H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm
MINGGU BIASA XXIII/B/2015
Yes 35:4-7a Yak 2:1-5 Mrk 7:31-37
PENGANTAR
Injil Markus hari ini (7:31-37) berceritera tentang penyembuhan seorang yang bisu dan tuli. Tetapi sebelumnya (Mrk 7:24-30) Markus juga menceritakan pengusiran roh jahat/setan dari seorang anak. Dalam kedua ceritera itu Markus bukan hanya ingin menunjukkan bagaimana Yesus datang untuk menyelamatkan manusia dengan menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat, dan perbuatan baik lainnya saja. Pesan penting yang juga ingin disampaikan Markus dalam ceriteranya kepada kita ialah, bahwa Yesus mau menyelamatkan semua orang, tanpa perbedaan! Orang yang diusir setannya, dan orang yang disembuhkankan sebagai orang yang bisu dan tuli, adalah bukan orang Yahudi. Yesus adalah penyelamat bagi semua orang tanpa perbedaan.
Homili
Tempat di mana Yesus mengusir setan dan menyembuhkan orang yang bisu dan tuli, yaitu di Tirus, Sidon, daerah Dekapolis, yaitu daerah orang-orang yang bukan-Yahudi. Memang Yesus sering tidak langsung mewartakan kabar gembira kepada orang-orang bukan-Yahudi, tetapi ternyata kehadiran, perjalanan dan perjumpamaan-Nya di antara orang-orang non-Yahudi juga dikenal dan bergema dalam hati orang banyak!
Pesan apa sebenarnya yang ingin disampaikan Markus kepada kita dalam Injilnya? Tak lain tak bukan: Yesus datang untuk menolong, menyela-matkan semua orang tanpa perbedaan. Yesus adalah orang Yahudi dan Ia hanya mewartakan Injil di daerah orang-orang Yahudi. Tetapi di antara penduduknya ada juga orang-orang non-Yahudi. Karena itu segala pekerjaan baik yang dilakukan-Nya ternyata tidak terbatas, dan dapat dialami oleh siapapun juga, baik Yahudi maupun non-Yahudi. Apa yang dilakukan-Nya, yaitu berbuat baik kepada siapapun tanpa perbedaan. Karena itu di kemudian hari, sesudah Ia mati dan bangkit kembali, Ia justru memberi perintah kepada murid-murid-Nya: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15).
Berbuat baik kepada sesama tanpa perbedaan dan tanpa pamrih, ternyata merupakan pewartaan Injil (“evangelisasi”) yang paling baik dan berdayaguna! Sangat menarik catatan Injil yang dibuat oleh Markus ini. Yaitu Yesus berpesan kepada orang-orang yang menyaksikan mukjizat penyembuhan yang dilakukan-Nya, supaya jangan menceritakannya kepada siapa pun juga. Tetapi mereka justru memberitakannya kepada orang-orang dan berseru: “Ia, Yesus, menjadikan segala yang baik!”.
Apa pesan Yesus yang disampaikan kepada kita sekarang ini?
Masyarakat kita sekarang ini mengalami banyak kemajuan, namun juga sekaligus kemunduran. Kita setiap hari melihat iklan-iklan tentang pembangunan gedung-gedung pencakar langit, kompleks bangunan kolosal dan indah serta hebat. Penjualan dan pembelian mobil-mobil berkualitas tinggi terus berlangsung. Tetapi sekaligus juga selalu ada berita tentang bencana gempa bumi, kebakaran, nasib kaum pengungsi, nasib anak-anak yang kurang gizi makanan dan minumannya, dan tak mampu meneruskan sekolahnya. Belum lagi berita negatif tentang korupsi dan adanya badai narkoba yang tak kunjung henti.
Inilah “pelbagai penyakit” di dunia masyarakat kita, yang harus disembuhkan. Seperti di zaman Yesus dahulu, sekarang ini pun kita harus mewartakan Injil, bukan hanya lewat pewartaan sabda (ajaran, pendidikan, ibadat), tetapi juga lewat segenap usaha penyembuhan “penyakit-penyakit masyarakat kita” yang banyak diderita oleh orang-orang kita sezaman dan semasyarakat. Bukan hanya bagi orang-orang yang seagama, sekeluarga, segolongan, sejabatan atau apapun, melainkan kepada semua orang secara tulus dan tanpa pamrih. Dahulu orang-orang “takjub dan tercengang” melihat Yesus dan berseru: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata”. Betapa kita pun akan bersyukur kepada Tuhan dan bergembira,apabila ucapan orang-orang itu ditujukan juga kepada kita, murid-murid Yesus!
Paus Beato Paulus VI telah menulis suatu seruan apostolik Evangelii Nuntiandi, yang mengingatkan kita bahwa tugas hakiki kita sebagai Gereja ialah mewartakan kabar gembira. Dan Paus Fransiskus juga mengeluarkan suatu seruan apostolik Evangelii Gaudium, yang juga mengingatkan lagi, bahwa kita harus sungguh bergembira menerima Injil Kristus sebagai kabar keselamatan rohani dan jasmani kepada kita. Tetapi Paus Fransiskus ini menegaskan juga, bahwa kegembiraan kita itu harus diteruskan kepada semua orang tanpa perbedaan, seperti yang dilaksanakan oleh Kristus sendiri. Dengan demikian kita akan dikenal oleh masyarakat sebagai Gereja Kristus yang sungguh Katolik, artinya sebagai persekutuan umat beriman yang berbuat baik kepada semua orang tanpa membeda-bedakan.
Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.
kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm