KITAB SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja Katolik |
|
|
Katekismus Gereja Katolik
| 154. | Hanya dengan bantuan rahmat dan pertolongan batin Roh Kudus, manusia mampu percaya. Walaupun demikian, iman adalah satu kegiatan manusiawi yang sebenar-benarnya. Percaya kepada Allah dan menerima kebenaran-kebenaran yang diwahyukan oleh-Nya, tidak bertentangan baik dengan kebebasan maupun dengan pikiran manusia. Dalam hubungan antar manusia pun tidak bertentangan dengan martabat kita, kalau kita percaya apa yang orang lain katakan kepada kita mengenai diri mereka sendiri dan mengenai maksudnya, dan memberi kepercayaan kepada perjanjiannya (umpamanya kalau seorang pria dan wanita kawin) dan dengan demikian masuk ke dalam persekutuan dengan mereka. Maka dari itu, sama sekali tidak berlawanan dengan martabat kita, "dalam iman memberikan kepada Allah yang mewahyukan, ketaatan pikiran dan kehendak secara utuh" (Konsili Vatikan I: DS 3008) dan dengan demikian masuk ke dalam persekutuan yang mesra dengan-Nya.
| | 155. | Dalam iman, akal budi dan kehendak manusia bekerja sama dengan rahmat ilahi: "Iman adalah satu kegiatan akal budi yang menerima kebenaran ilahi atas perintah kehendak yang digerakkan oleh Allah dengan perantaraan rahmat" (Tomas Aqu., s.th. 2-2, 2,9) Bdk. Konsili Vatikan I: DS 3010.
| | 156. | Alasan untuk percaya tidak terdapat dalam kenyataan bahwa kebenaran yang diwahyukan itu kelihatan benar dan jelas dalam cahaya budi kodrati kita. Kita percaya "karena otoritas Allah yang mewahyukan, yang tidak dapat keliru dan tidak dapat menyesatkan" (Konsili Vatikan I: DS 3008). Namun, "supaya ketaatan iman kita sesuai dengan akal budi, maka Allah menghendaki agar bantuan batin Roh Kudus dihubungkan dengan tanda bukti lahiriah bagi wahyu-Nya" (DS 3009). Maka mujizat Kristus dan para kudus Bdk. Mrk 16:20; Ibr 2:4, ramalan, penyebaran dan kekudusan Gereja, kesuburannya dan kelanjutannya, "dengan sesungguhnya adalah tanda-tanda wahyu ilahi yang jelas dan sesuai dengan daya tangkap semua orang" (DS 3009), alasan-alasan bagi kredibilitas Bdk. DS 3013., yang menunjukkan bahwa "penerimaan iman sekali-kali bukanlah suatu gerakan hati yang buta" (DS 3010).
| << >>
|