H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm
MINGGU PASKA II/A/2014
Kis 2:42-47 1 Ptr 1:3-9 Yoh 20:19-31
PENGANTAR
Injil Johanes hari ini berceritera tentang dua penampakan diri Yesus sesudah Ia bangkit. Menurut Injil Johannes penampakan Yesus pertama terjadi “pada malam pertama sesudah hari Sabat”, sedangkan penampakan-Nya kedua berlangsung “delapan hari kemudian”. Dalam penampakan pertama Tomas, seorang dari keduabelas murid yang juga disebut Didimus, tidak ada bersama mereka. Tetapi dalam penampakan Yesus kedua Tomas itu hadir. “Delapan hari kemudian” berarti hari pertama sesudah Sabat. Catatan Injil Johanes tentang waktu itu tampaknya tidak banyak artinya, tetapi sangat penting bagi kita sebagai umat beriman kristiani, untuk memahami arti keagamaan Hari Minggu. Hari Minggu dalam bahasa Latin disebut “Dies Dominica” atau “Hari Tuhan”.
HOMILI
Johanes mencatat waktu atau saat pertemuan Yesus dengan murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit. Pertemuan Yesus dengan para murid-Nya itu menggambarkan pertemuan Yesus juga dengan kita umat kristiani sebagai Gereja, yang didirikan-Nya duapuluh abad yang lalu. Khususnya pertemuan Yesus dengan kita pada saat kita berkumpul untuk menghadiri Misa Kudus atau merayakan Ekaristi pada Hari Minggu. Ketidakhadiran dan kehadiran Tomas dalam pertemuan Yesus yang telah bangkit dengan murid-murid-Nya itu, menggambarkan situasi dan kondisi ketidakhadirian dan kehadiran umat kristiani dalam Gereja pada Hari Minggu sebagai tempat di mana kita bersama-sama bertemu dengan Kristus di zaman kita sekarang ini.- Seperti dahulu Kristus sesudah bangkit bertemu dengan murid-murid-Nya, sekarang pun Kristus bertemu dengan kita murid-murid-Nya juga dalam perayaan Ekaristi pada Hari Minggu di dalam gereja. Seperti dahulu, dalam penampakan-Nya Yesus memberikan Roh Kudus dan damai kepada murid-murid-Nya dengan memperlihatkan tubuh-Nya, sekarang pun dalam penerimaan komuni kita ini ibaratnya juga meraba tubuh-Nya yang terluka namun telah bangkit kembali. Dan seperti pengalaman Tomas dahulu, dengan menerima Yesus dalam Ekaristi kita ini juga mengungkapkan iman kita kepada-Nya. Dengan demikian sejak waktu itu dalam bahasa agama kristiani istilah hari pertamamenjadi Hari Tuhan (Why 1:10), yang dalam bahasa Latin disebut Dies Dominica. Bahkan dalam bahasa Italia ‘Domenica’ berarti Hari Minggu.
Dalam Injil Johannes diceriterakan, bahwa ketika Yesus menampakkan diri, “murid-murid itu bersukacita ketika melihat Tuhan” (Yoh 20:20). Maka dengan demikian seperti pada Hari Paskah Kedua ini, setiap Hari Minggu sebaiknya kita lihat dan kita hayati sebagai ‘Hari Paskah Ulang’ atau ‘Hari Paskah Mingguan’, ‘Hari Sukacita’. Dengan demikian kita akan makin menyadari dan makin bersyukur kepada Tuhan, apabila kita pada Hari Minggu pergi ke gereja. Mengapa? Karena kita datang untuk bergembira karena dapat bertemu dengan Yesus bersama dengan umat sesama kita, seperti dialami oleh Tomas dengan murid-murid Yesus lainnya! Bertemu dengan Yesus dalam gereja pada Hari Minggu harus sungguh kita lihat dan kita rasakan sebagai sumber rasa syukur dan kegembiraan sejati! Bagi setiap orang katolik sejati, liturgi perayaan Ekaristi adalah ungkapan otentik makna Hari Minggu yang sangat mendalam!
Pada awal akhir abad ketiga dan awal abad keempat di daerah Afrika Utara terjadilah penganiayaan umat kristiani di bawah pemerintahan Romawi. Dalam zaman itu tersimpanlah suatu ungkapan kepercayaan para martir pada waktu itu yang berbunyi: “Umat kristiani tidak dapat hidup tanpa Ekaristi, dan Ekaristi tidak bisa ada tanpa umat kristiani. Ekaristi adalah harapan dan keselamatan umat kristiani”. Ibaratnya, dengan bahasa lain para martir itu berkata, bahwa mereka tidak dapat hidup tanpa Hari Minggu, yang adalah Hari Tuhan. Dan Hari Tuhan itu pada dasarnya adalah “Santapan Tuhan”, atau adalah perayaan Ekaristi. Kita tidak dapat hidup sebagai murid Yesus tanpa merayakan Hari Minggu, yaitu Hari Tuhan, yang tak lain tak bukan adalah perayaan Ekaristi.
Paus Johannes Paulus, yang hari ini, 27 April 2014 bersama dengan Paus Johanes XXIII akan disahkan oleh Paus Fransiskus menjadi Santo di Roma menegaskan, bahwa mengambil bagian dalam Ekaristi harus merupakan pusat atau intisari makna Hari Minggu bagi setiap orang yang sudah dibaptis. Ke gereja pada Hari Minggu adalah suatu kewajiban dasar, yang harus ditaati bukan sekadar untuk memenuhi suatu perintah, melainkan sebagai sesuatu, yang harus dipahami dan dirasakan sebagai tugas hakiki untuk dapat menghayati hidup kristiani, yang sungguh benar dan terpelihara.
Setiap umat Katolik, bila pulang dari gereja untuk menghadiri Misa Kudus pada Hari Minggu, harus memiliki perasaan, seperti dikatakan oleh Rasul Petrus, bahwa kita ini telah: “dilahirkan kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati” (1 Ptr 1:3). Dengan demikian setiap Hari Minggu memiliki warna Paskah, hari gembira, sebab Hari Minggu adalah Hari Tuhan, di mana kita bertemu dengan Tuhan yang telah bangkit kembali. Bagi kita sebagai umat beriman , Hari Minggu bukan pertama-tama merupakan hari beristirahat, tetapi terutama sebagai hari di mana kita harus bersyukur, bergembira bertemu dengan Penebus kita, khususnya dalam menerima Dia dalam Ekaristi.
Marilah kita secara khusus juga bersyukur dan bergembira, karena pada hari ini Paus Beato Johanes XXIII dan Paus Beato Johanes Paulus II, diakui Gereja sebagai Santo-Santo untuk zaman kita dewasa ini.
Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm
kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

buku Katekese terbaru dari Mgr. FX. Hadisumarta. O.Carm