KITAB SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja Katolik |
|
|
Katekismus Gereja Katolik
| 1006. | "Di hadapan mautlah teka-teki kenyataan manusia mencapai puncaknya" (GS 18). Dalam arti tertentu kematian badani itu sifatnya alami; tetapi untuk iman, itu adalah "upah dosa" (Rm 6:23) Bdk. Kej 2:17.. Dan untuk mereka yang mati dalam rahmat Kristus, kematian adalah "keikut-sertaan" dalam kematian Kristus, supaya dapat juga mengambil bagian dalam kebangkitan-Nya Bdk. Rm 6:3-9; Flp 3:10-11.
| | 1007. | Kematian adalah akhir kehidupan duniawi. Kehidupan kita berlangsung selama waktu tertentu, dan di dalam peredarannya kita berubah dan menjadi tua. Kematian kita, seperti pada semua makhluk hidup di dunia ini, adalah berakhirnya kehidupan alami. Aspek kematian ini memberi kepada kehidupan kita sesuatu yang mendesak: keyakinan akan kefanaan dapat mengingatkan kita bahwa untuk menjalankan kehidupan kita, hanya tersedia bagi kita suatu jangka waktu terbatas
"Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu... sebelum debu kembali menjadi tanah seperti semula, dan napas kembali kepada Allah, yang mengaruniakannya" (Pkh 12:1.7).
| | 1008. | Kematian adalah akibat dosa. Sebagai penafsir otentik atas pernyataan Kitab Suci Bdk. Kej 2:17; 3:3; 3:19; Keb 1:13; Rm 5:12; 6:23. dan tradisi, magisterium Gereja mengajarkan bahwa kematian telah masuk ke dalam dunia, karena manusia telah berdosa Bdk. DS 1511.. Walaupun manusia mempunyai kodrat yang dapat mati, namun Pencipta menentukan supaya ia tidak mati. Dengan demikian kematian bertentangan dengan keputusan Allah Pencipta. Kematian masuk ke dunia sebagai akibat dosa Bdk. Keb 2:23-24.. "Kematian badan, yang dapat dihindari seandainya manusia tidak berdosa" (GS 18), adalah "musuh terakhir" manusia yang harus dikalahkan Bdk. 1 Kor 15:26.
| | 1009. | Kematian telah diubah Kristus. Juga Yesus, Putera Allah, telah mengalami kematian, yang termasuk bagian dari eksistensi manusia. Walaupun Ia merasa takut akan maut Bdk. Mrk 14:33-34; Ibr 5:7-8., namun Ia menerimanya dalam ketaatan bebas kepada kehendak Bapa-Nya. Ketaatan Yesus telah mengubah kutukan kematian menjadi berkat Bdk. Rm 5:19-21.
| | 1010. | Oleh Kristus kematian Kristen mempunyai arti positif. "Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan" (Flp 1:21). "Benarlah perkataan ini: jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia" (2 Tim 2:11). Aspek yang sungguh baru pada kematian Kristen terdapat di dalam hal ini: Oleh Pembaptisan warga Kristen secara sakramental sudah "mati bersama Kristus", supaya dapat menghidupi satu kehidupan baru. Kalau kita mati dalam rahmat Kristus, maka kematian badani menyelesaikan "mati bersama Kristus" ini dan dengan demikian melaksanakan secara definitif penggabungan kita dalam Dia oleh karya penebusan-Nya:
"Lebih baiklah bagiku untuk mati karena Kristus, daripada hidup sebagai raja atas segala ujung bumi. Aku mencari Dia, yang wafat untuk kita; aku menghendaki Dia, yang bangkit demi kita. Kelahiran aku nantikan... biarlah aku menerima sinar yang cerah. Setelah tiba di sana, aku akan menjadi manusia" (Ignasius dari Antiokia, Rom 6,1-2).
| | 1011. | Dalam kematian, Allah memanggil manusia kepada diri-Nya. Karena itu, seperti Paulus, warga Kristen dapat merindukan kematian: "Aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus" (Flp 1:23). Dan ia dapat mengubah kematiannya menjadi perbuatan ketaatan dan cinta kepada Bapa, sesuai dengan contoh Kristus Bdk. Luk 23:46.
"Kerinduan duniawiku sudah disalibkan... Di dalam aku ada air yang hidup dan berbicara, yang berbisik dan berkata kepada aku: Mari menuju Bapa" (Ignasius dari Antiokia, Rom 7,2).
"Aku hendak melihat Allah, dan untuk melihat Dia, orang harus mati" (Teresia dari Yesus. vida 1).
"Aku tidak mati; aku masuk ke dalam kehidupan" (Teresia dari Anak Yesus, verba).
| | 1012. | Pandangan Kristen mengenai kematian Bdk. 1 Tes 4:13-14. dilukiskan dengan sangat bagus dalam liturgi Gereja:
"Bagi umat beriman-Mu, ya Tuhan, hidup hanyalah diubah, bukannya dilenyapkan. Dan sesudah roboh rumah kami di dunia ini, akan tersedia bagi kami kediaman abadi di surga" (MR, Prefasi Arwah).
| | 1013. | Kematian adalah titik akhir penziarahan manusia di dunia, titik akhir dari masa rahmat dan belas kasihan, yang Allah berikan kepadanya, supaya melewati kehidupan dunia ini sesuai dengan rencana Allah dan dengan demikian menentukan nasibnya yang terakhir. "Apabila jalan hidup duniawi kita yang satu-satunya sudah berakhir" (LG 48), kita tidak kembali lagi, untuk hidup beberapa kali lagi di dunia. "Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja dan sesudah itu dihakimi" (Ibr 9:27). Sesudah kematian tidak ada "reinkarnasi".
| | 1014. | Gereja mengajak kita, supaya kita mempersiapkan diri menghadapi saat kematian ("Luputkanlah kami dari kematian yang mendadak ya Tuhan" - Litani semua orang kudus), supaya mohon kepada Bunda Allah agar ia mendoakan kita "pada waktu kita mati" (doa "Salam Maria") dan mempercayakan diri kepada santo Yosef, pelindung orang-orang yang menghadapi kematian:
"Dalam segala perbuatanmu, dalam segala pikiranmu, hendaklah kamu bertindak seakan-akan hari ini kamu akan mati. Jika kamu mempunyai hati nurani yang bersih, kamu tidak akan terlalu takut mati. Lebih baik menjauhkan diri dari dosa, daripada menghindari kematian. Jika hari ini kamu tidak siap, apakah besok kamu akan siap?" (Mengikuti Jejak Kristus 1,23, 1).
"Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena saudari kami, Maut Jasmani darinya tiada insan hidup terlepas.Malanglah yang mati dalam dosa. Bahagialah yang didapati dalam kehendak suci-Mu,maut kedua takan mencelakakannya" (Fransiskus dari Asisi Gita Sang Surya).
| | 1015. | "Caro salutis est cardo - daging adalah poros keselamatan" (Tertulianus, res.8,2). Kita percaya akan Allah, Pencipta daging; kita percaya akan Sabda, yang sudah menjadi daging, supaya menebus daging; kita percaya akan kebangkitan daging, di mana penciptaan dan penebusan daging disempurnakan.
| | 1016. | Oleh kematian, jiwa dipisahkan dari badan; tetapi dalam kebangkitan, Allah akan memberi kehidupan abadi kepada badan yang telah diubah, dengan mempersatukannya kembali dengan jiwa kita. Seperti Kristus telah bangkit dan hidup untuk selamanya, demikian juga kita semua akan bangkit pada hari kiamat.
| | 1017. | "Kami percaya akan kebangkitan yang sesungguhnya dari daging ini, yang sekarang kita miliki" (DS 854). Tubuh yang dapat binasa ditaburkan dalam makam, tubuh yang tidak dapat binasa akan dibangkitkan Bdk. I Kor 15:42., satu "tubuh rohani" (1 Kor 15:44).
| | 1018. | Sebagai akibat dosa asal, manusia harus mengalami kematian badani "yang darinya manusia akan lolos, andai kata ia tidak berdosa" (GS 18).
| | 1019. | Yesus, Putera Allah, telah menderita kematian untuk kita secara suka rela dalam ketaatan penuh dan bebas kepada kehendak Allah, Bapa-Nya. Oleh kematian-Nya Ia mengalahkan maut dan dengan demikian membuka pintu masuk menuju keselamatan untuk semua manusia.
| << >>
|