KITAB SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja Katolik |
|
|
Katekismus Gereja Katolik
| 141. | "Kitab-kitab ilahi seperti juga - Tubuh Tuhan sendiri selalu dihormati oleh Gereja" (DV 21). Kedua-duanya memelihara dan mengarahkan seluruh kehidupan Kristen. "Firman-Mu adalah pelita bagi kakiku, terang untuk menerangi jalanku " (Mzm 119:105) Bdk. Yes 50:4.
| | 142. | Melalui wahyu-Nya, "Allah yang tidak kelihatan (lih. Kol 1:15; 1 Tim 1:17) dari kelimpahan cinta kasih-Nya menyapa manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya (lih. Kel 33:11; Yoh 15:14-15), dan bergaul dengan mereka (lih. Bar 3:38), untuk mengundang mereka ke dalam persekutuan dengan diri-Nya dan menyambut mereka di dalamnya" (DV 2). Jawaban yang pantas untuk undangan itu ialah iman.
| | 143. | Melalui iman, manusia menaklukkan seluruh pikiran dan kehendaknya kepada Allah. Dengan segenap pribadinya manusia menyetujui Allah yang mewahyakan Diri Bdk. DV 5.. Kitab Suci menamakan jawaban manusia atas undangan Tuhan yang mewahyukan Diri itu "ketaatan iman" Bdk. Rm 1:5; 16:26.
| | 144. | Taat [ob-audire] dalam iman berarti menaklukkan diri dengan sukarela kepada Sabda yang didengar, karena kebenarannya sudah dijamin oleh Allah, yang adalah kebenaran itu sendiri. Sebagai contoh ketaatan ini Kitab Suci menempatkan Abraham di depan kita. Perawan Maria melaksanakannya atas cara yang paling sempurna.
| | 145. | Dalam pidato pujian mengenai iman para leluhur, surat Ibrani menonjolkan terutama iman Abraham: "Karena iman, Abraham taat ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui" (Ibr 11:8) Bdk. Kej 12:14.. Karena beriman, maka Abraham tinggal sebagai orang asing di negeri yang dijanjikan Allah kepadanya Bdk. Kej 23:4.. Karena beriman, maka Sara mengandung seorang putera yang dijanjikan. Karena beriman, maka Abraham mempersembahkan puteranya yang tunggal sebagai kurban Bdk. Ibr 11:7.
| | 146. | Dengan demikian Abraham meragakan definisi iman yang diajukan oleh surat Ibrani: "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibr 11:1). "Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran" (Rm 4:3) Bdk. Kej 15:6.. Karena ia "percaya tanpa ragu-ragu" (Rm 4:20), maka Abraham "menjadi bapa secara rohani bagi semua orang yang percaya kepada Allah" (Rm 4:11) Bdk. Rm 4:18; Kej 15:5.
| | 147. | Dalam Perjanjian Lama terdapat banyak kesaksian iman semacam ini. Surat Ibrani menyampaikan pidato pujian tentang iman para leluhur yang patut dicontoh, iman yang membuat mereka tetap dikenang (Ibr 11:2) Bdk. Ibr 11:39.. Tetapi Allah telah "menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita" (Ibr 11:40): rahmat supaya beriman kepada Putera-Nya Yesus, "yang memimpin kita dalam iman dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan" (Ibr 12:2).
| | 148. | Perawan Maria menghayati ketaatan iman yang paling sempurna. Oleh karena ia percaya bahwa bagi Allah "tidak ada yang mustahil" (Luk 1:37) Bdk. Kej 18:14., maka ia menerima pemberitahuan dan janji yang disampaikan oleh malaikat dengan penuh iman dan memberikan persetujuannya: "Lihatlah, aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu" (Luk 1:38). Elisabeth memberi salam kepadanya: "Berbahagialah ia yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana" (Luk 1:45). Demi iman ini segala bangsa akan menyatakannya bahagia Bdk. Luk 1:48.
| | 149. | Selama seluruh kehidupannya juga dalam percobaannya yang terakhir Bdk. Luk 2:35., ketika Yesus, Puteranya, wafat di kayu salib, imannya tidak goyah. Maria tidak melepaskan imannya bahwa Sabda Allah "akan terpenuhi". Karena itu Gereja menghormati Maria sebagai tokoh iman yang paling murni.
| | 150. | Iman adalah ikatan pribadi manusia dengan Allah dan sekaligus, tidak terpisahkan dari itu, persetujuan secara bebas terhadap segala kebenaran yang diwahyukan Allah. Sebagai ikatan pribadi dengan Allah dan persetujuan terhadap kebenaran yang diwahyukan Allah, iman Kristen berbeda dengan kepercayaan yang diberikan kepada seorang manusia. Menyerahkan diri seluruhnya kepada Allah, dan mengimani secara absolut apa yang Ia katakan adalah tepat dan benar. Sebaliknya adalah sia-sia dan salah memberikan kepercayaan yang demikian itu kepada seorang makhluk Bdk. Yer 17:5-6; Mzm 40:5; 146:3-4.
| | 151. | Untuk seorang Kristen, iman akan Allah berhubungan erat dengan iman akan Dia, yang diutus-Nya, "Putera-Nya terkasih", yang berkenan kepada-Nya (Mrk 1:11) dan Dia yang harus kita dengarkan Bdk. Mrk 9:7.. Tuhan sendiri berkata kepada murid-murid-Nya: "Percayalah kepada Allah dan percayalah kepada-Ku juga" (Yoh 14:1). Kita dapat percaya kepada Yesus Kristus karena Ia sendiri Allah, Sabda yang menjadi manusia: "Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya" (Yoh 1:18). Karena Ia sudah "melihat Bapa" (Yoh 6:46), Ia adalah satu-satunya yang mengenal Bapa dan dapat mewahyukan-Nya Bdk. Mat 11:27.
| << >>
|