harus mendapat reaksi terhadapnya. Kita ini sebagai orang yang telah dibaptis sebagai orang kristiani, tidak boleh acuh tak acuh atau tidak peduli terhadap kehadiran Yesus di dunia ini, di dalam masyarakat, di dalam komunitas, di dalam keluarga, bagaikan api yang menyala. Nah, orang-orang yang suci, baik yang resmi dihormati oleh Gereja sebagai Santo atau Santa, maupun mereka yang tidak resmi diketahui apalagi diumumkan oleh Gereja, tetapi hidup, bersikap dan berbuat sebagai orang yang sungguh kristiani terhadap Tuhan dan sesamanya, - mereka ini adalah orang-orang yang imannya menyala bagaikan nyala api kasih Yesus di dalam masyarakat. Hati mereka ini tergerak oleh nyala api Yesus, dan terbakar olehnya. Dan mereka sendiri menjadi nyala api yang menerangi hati orang-orang sesamanya.
Kemudian Yesus berkata: “Aku harus menerima pembaptisan, dan betapakah susah hati-Ku sebelum hal itu berlangsung. Kamu sangka Aku datang membawa damai ke bumi? Bukan damai, melainkan pertentangan! Apa sebenarnya yang dimaksudkan Yesus?
Bersedia mengkuti Yesus berarti bersedia menempuh jalan hidup yang ditempuh-Nya juga! Di samping baptis simbolis di sungai Yordan, Yesus dibaptis dengan air suci yang berupa darah-Nya sendiri! Pembaptisan-Nya berpuncak pada kematian-Nya di salib! Gerak hidup, ajaran dan kesediaan-Nya menderita
dan mati di salib, - itulah sikap siap siaga dan bersedia yang dimaksudkan Yesus dengan kata-kata-Nya: “Aku datang melemparkan api ke bumi”.
Akhirnya apa arti ucapan Yesus yang berkata: “Kamu sangka Aku datang membawa damai ke bumi? Bukan! Bukan damai melainkan pertentangan!”. Artinya: barangsiapa ingin memilih Kristus, maka ia akan menghadapi dan berjuang melawan apa yang tidak dikehendaki Kristus. Orang kristiani sejati tidak boleh bersikap ganda terhadap apapun, yang bertentangan dengan ajaran dan sikap Kristus tentang apa yang benar dan yang palsu, yang baik dan yang jahat! Keputusan atau pilihan selalu menuntut suatu pemisahan.
Perpisahan ini dapat terjadi di mana pun, di dalam lingkungan apapun. Perbedaan pendapat, pertentangan, bahkan permusuhan dapat terjadi juga dalam keluarga. Sebab mendengarkan sabda Kristus dan memilih mengikuti Dia adalah keputusan setiap pribadi. Kristus tidak menghendaki adanya orang-orang yang tidak mengambil keputusan dengan sesungguhnya. Misalnya memilih hanya demi kerukunan, hanya untuk menghindari pertengkaran satu sama lain, tetapi bukan demi kebenaran dan kesungguhan niat untuk mengikuti Kristus.
Demikianlah Injil Lukas hari ini mengajak kita untuk menjadi orang kristiani sejati, bukan hanya secara sekadarnya, hanya demi ketenteraman, demi hidup lebih nyaman, tetapi sebenarnya dengan demikian kita menjadi seorang pribadi yang tidak utuh, tidak berprinsip tegas, tidak berperindirian teguh. Hati kita dingin bahkan beku, bahkan tidak mudah terbakar . Injil hari ini mengingatkan kita, agar kita sebagai orang krisitani yang sudah dibaptis, tanpa kekecualian, harus makin menyadari keberadaan kita sebagai murid Yesus sejati yang harus merasa diterangi dan dihangatkan, bahkan terbakar oleh kehadiran-Nya sebagai api yang menyala. Kita harus menjadi api yang menyala, agar dapat ikut menyalakan api Kristus dalam hati sesamanya kita.
Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm
kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

buku Katekese terbaru dari Mgr. FX. Hadisumarta. O.Carm