Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki,( 67, 834 / 883-901)
SEJARAH PAUS

Ensiklik & Surat Paus

Dokumen KV 2

No: masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak) 

Katekismus Gereja Katolik
Katekismus Gereja Katolik
www.imankatolik.or.id
Cari Kata dalam KGK
www.imankatolik.or.id
Nomor:
masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901
Kata:
masukkan kata yang akan dicari untuk
menunjukkan no. katekismus

1519.Upacara Sakramen mencakup unsur-unsur pokok berikut: "para penatua jemaat" (Yak 5:14) meletakkan tangan ke atas orang sakit dalam keadaan diam; dalam iman Gereja mereka berdoa bagi orang sakit Bdk. Yak 5:15. - inilah epiklese Sakramen ini. Sesudah itu mereka melakukan urapan dengan minyak, yang sedapat mungkin telah diberkati oleh Uskup.Kegiatan liturgi ini menunjukkan, rahmat apa yang diberikan oleh Sakramen kepada orang sakit.

1520.Satu anugerah khusus Roh Kudus. Rahmat pertama Sakramen ini ialah kekuatan, ketenangan, dan kebesaran hati untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan satu penyakit berat atau dengan kelemahan karena usia lanjut. Rahmat ini adalah anugerah Roh Kudus, yang membaharui harapan dan iman kepada Allah dan menguatkannya melawan godaan musuh yang jahat, melawan godaan untuk berkecil hati dan rasa takut akan kematian Bdk. Ibr 2:15.. Bantuan Tuhan melalui kekuatan Roh-Nya hendak membawa orang sakit menuju kesembuhan jiwa, tetapi juga menuju kesembuhan badan, kalau itu sesuai dengan kehendak Allah Bdk. Konsili Firense: DS 1325.. Dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni (Yak 5:15) Bdk. Konsili Trente: DS 1717.

1521.Persatuan dengan sengsara Kristus. Oleh rahmat Sakramen ini, orang sakit menerima kekuatan dan anugerah untuk mempersatukan diri lebih erat lagi dengan sengsara Tuhan. Ia seakan-akan ditahbiskan untuk menghasilkan buah melalui keserupaan dengan sengsara Juru Selamat yang menebus. Sengsara sebagai akibat dosa asal, mendapat satu arti baru: ia menjadi keikutsertaan dalam karya keselamatan Yesus.

1522.Rahmat Gerejani. Karena "secara bebas menggabungkan diri dengan sengsara dan wafat Kristus, maka orang-orang sakit memberi sumbangan bagi kesejahteraan umat Allah" (LG 11). Dalam upacara Urapan Orang Sakit, Gereja mendoakan orang sakit di dalam persekutuan para kudus. Sebaliknya orang sakit menyumbangkan melalui rahmat Sakramen demi pengudusan Gereja dan kesejahteraan semua orang, untuk siapa Gereja menderita dan menyerahkan diri kepada Allah Bapa melalui Kristus.

1523.Persiapan untuk perjalanan terakhir. Kalau Sakramen Urapan Orang Sakit diberikan kepada mereka yang menderita penyakit berat atau kelemahan, maka lebih lagi kepada mereka yang siap berpisah dari hidup ini (mereka yang "rasanya sudah berada di akhir hidup ini": Konsili Trente: DS 1698). Karena itu ia dinamakan juga "Sakramen orang yang menghadapi ajal" (ibid.). Urapan Orang Sakit membuat kita secara definitif serupa dengan kematian dan kebangkitan Kristus yang telah dimulai oleh Pembaptisan. Ia menyempurnakan urapan-urapan kudus yang membina seluruh hidup Kristen: urapan Pembaptisan mencurahkan hidup baru bagi kita; Penguatan meneguhkan kita untuk perjuangan hidup ini. Urapan terakhir ini membekali akhir hidup kita di dunia ini dengan satu tanggul kuat berhadapan dengan perjuangan perjuangan akhir sebelum masuk ke dalam rumah Bapa Bdk. Konsili Trente: DS 1694.

1524.Selain Urapan Orang Sakit, Gereja memberi Ekaristi kepada orang yang berada di ambang kematian, sebagai bekal perjalanan. Dalam saat peralihan ke rumah Bapa ini, persatuan dengan tubuh dan darah Kristus mempunyai arti dan kepentingan khusus. Ia adalah benih hidup abadi dan kekuatan untuk kebangkitan, karena Tuhan berkata: ""Barang siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman" (Yoh 6:54). Sebagai Sakramen kematian dan kebangkitan Kristus, maka sekarang Ekaristi merupakan Sakramen peralihan dari kematian menuju kehidupan, dari dunia ini menuju rumah Bapa ".

1525.Sebagaimana Sakramen-sakramen Pembaptisan, Penguatan, dan Ekaristi, yakni "Sakramen-sakramen inisiasi Kristen" membentuk satu kesatuan, dapat dikatakan bahwa pengakuan dosa, urapan kudus, dan Ekaristi sebagai bekal perjalanan pada akhir hidup Kristen, merupakan "Sakramen-sakramen yang menyiapkan untuk tanah air" atau "Sakramen-sakramen yang mengakhiri penziarahan ini".

1526."Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para panatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni " (Yak 5:14- 15).

1527.Sakramen Urapan Orang Sakit memberi rahmat khusus kepada orang Kristen yang menderita sakit berat atau yang mengalami kesulitan karena usia lanjut.

1528.Waktu yang tepat untuk menerima urapan kudus ini ialah selambat-lambatnya kalau orang berada dalam bahaya maut karena penyakit atau karena kelemahan yang berkaitan dengan usia lanjut.

1529.Seorang Kristen dapat menerima urapan kudus ini setiap kali apabila ia sakit berat, atau setiap kali apabila penyakit itu menjadi lebih parah.

1530.Hanya imam (presbiter atau Uskup) dapat menerimakan Urapan Orang Sakit; untuk itu mereka memakai minyak yang telah diberkati oleh Uskup, atau dalam keadaan darurat oleh selebran sendiri.

1531.Upacara Urapan Orang Sakit pada hakikatnya terdiri atas urapan dahi dan tangan orang sakit (dalam ritus Roma) atau bagian tubuh yang lain (dalam ritus Gereja-gereja Timur). Urapan ini diiringi oleh doa liturgi dari selebran yang memohon rahmat khusus Sakramen ini.

1532.Buah-buah rahmat khusus dari Sakramen Urapan Orang Sakit adalah:
? persatuan orang sakit dengan sengsara Kristus demi keselamatannya sendiri dan keselamatan Gereja;
? penghiburan, perdamaian, dan keberanian untuk menderita secara Kristen sengsara yang ditimbulkan oleh penyakit atau oleh usia lanjut;
? pengampunan dosa, apabila orang sakit tidak dapat menerimanya melalui Sakramen Pengakuan;
? penyembuhan, kalau ini berguna bagi keselamatan jiwa;
? persiapan untuk peralihan ke hidup abadi.

1533.Pembaptisan, Penguatan, dan Ekaristi adalah Sakramen-sakramen inisiasi Kristen. Mereka meletakkan dasar untuk panggilan bersama semua murid Kristus, yakni panggilan kepada kekudusan dan tugas untuk membawakan kabar gembira kepada dunia. Mereka memberi rahmat yang dibutuhkan, supaya hidup sesuai dengan Roh Kudus dalam hidup ini, dalam penziarahan menuju tanah air abadi. 1212

1534.Dua Sakramen yang lain, Tahbisan dan Perkawinan, diarahkan kepada keselamatan orang lain. Oleh pelayanan kepada orang lain mereka juga memberi sumbangan untuk keselamatan diri sendiri. Mereka memberikan satu perutusan khusus di dalam Gereja dan berguna untuk pembangunan umat Allah.

1535.Dalam Sakramen-sakramen ini orang-orang, yang oleh Pembaptisan dan Penguatan telah ditahbiskan dalam imamat bersama seluruh umat beriman Bdk. Yoh 13:1., dapat menerima tahbisan-tahbisan khusus. Barang siapa menerima Sakramen Tahbisan, ditahbiskan "untuk menggembalakan Gereja dengan sabda dan rahmat Allah" (LG 11). Juga pasangan suami isteri Kristen "dikuatkan dan bagaikan ditahbiskan untuk tugas kewajiban maupun martabat status hidup mereka dengan Sakramen yang khas" (GS 48,2).

1536.Tahbisan adalah Sakramen, yang olehnya perutusan yang dipercayakan Kristus kepada Rasul-rasul-Nya, dilanjutkan di dalam Gereja sampai akhir zaman. Dengan demikian ia adalah Sakramen pelayanan apostolik. Ia mencakup tiga tahap: episkopat, presbiterat dan diakonat.(Mengenai terbentuknya dan perutusan jabatan apostolik, lihat bagian satu. Di sini kita hanya berbicara tentang Sakramen, dengannya tugas ini dilanjutkan).

1537.Dalam kebudayaan Roma klasik, kata ordo dipakai untuk lembaga-lembaga sipil, terutama lembaga pemerintahan. "Ordinatio" berarti penggabungan di dalam sutu "ordo". Di dalam Gereja ada lembaga-lembaga, yang - berdasarkan Kitab Suci Bdk. Ibr 5:6; 7:11; Mzm 110:4. - oleh tradisi dinamakan sejak dulu kala "taxeis" dalam bahasa Yunani dan "ordines" dalam bahasa Latin. Dengan demikian liturgi berbicara mengenai "ordo episcoporum", "ordo presbyterorum", dan "ordo diaconorum". Juga kelompok-kelompok lain disebut "ordo", seperti para katekumen, para perawan, para suami-isteri, dan para janda.

1538.Penggabungan ke dalam salah satu golongan Gereja ini terjadi dalam satu ritus, yang dinamakan ordinatio, satu tindakan liturgis dan religius yang dapat merupakan satu tahbisan, satu pemberkatan, atau satu Sakramen. Sekarang ini kata "ordinatio" dikhususkan untuk tindakan sakramental yang menggabungkan seseorang ke dalam golongan para Uskup, imam, dan diaken. Ia melebihi satu pilihan biasa, satu penentuan, delegasi, atau pengangkatan oleh persekutuan, karena ia memberi anugerah Roh Kudus yang menyanggupkan untuk melaksanakan "kuasa kudus" [sacra potestas] Bdk. LG 10., yang hanya dapat diberikan oleh Kristus sendiri melalui Gereja-Nya. Ordinatio dinamakan juga "tahbisan" [consecratio], karena ia terdiri dari pemilihan dan pengangkatan yang dilakukan Kristus sendiri demi pelayanan dalam Gereja. Peletakan tangan oleh Uskup dan doa tahbisan merupakan tanda-tanda yang kelihatan dari konsekrasi ini.

1539.Umat terpilih dijadikan oleh Allah "kerajaan imam dan bangsa yang kudus" (Kel 19:6) Bdk. Yes 61:6.. Tetapi dalam umat Israel itu Allah memilih satu dari kedua belas suku, yakni suku Lewi dan memisahkannya untuk pelayanan liturgi Bdk. Bil 1:48-53.. Allah sendiri adalah warisan orang Lewi Bdk. Yos 13:33.. Imam-imam pertama Perjanjian Lama ditahbis, dalam satu ritus khusus Bdk. Kel 29:1-30; Im 8.." Mereka "ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya mempersembahkan persembahan dan kurban karena dosa" (Ibr 5:1).

1540.Namun imamat ini yang diciptakan untuk mewartakan Sabda Allah Bdk. Mal 2:7-9. dan untuk membangun persekutuan dengan Allah melalui kurban dan doa, tidak mampu mendatangkan keselamatan. Kurban itu harus diulangi terus-menerus dan tidak dapat mengakibatkan pengudusan secara definitif Bdk. Ibr 5:3; 7:27; 10:1-4.. Baru kurban Kristus menghasilkan pengudusan ini.

1541.Tetapi liturgi Gereja melihat di dalam imamat Harun dan dalam pelayanan Lewi serta dalam pengangkatan tujuh puluh orang "tua-tua bangsa" pratanda imamat Perjanjian Baru yang tertahbis. Dengan demikian Gereja berdoa dalam ritus Latin waktu Tahbisan Uskup dalam prefasi tahbisan:
"Allah dan Bapa Tuhan kami Yesus Kristus... dengan Sabda rahmat-Mu Engkau telah memberi kepada Gereja-Mu susunannya; sejak awal Engkau telah memilih umat kudus, yakni anak-anak Abraham yang benar; Engkau telah memilih pemuka dan imam dan tidak pernah membiarkan tempat kudus-Mu tanpa pelayan".

1542.Dalam Tahbisan Imam, Gereja Berdoa:
"Tuhan, Bapa yang kudus... dalam Perjanjian Lama Engkau telah mengembangkan tugsas dan pelayanan dalam tanda-tanda kudus: Musa dan Harun telah Engkau tetapkan untuk membimbing dan menguduskan umat-Mu. Engkau telah memilih orang-orang lain sesudah mereka dalam jabatan dan martabat yang sama guna membantu mereka dalam karyanya. Dalam perjalanan melintasi padang gurun Engkau telah membagi-bagikan kepada ketujuh puluh orang tua-tua roh Musa, sehingga dengan bantuannya mereka lebih mudah dapat mengantar umat-Mu. Kepada anak-anak Harun telah Engkau berikan bagian dalam tugas terhormat bapanya, supaya jumlah imam Perjanjian Lama cukup untuk kurban di dalam kemah kudus, yang hanya merupakan bayangan dan pratanda keselamatan yang akan datang".

1543.Dan dalam doa pentahbisan waktu Tahbisan diaken, Gereja mengakui:
"Allah yang Mahakuasa... untuk melayani nama-Mu Engkau telah mengadakan tiga bentuk tugas pelayanan dan telah melengkapinya dengan anugerah-anugerah kudus, sebagaimana pada awal mula Engkau telah memilih untuk diri-Mu anak-anak Lewi demi pelayanan pada kemah kudus yang pertama.

1544.Segala sesuatu yang dipratandai imamat Perjanjian Lama, menemukan penyelesaiannya dalam Yesus Kristus, yang adalah "pengantara antara Allah dan manusia" (1 Tim 2:5). Melkisedek, "imam Allah yang mahatinggi" (Kej 14:18), dipandang oleh tradisi Kristen sebagai "pratanda" imamat Kristus, "imam besar satu-satunya menurut peraturan Melkisedek" (Ibr 5:10; 6:20). Kristus itu "kudus, tanpa salah, tanpa noda" (Ibr 7:26), dan "oleh satu kurban saja... Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan" (Ibr 10:14), yaitu oleh kurban di salib-Nya, satu kali untuk selamanya.

1545.Kurban penebusan Kristus itu unik dan dilaksanakan satu kali untuk selama-lamanya. Walaupun demikian Ia hadir di dalam kurban Ekaristi Gereja. Demikian pun berlaku untuk imamat Kristus yang satu-satunya: Ia dihadirkan oleh imamat jabatan, tanpa karenanya menghilangkan keunikan imamat Kristus. "Dan karena itu, hanya Kristuslah imam yang benar, yang lain adalah pelayan-Nya" (Tomas Aqu., Hebr. 7,4).

1546.Kristus, Imam Agung dan Pengantara satu-satunya, telah membuat Gereja-Nya menjadi satu kerajaan, "menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya" (Why 1:6) Bdk. Why 5:9-10; 1 Ptr 2:5.9.. Dengan demikian seluruh persekutuan umat beriman adalah imami. Orang beriman sebagai orang yang dibaptis melaksanakan imamatnya dengan cara bahwa setiap orang sesuai dengan panggilannya ikut serta dalam perutusan Kristus, Imam, Nabi, dan Raja. Oleh Sakramen Pembaptisan dan Penguatan orang beriman "disucikan untuk menjadi... imamat suci" (LG 10).

1547.Imamat jabatan atau hierarkis para Uskup dan imam dan imamat bersama semua orang beriman "atas caranya yang khas mengambil bagian dalam imamat Kristus" dan "diarahkan satu kepada yang lain", walaupun "berbeda dalam kodratnya" (LG 10). Mengapa ? Sementara imamat bersama umat beriman terlaksana dalam pengembangan rahmat Pembaptisan; dalam penghayatan iman, harapan dan cinta; dalam hidup sesuai dengan Roh Kudus; imamat jabatan itu ada untuk melayani imamat bersama ini. Ia berhubungan dengan pengembangan rahmat Pembaptisan semua orang Kristen. Ia adalah salah satu sarana, yang olehnya Kristus secara berkesinambungan membangun dan membimbing Gereja-Nya. Oleh karena itu, ia diterimakan oleh suatu Sakramen tersendiri, oleh Sakramen Tahbisan.

1548.Kristus sendiri hadir dalam pelayanan gerejani dari imam yang ditahbiskan dalam Gereja-Nya sebagai Kepala Tubuh-Nya, Gembala kawanan-Nya, Imam Agung kurban penebusan, dan Guru kebenaran. Gereja menyatakan ini dengan berkata bahwa seorang imam, berkat Sakramen Tahbisan, bertindak "atas nama Kristus, Kepala" [in persona Christi capitis] Bdk. LG 10; 28; SC 33; CD 11; PO 2; 6.

"Inilah Imam yang sama, Yesus Kristus, yang pribadi kudus-Nya diwakili oleh pelayan yang dipanggil. Oleh tahbisan imam, ia menjadi serupa dengan Imam Agung; ia mempunyai wewenang, supaya bertindak dalam kekuatan dan sebagai pengganti pribadi Kristus sendiri [virtute ac persona ipsius Christi]" (Pius XII, Ens. "Mediator Dei").

"Kristus adalah sumber setiap imamat; karena imam Hukum [Lama] adalah citranya. Tetapi imam Perjanjian Baru bertindak atas nama Kristus" (Tomas Aqu., s.th. 3,22,4).

<<   >>