PENGANTAR
Bacaan II dan Injil untuk hari ini adalah karangan St.Yohanes, Penulis Injil. Kata-kata Yesus dalam Injil itu diucapkan-Nya dalam Perjamuan Malam Terakhir. Yesus menunjukkan roti dan anggur sebagai tubuh-Nya sendiri kepada para murid-Nya. Ia ingin supaya murid-murid-Nya saling mengasihi seperti Ia mengasihi mereka. Dan dalam Bacaan II Yohanes menegaskan, bahwa Allah adalah kasih. “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih”(1 Yoh 4:8). Marilah kita mendengar kan sabda Allah bukan hanya dengan pendengaran telinga kita, tetapi sekaligus dengan pendengaran hati kita yang terbuka, dan peka terhadap kasih-Nya.
HOMILI
Sebagai seorang murid, Yohanes dalam usia lanjutnya menerangkan kepada kita dalam surat dan Injilnya apa artinya menjadi murid Yesus yang sebenarnya. Kita pun secara resmi disebut murid Yesus Kristus, sebab kita telah dibaptis menjadi orang kristiani, menjadi murid Yesus, menjadi pengikut Kristus. Apa arti panggilan kita sebagai sahabat Yesus?
Menjadi murid Yesus tak lain tak bukan berarti mengenal Dia, seperti kita jumpai di dalam Kitab Suci. Dalam Kitab Suci Yesus memperkenalkan Allah kepada kita bukan sebagai Allah yang jauh dan tak terhampiri, melainkan sebagai Yesus dari Nasaret, yang diutus Bapa-Nya memperlihatkan diri-Nya sebagai seorang Bapa, yang sungguh memperhatikan dan terutama mau menyelamatkan umat manusia.
Di samping Yohanes, ketiga penulis Injil lainnya: Markus, Matius dan Lukas, berceritera tentang pribadi, pewartaan dan perbuatan Yesus. Memang masing-masing menurut caranya sendiri, namun dengan tujuan yang sama: mewartakan kasih Allah Bapa kepada kita tanpa batas. Yohanes mengatakan bahwa Yesus adalah seorang Gembala yang baik dan berkata: “Aku datang, supaya mereka(yaitu kita!) mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10).
Dalam Injil hari ini kita mendengarkan kata-kata Yesus, yang begitu berharga dan merupakan sumber kebahagiaan kita sebagai murid-Nya: “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” (Yoh 15:15). Betapa menggembirakan dan membanggakan kita dianggap sahabat oleh Yesus sendiri, Putera Allah Bapa! Tetapi juga betapa kuat serta mulia perintah-Nya kepada kita, yaitu supaya kita sungguh mau hidup bersama dengan sesama kita sebagai sahabat! Tuhan menganggap kita sebagai sahabat-Nya, kita dijadikan sahabat-Nya. Dia adalah teladan hidup kita bersama orang lain sebagai sahabat. Persahabatan atas dasar kasih: inilah kiranya pesan Bacaan-Bacaan hari ini untuk kita!
Ada dua unsur hakiki yang merupakan ciri khas persahabatan sejati. Unsur pertama ialah, bahwa di antara sahabat tidak ada rahasia. Buktinya, Kristus mengatakan kepada kita segala sesuatu yang didengarkan dari Bapa-Nya. Ia mempunyai kepercayaan sepenuhnya kepada kita. Kedua, Ia telah memperlihatkan wajah-Nya dan isi hati-Nya sendiri sepenuhnya kepada kita, tiada yang disembunyikan. Akhirnya sebagai gabungan kedua unsur itu, Yesus memperlihatkan kelembutan hati dan kasih-Nya yang berkobar-kobar kepada kita, yang dihayati-Nya sepenuhnya sampai luar batas, yakni di kayu salib!
Pesan Injil kepada kita hari ini ialah: kita harus sungguh menganggap dan bersikap serta bertindak kepada sesama kita, siapapun juga, sebagai sahabat sejati. Kesungguhan atau otensitas penghayatan kasih kita kepada sesama menurut perintah Kristus akan dipakai sebagai ukuran untuk menentukan apa yang benar dan apa yang palsu, di antara kesungguhan dan penipuan atau kebohongan hidup kita sebagai murid Yesus sejati. Kita hanyalah sungguh murid Yesus, kalau kita sungguh menjadi sahabat-Nya. Dan kita hanya sungguh menjadi murid-Nya, menjadi manusia kristiani sejati sebagai sahabat, apabila kita mengasihi sesama kita, seperti Kristus telah mengasihi kita sebagai sahabat-Nya!
Jakarta, 12 Mei 2012
Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.
kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm