KITAB SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja Katolik |
|
|
Katekismus Gereja Katolik
| 1149. | Agama-agama besar umat manusia sering kali memberi kesaksian dengan sangat mengesankan mengenai arti ritus religius yang kosmis dan simbolik ini. Liturgi Gereja membutuhkan, mengintegrasikan, dan menguduskan unsur-unsur ciptaan dan kebudayaan manusia, dengan memberikan kepadanya martabat tanda-tanda rahmat, penciptaan baru dalam Yesus Kristus.
| | 1150. | Tanda-tanda perjanjian. Bangsa terpilih menerima dari Allah tanda-tanda dan lambang-lambang khusus, yang menandakan kehidupan liturginya. Mereka bukan lagi hanya gambaran tentang peraturan dalam kosmos dan bukan lagi hanya isyarat-isyarat sosial, melainkan tanda-tanda perjanjian dan lambang karya agung Allah untuk umat-Nya. Penyunatan, pengurapan, dan penahbisan para raja dan para imam, peletakan tangan, persembahan, dan terutama Paska, termasuk tanda-tlanda liturgis Perjanjian Lama ini. Gereja melihat di dalam tanda-tanda ini pratanda Sakramen-sakramen Perjanjian Baru.
| | 1151. | Tanda-tanda yang diangkat oleh Kristus. Dalam khotbah-khotbah-Nya Yesus Tuhan sering memakai tanda-tanda dari ciptaan, guna menjelaskan misteri Kerajaan Allah. Bdk. Luk 8:10. Ia menyembuhkan orang dan menopang ajaran-Nya melalui tanda yang kelihatan atau gerakan simbolik. Bdk. Yoh 9:6; Mrk 7:33-35; 8:22-25. Ia memberikan kepada peristiwa-peristiwa dan tanda-tanda Perjanjian Lama, terutama keluaran dari Mesir dan Paska, Bdk. Luk 9:31; 22:7-20. satu arti baru, karena Ia sendiri adalah arti dari semua lambang ini.
| | 1152. | Tanda-tanda sakramental. Sejak Pentekosta, Roh Kudus menguduskan dunia melalui tanda-tanda sakramental Gereja-Nya. Sakramen-sakramen Gereja tidak menghapus seluruh kekayaan tanda dan lambang kosmos dan kehidupan sosial, tetapi menyucikan dan mengintegrasikannya. Sekaligus mereka memenuhi apa yang Perjanjian Lama nyatakan lebih dahulu. Mereka melambangkan dan melaksanakan keselamatan yang diperoleh Kristus, mereka menggambarkan lebih dahulu kemuliaan surga dan dalam arti tertentu mengantisipasinya.
| | 1153. | Perayaan sebuah Sakramen adalah pertemuan anak-anak Allah dengan Bapanya di dalam Kristus dan Roh Kudus. Pertemuan itu merupakan dialog dan mendapat perwujudannya dalam perbuatan dan perkataan. Memang kegiatan liturgi dengan sendirinya sudah merupakan satu bahasa, tetapi Sabda Allah dan jawaban iman harus mengiringi dan menghidupkan kegiatan ini, supaya Sabda tentang Kerajaan Allah lebih dapat menghasilkan buah di tanah yang baik. Kegiatan liturgi menyatakan melalui tanda-tanda, apa yang Sabda Allah ungkapkan: penawaran rahmat Allah dan serentak jawaban iman umat-Nya.
| | 1154. | Ibadat Sabda merupakan bagian yang mutlak perlu dalam perayaan sakramental. Untuk membangkitkan iman umat beriman, tanda-tanda yang mengiringi Sabda Allah, diperjelas: Kitab Suci (buku bacaan atau buku Injil), penghormatannya (arak-arakan, dupa, terang), tempat pewartaan (ambo), pembacaannya yang harus didengarkan dan dimengerti dengan baik, homili yang disampaikan pejabat, yang menjelaskan lebih lanjut isi pewartaan, demikian pula jawaban umat yang hadir (seperti aklamasi, mazmur, litani dan pengakuan iman).
| | 1155. | Perkataan liturgi dan perbuatan liturgi sebagai pengajaran dan tanda tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain; juga sebagai perwujudan dari apa yang mereka artikan, mereka tidak terpisahkan. Roh Kudus tidak hanya menuntun menuju pengertian akan Sabda Allah, dengan membangkitkan iman, tetapi melalui Sakramen-sakramen Ia juga mewujudkan karya-karya agung Allah, yang diwartakan Sabda Allah. Ia menghadirkan dan menyampaikan pekerjaan, yang Bapa telah selesaikan melalui Putera-Nya yang kekasih.
| | 1156. | "Tradisi musik Gereja semesta merupakan kekayaan yang tak terperikan nilainya, lebih gemilang dari ungkapan-ungkapan seni lainnya, terutama karena nyanyian suci yang terikat pada kata-kata merupakan bagian Liturgi meriah yang penting atau integral" (SC 112). Syair-syair dan nyanyian mazmur-mazmur yang diilhami yang sering diiringi oleh alat-alat sudah berkaitan erat dengan perayaan liturgi dalam Pedanjian Lama. Gereja melanjutkan tradisi ini dan mengembangkannya: "Berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian, dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati" (Ef 5:19) Bdk. Kol 3:16-17.. "Yang bermadah, berdoa ganda" Bdk. Agustinus, Psal. 72, 1.
| | 1157. | Lagu dan musik memenuhi fungsinya sebagai tanda semakin baik,"sejauh ia semakin erat dihubungkan dengan kegiatan liturgi" (SC 112). Untuk itu perlu diperhatikan tiga butir berikut ini: keindahan ungkapan doa, keikutsertaan jemaat yang serasi pada waktu yang sudah ditentukan, dan sifat perayaan yang semarak. Dengan demikian nyanyian dan musik melayani tujuan dari perkataan dan kegiatan liturgi: pemuliaan Allah dan pengudusan umat beriman Bdk. SC 11 2.?
"Betapa aku menangis karena madah dan nyanyianmu, sangat terharu oleh suara yang merdu dalam gerejamu! Suara-suara itu masuk ke dalam telingaku dan meneteskan kebenaran ke dalam hatiku; perasaan-perasaan saleh bergelora di dalamnya, air mataku mengalir, dan aku memperoleh kepuasan hati yang sejati" (Agustinus,. conf. 9,6,14).
| | 1158. | Keserasian tanda-tanda (nyanyian, musik, perkataan, dan kegiatan) akan makin berarti dan berhasil, kalau mereka sernakin dikembangkan dalam kekayaan kebudayaan Umat Allah yang merayakannya Bdk SC 119.. Karena itu, "nyanyian rohani umat hendaknya dikembangkan secara ahli, sehingga kaum beriman dapat bernyanyi dalam kegiatan-kegiatan devosional dan perayaan-perayaan ibadat, menurut kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan rubrik" (SC 118). Tetapi "syair-syair bagi nyanyian liturgi hendaknya selaras dengan ajaran Katolik, bahkan terutama hendaklah ditimba dari Kitab Suci dan sumber-sumber liturgi" (SC 121).
| | 1159. | Gambar kudus, ikon liturgi, menampilkan Kristus pada tempat yang pertama. Ia tidak dapat menggambarkan Allah yang tidak kelihatan dan tidak dapat dimengerti. Inkarnasi Putera Allah telah membuka satu tata gambar baru:
"Pada mulanya Allah, yang bukan badan, bukan juga rupa, tidak dapat dilukiskan sama sekali melalui gambar. Tetapi sekarang, setelah ia kelihatan dalam daging dan hidup, bersama manusia, saya dapat membuat satu gambar dari apa yang saya lihat dari Allah. Kita memandang kemuliaan Tuhan dengan wajah tak terselubung" (Yohanes dari Damasku, imag. 1,16).
| | 1160. | Ikonografi Kristen menampilkan Injil melalui gambar, sama seperti Kitab Suci menyampaikannya melalui sabda. Gambar dan sabda saling menjelaskan:
"Singkatnya, kita mempertahankan segala tradisi Gereja, apakah itu disampaikan kepada kita secara tertulis atau lisan, tanpa merusakkannya dengan pembaharuan. Salah satu tradisi ini adalah lukisan ikon. Karena ia sesuai dengan pewartaan Injil, maka ia berguna bagi kita, untuk memperkuat iman kepada inkarnasi Sabda Allah yang sebenarnya dan bukan khayalan dan untuk menghasilkan keuntungan besar bagi kita. Karena hal-hal yany saling menjelaskan itu... rupa-rupanya mempunyai arti yang sama" (Konsili Nisea II. 787: COD 111).
| | 1161. | Semua tanda dari perayaan liturgi menunjuk kepada Kristus, demikian juga, gambar-gambar Bunda Allah tersuci dan para kudus. Mereka adalah tanda tentang Kristus, yang dimuliakan dalam mereka. Di dalam mereka, kita memandang "jumlah besar saksi-saksi" (Ibr 12:1), yang masih tetap memperhatikan keselamatan dunia, dan bersama siapa kita disatukan, terutama dalam perayaan sakramental. Melalui ikon-ikon iman kita melihat manusia yang "diciptakan menurut citra Allah", dan diubah Bdk. Rm 8:29; 1 Yoh 3:2. menjadi serupa dengan Allah, dan malahan para malaikat, yang juga dihimpun di bawah Kristus, Kepala.
"Sambil mengikuti ajaran bapa-bapa suci kita yang mewartakan Allah dan tradisi Gereja Katolik - karena kami tahu bahwa ia berasal dari Roh Kudus yang hidup di dalamnya - kami memutuskan untuk memasang dengan segala ketelitian dan sikap hati-hati, di dalam gereja-gereja Allah yang kudus, di atas perabot-perabot dan pakaian yang kudus, dinding dan papan, rumah dan jalan, demikian juga penempatan salib yang bernilai dan yang membawa kehidupan, memasang gambar-gambar yang patut dimuliakan dan kudus - biar dari cat, batu, atau salah satu bahan yang sesuai - [ini berlaku juga] untuk gambar Tuhan Allah dan Penebus kita Yesus Kristus, Bunda kita yang tak bemoda dan suci yang melahirkan Allah, para malaikat yang patut dihormati dan segala orang kudus dan saleh" (Konsili Nisea II: DS 600).
| << >>
|