KITAB SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja Katolik |
|
|
Katekismus Gereja Katolik
| 1082. | Dalam liturgi Gereja, berkat Allah dinyatakan dan dibagikan secara sempurna: Bapa diakui dan disembah sebagai asal dan tujuan segala berkat dalam tata ciptaan dan tata keselamatan; dalam Sabda-Nya yang menjadi manusia, yang mati untuk kita dan bangkit lagi Ia menyelubungi kita dengan berkat-berkat-Nya. Melalui Sabda-Nya Ia meletakkan di dalam hati kita anugerah di atas segala anugerah, yakni Roh Kudus.
| | 1083. | Oleh sebab itu, kita dapat mengerti dimensi ganda liturgi Kristen sebagai jawaban iman dan cinta atas berkat-berkat rohani, yang Bapa hadiahkan kepada kita. Disatukan dengan Tuhannya dan "dipenuhi oleh Roh Kudus" (Luk 10:21 ), Gereja itu di satu pihak berterima kasih kepada Bapa "karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu" (2 Kor 9:15) dalam sembah sujud, pujian dan syukur. Di lain pihak sampai kepada kepenuhan rencana keselamatan Allah, Gereja tidak henti-hentinya mempersembahkan kepada Bapa "persembahan anugerah-anugerah-Nya" dan mohon kepada-Nya, supaya mengutus Roh Kudus ke atas kurban, Gereja, umat beriman, dan ke atas seluruh dunia, supaya melalui persekutuan dengan kematian dan kebangkitan Kristus, Imam Agung, dan melalui kekuasaan Roh, berkat-berkat ilahi ini menghasilkan buah yang hidup, supaya "terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia" (Ef 1:6).
| | 1084. | Kristus, yang duduk di sebelah kanan Bapa dan yang mencurahkan Roh Kudus di dalam Tubuh-Nya, Gereja, kini bertindak melalui Sakramen-sakramen, yang Ia tetapkan untuk membagi-bagikan rahmat-Nya. Sakramen-sakramen adalah tanda-tanda (kata-kata dan tindakan) yang dapat ditangkap oleh panca indera, yang terjangkau untuk kodrat manusia. Berkat karya Kristus dan kuasa Roh Kudus, mereka menghasilkan rahmat yang mereka tandakan.
| | 1085. | Di dalam liturgi Gereja, Kristus menyatakan dan melaksanakan misteri Paska-Nya. Selama hidup-Nya di dunia Yesus menyatakan dalam ajaran-Nya misteri Paska dan mengantisipasinya dalam tindakan-Nya. Dan setelah saat-Nya tiba Bdk. Yoh 13:1; 17:1., ia mengalami peristiwa sejarah satu-satunya yang tidak akan hilang: Yesus wafat "satu kali dan untuk selama-lamanya" (Rm 6:10; Ibr 7:27; 9:12), dimakamkan, dibangkitkan dari antara orang mati, dan duduk di sebelah kanan Bapa. Peristiwa yang sungguh terjadi dalam sejarah kita ini, bersifat unik: semua peristiwa yang lain terjadi satu kali, lantas berlalu, terbenam dalam masa lampau. Sebaliknya misteri Paska Kristus tidak dapat tinggal dalam masa lampau, karena oleh kematian-Nya Ia mengalahkan maut. Segala sesuatu yang ada pada Kristus dan segala sesuatu yang Ia lakukan dan derita untuk semua manusia, mengambil bagian dalam keabadian Allah, dengan demikian mengatasi segala zaman dan hadir di dalamnya. Peristiwa salib dan kebangkitan adalah sesuatu yang tetap dan menarik segala sesuatu menuju kehidupan.
| | 1086. | "Seperti Kristus diutus oleh Bapa, begitu pula Ia mengutus para Rasul yang dipenuhi Roh Kudus. Mereka itu diutus bukan hanya untuk mewartakan Injil kepada semua makhluk, dan memberitakan bahwa Putera Allah dengan wafat dan kebangkitan-Nya telah membebaskan kita dari kuasa setan dan maut, dan telah memindahkan kita ke Kerajaan Bapa; melainkan juga untuk mewujudkan karya keselamatan yang mereka wartakan itu melalui kurban dan Sakramen-sakramen, sebagai pusat seluruh hidup liturgis" (SC 6).
| | 1087. | Ketika Kristus yang bangkit memberikan Roh Kudus kepada para Rasul, Ia mempercayakan wewenang pengudusan-Nya kepada mereka Bdk. Yoh 20:21-23.: para Rasul menjadi tanda sakramental Kristus. Berkat kekuatan Roh Kudus yang sama, mereka menyerahkan wewenang pengudusan itu kepada pengganti-penggantinya. "Suksesi apostolik" ini membentuk seluruh kehidupan liturgi Gereja. Suksesi itu bersifat sakramental dan dilanjutkan melalui Sakramen Tahbisan.
| << >>
|