H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm
Minggu Biasa XXIX /B/2012
Yes 53:10-11 Ibr 4:14-16 Mrk 10:35-45
PENGANTAR
Ketiga Bacaan Kitab Suci pada Hari Minggu ini memperlihatkan kepada kita, bagaimana kita sebagai sesama makhluk harus bersikap, hidup dan berbuat satu terhadap yang lain, khususnya mengenai kekuasaan. Terutama di dalam surat kepada orang Ibrani (Bac.II) dan Injil Markus, Yesus menunjukkan bahwa sikap dan perbuatan kita terhadap sesama bukanlah berupa menguasai, melainkan melayani. “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu!” (Mrk 10:43).
HOMILI
Betapa indah dan mengagumkan isi kutipan Surat kepada orang Ibrani yang telah kita dengarkan. Ditegaskan bahwa kita tidak memiliki seorang Imam Agung yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Sebaliknya Ia sama dengan kita. Ia dicobai juga, dan mengalami tantangan luarbiasa, namun tidak berdosa. Ia rela menanggung kehinaan dan penderitaan, bahkan mati hina di salib, - semua itu hanya bertujuan untuk menyelamatkan kita. Ia memasuki nasib kita, agar kita bersama Dia dapat diangkat kembali menjadi ahli waris surgawi.
Sudah sampai tiga kali dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya, bahwa Ia akan menderita dan mati dalam melaksanakan tugas-Nya sebagai Almasih. Namun mereka tidak menangkap apa yang ditegaskan Yesus itu. Bahkan dua murid-Nya, Yakobus dan Johannes, didampingi oleh ibu mereka, minta kedudukan terhormat di samping-Nya. Latar belakang pandangan dan cara berpikir mereka tentang Kerajaan Allah yang dimaksudkan Yesus sangat bersifat duniawi: materialistis dan egoistis. Padahal Kerajaan yang akan dibangun Yesus bukan dari dunia ini, seperti dipikirkan oleh Yakobus dan Johannes, murid-murid lain, dan mungkin merupakan pikiran atau gambaran kita! Mereka merindukan kedudukan mulia, terhormat, berkuasa.
Dalam Injil hari ini Yesus menerangkan apa sebenarnya di dalam Kerajaan Allah yang disebut berkuasa atau memiliki kuasa. Sudah lazim orang itu berpendirian, bahwa berkuasa berarti memiliki kuasa atau kekuatan untuk memaksa orang lain melakukan kehendaknya atau melayaninya. Orang lain diperintah sebagai hamba atau budak, dipaksa dan kedudukannya sebagai sesama manusia tidak dihormatinya.
Menghadapi sikap banyak orang semacam itu Yesus berkata: “Tetapi janganlah kamu berbuat demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mrk 10: 43). Yesus ingin menerangkan apa sebenarnya yang disebut kuasa dalam Kerajaan Allah.
Berkuasa dalam Kerajaan Allah bukan berarti memiliki kekuatan dan keinginan menguasai dan mengalahkan orang lain untuk kepentingannya sendiri. Berkuasa atau memiliki kuasa berarti memiliki kemauan dan kesediaan untuk memberikan dan membangun kekuatan kepada orang lain. Bukan memanfaatkan bahkan memeras daya dan kemampuan hidup sesama kita, tetapi justru sebaliknya menghidupkan dan menambahkah daya hidup sesama kita yang berkekurangan supaya dapat hidup damai sejahtera. Berkuasa berarti memiliki dan menggunakan kemampuan diri untuk ikut memberikan sumber hidup kepada orang lain. Berkuasa bukan berarti menggunakan orang lain hanya untuk kepentingannya sendiri.
Kita semua ini sebagai orang kristiani telah menerima daya hidup yang berlimpah dari Yesus Penyelamat kita. Seperti para rasul dahulu, sekarang pun kita sebagai murid-murid Yesus juga terpanggil memiliki dan melaksanakan kuasa-Nya itu. Kita terpanggil ikut “berkuasa”, yakni ikut memberikan daya hidup kepada sesama kita, secara rela dan cuma-cuma, bukan dengan perhitungan.
Nah, kuasa ini dapat kita lihat dan kita pahami maknanya, serta kita hayati dalam Ekaristi. Dalam Ekaristi kita menemukan pelaksanaan kuasa sejati yang asli dan murni. Ekaristi bukanlah kuasa untuk melemahkan dan merusakkan daya hidup orang lain, melainkan justru untuk menguatkan dan membangun daya hidupnya. Dalam Ekaristi, Yesus yang memiliki kuasa ilahi sepenuhnya merendahkan diri menjadi makanan sebagai sumber hidup kita yang berlimpah.
Dalam Ekaristi terbukti, bahwa kerendahan hati dan kesediaan melayani kebutuhan orang lain, - itulah perwujudan kebesaran dan kemuliaan kasih sejati dalam Kerajaan Allah.
Demikianlah pesan Injil hari ini kepada kita: berkuasa bukan berarti memerintah, melainkan melayani. Kita menerima Yesus dalam Ekaristi bukan hanya untuk kepentingan diri kita sendiri, melainkan justru agar kita makin rela melayani sesama kita.
Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.
kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm