Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki,( 67, 834 / 883-901)
SEJARAH PAUS

Ensiklik & Surat Paus

Dokumen KV 2

No: masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak) 

Katekismus Gereja Katolik
Katekismus Gereja Katolik
www.imankatolik.or.id
Cari Kata dalam KGK
www.imankatolik.or.id
Nomor:
masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901
Kata:
masukkan kata yang akan dicari untuk
menunjukkan no. katekismus

159.Iman dan ilmu pengetahuan. "Meskipun iman itu melebihi akal budi, namun tidak pernah bisa ada satu petentangan yang sesungguhnya antara iman dan akal budi: karena Allah sama, yang mewahyukan rahasia-rahasia dan mencurahkan iman telah menempatkan di dalam roh manusia cahaya akal budi; tetapi Allah tidak dapat menyangkal diri-Nya sendiri, dan tidak pernah yang benar bisa bertentangan dengan yang benar" (Konsili Vatikan I: DS 3017). "Maka dari itu, penyelidikan metodis di semua bidang ilmu, bila dijalankan dengan sungguh ilmiah dan menurut kaidah-kaidah kesusilaan, tidak akan pernah sungguh bertentangan dengan iman karena hal-hal profan dan pokok-pokok iman berasal dari Allah yang sama. Bahkan barang siapa dengan rendah hati dan dengan tabah berusaha menyelidiki rahasia-rahasia alam, kendati tanpa disadari pun ia bagaikan dituntun oleh tangan Allah yang melestarikan segala sesuatu dan menjadikannya sebagaimana adanya" (GS 36,2).

160.Supaya iman itu manusiawi, "manusia wajib secara sukarela menjawab Allah dengan beriman; maka dari itu, tak seorang pun boleh dipaksa melawan kemauannya sendiri untuk memeluk iman. Sebab pada hakikatnya kita menyatakan iman kita dengan kehendak yang bebas" (DH 10) Bdk. CIC can.748, 2.. "Allah memanggil manusia untuk mengabdi diri-Nya dalam roh dan kebenaran. Maka ia juga terikat dalam suara hati, tetapi tidak dipaksa... Adapun itu nampak paling unggul dalam Kristus Yesus" (DH 11). Kristus memang mengundang untuk beriman dan bertobat, tetapi sama sekali tidak memaksa. "Sebab Ia memberi kesaksian akan kebenaran, tetapi tidak mau memaksakannya kepada mereka yang membantahnya. Kerajaan-Nya tidak dibela dengan menghantam dengan kekerasan, tetapi dikukuhkan dengan memberi kesaksian akan kebenaran serta mendengarkannya. Kerajaan itu berkembang karena cinta kasih, cara Kristus yang ditinggikan di salib menarik manusia kepada diri-Nya" (DH 11).

161.Percaya akan Yesus Kristus dan akan Dia yang mengutus-Nya demi keselamatan kita adalah perlu supaya memperoleh keselamatan Bdk. misalnya Mrk.16:16; Yoh 3:36; 6:40.. "Karena tanpa iman tidak mungkin orang bekenan kepada Allah (Ibr 11:6) dan sampai kepada persekutuan anak-anak-Nya, maka tidak pernah seorang pun dibenarkan tanpa Dia, dan seorang pun tidak akan menerima kehidupan kekal, kalau ia tidak 'bertahan sampai akhir' (Mat 10:22; 24:13) dalam iman" (Konsili Vatikdn I, DS 3012) Bdk. Konsili Trente: DS 1532.

162.Iman adalah satu anugerah rahmat yang Allah berikan kepada manusia. Kita dapat kehilangan anugerah yang tak ternilai itu. Santo Paulus memperingatkan Timotius mengenai hal itu: "Hendaklah engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni. Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka" (1 Tim 1:18-19). Supaya dapat hidup dalam iman, dapat tumbuh dan dapat bertahan sampai akhir, kita harus memupuknya dengan Sabda Allah dan minta kepada Tuhan supaya menumbuhkan iman itu Bdk. Mrk. 9:24; Luk 17:5; 22:32.. Ia harus "bekerja oleh kasih" (Gal 5:6) Bdk. Yak 2:14-26., ditopang oleh pengharapan Bdk. Rm 15:13. dan berakar dalam iman Gereja.

163.Iman membuat kita menikmati sebelumnya kegembiraan dan cahaya pandangan Allah yang menyelamatkan, yang adalah tujuan dari perjalanan duniawi kita. Lalu kita akan melihat Allah "dari muka ke muka" (1 Kor 13:12) "dalam keadaannya yang sebenarnya" (1 Yoh 3:2). Dengan demikian iman adalah awal kehidupan abadi.
"Kita mengharapkan kenikmatan dari hal-hal yang dijanjikan kepada kita karena rahmat. Kalau kita memandangnya dalam iman sebagai dalam cermin, hal-hal itu sudah hadir bagi kita" (Basilius, Spir, 15,36) Bdk. Tomas Aqu., s.th. 2-2,4,1.

164.Tetapi sekarang kita hidup "berdasarkan iman kepada Kristus, bukan berdasarkan apa yang kelihatan" (2 Kor 5:7), dan kita melihat Allah sebagai bayangan yang kabur bagaikan dalam cermin Bdk. 1 Kor 13:12.. Iman diterangi oleh Allah kepada-Nya iman itu ditujukan; namun ia sering dihayati dalam kegelapan. Iman dapat diuji atas cara yang berat. Dunia, di mana kita hidup, rupanya masih sangat jauh dari apa yang dijamin oleh iman bagi kita. Pengalaman mengenai yang jahat dan kesengsaraan, ketidakadilan dan kematian, rupa-rupanya bertentangan dengan kabar gembira. Mereka dapat menggoyahkan iman dan dapat menjadi percobaan baginya.

165.Lalu kita perlu berpaling kepada saksi-saksi iman: Abraham, yang terus saja "berharap dan percaya meskipun tidak ada dasar untuk berharap lagi" (Rm 4:18); Perawan Maria yang "maju dalam ziarah iman" (LG 58) malahan masuk "dalam kegelapan iman" (RM 18), dengan mengambil bagian dalam kesengsaraan dan kegelapan makam Puteranya dan masih banyak lagi saksi-saksi iman: "Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan" (Ibr 12:1-2).Lalu kita perlu berpaling kepada saksi-saksi iman: Abraham, yang terus saja "berharap dan percaya meskipun tidak ada dasar untuk berharap lagi" (Rm 4:18); Perawan Maria yang "maju dalam ziarah iman" (LG 58) malahan masuk "dalam kegelapan iman" (RM 18), dengan mengambil bagian dalam kesengsaraan dan kegelapan makam Puteranya dan masih banyak lagi saksi-saksi iman: "Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan" (Ibr 12:1-2).

166.Iman adalah satu perbuatan pribadi: jawaban bebas manusia atas undangan Allah yang mewahyukan Diri. Tetapi iman bukanlah satu perbuatan yang terisolir. Tidak ada seorang pun dapat percaya untuk dirinya sendiri, sebagaimana juga tidak ada seorang yang dapat hidup untuk dirinya sendiri. Tidak ada seorang yang memberikan iman kepada diri sendiri, sebagaimana juga tidak ada seorang yang memberi kehidupan kepada diri sendiri. Yang percaya menerima kepercayaan dari orang lain; ia harus melanjutkannya kepada orang lain. Cinta kita kepada Yesus dan kepada sesama mendorong kita supaya berbicara kepada orang lain mengenai iman kita. Dengan demikian, setiap orang yang percaya adalah anggota dalam jalinan rantai besar orang-orang beriman. Saya tidak dapat percaya, kalau saya tidak didukung oleh kepercayaan orang lain dan oleh kepercayaan saya, saya mendukung kepercayaan orang lain.

167."Akupercaya" (pengakuan iman apostolik): itulah iman Gereja, sebagaimana setiap orang beriman mengakui secara pribadi, terutama pada waktu Pembaptisan. "Kami percaya" (pengakuan iman dari Nisea-Konstantinopel Yn.): itulah iman Gereja, sebagaimana para Uskup yang berkumpul dalam konsili itu mengakui atau lebih umum, sebagaimana umat beriman mengakui dalam liturgi. "Aku percaya": demikianlah juga Gereja, ibu kita berbicara, yang menjawab Allah melalui imannya dan yang mengajar kita berkata: "aku percaya", "kami percaya".

168.Pertama-tama Gerejalah, yang percaya dan dengan demikian menopang, memupuk dan mendukung iman saya. Pada tempat pertama Gerejalah yang mengakui Tuhan di mana-mana ("Kepadamu Gereja kudus beriman, tersebar di seluruh dunia", demikian kita menyanyi dalam madah Te Deum), dan bersama dia dan dalam dia, kita juga mengakui: "aku percaya", "kami percaya". Melalui Gereja kita menerima dalam Pembaptisan iman dan kehidupan baru dalam Kristus. Dalam ritus Romawi, pemberi Pembaptisan bertanya kepada yang menerima Pembaptisan: "Apa yang kau minta dari Gereja Allah?" Jawabannya: "Iman" - "Iman memberi apa kepadamu?" - "Kehidupan kekal" (RR. OBA).

169.Keselamatan datang hanya dari Allah, tetapi karena kita menerima kehidupan iman melalui Gereja, maka ia adalah ibunda kita: "Kita mengimani Gereja sebagai ibu kelahiran kembali kita, dan bukan kita percaya akan Gereja, seakan-akan dialah pangkal keselamatan kita" (Faustus d. Riez, Spir. 1,2). Sebagai ibunda kita, ia juga adalah pendidik kita dalam iman.

170.Kita tidak percaya kepada rumus-rumus, tetapi kepada kenyataan yang diungkapkannya dan yang dapat kita "raba" oleh karena iman. "Perbuatan orang beriman mempunyai tujuan bukan pada pengungkapan, melainkan pada kenyataan [yang diungkapkan] (Tomas Aqu., s.th. 2-2,1,2 ad 2). Tetapi kita mendekati kenyataan-kenyataan ini dengan bantuan rumus-rumus iman. Formula ini memungkinkan untuk menyatakan dan merumuskan iman, untuk merayakan bersama, untuk menjadikannya milik kita dan untuk semakin hidup darinya.

171.Sebagai "tiang dan dasar kebenaran" (1 Tim 3:15), Gereja menyimpan dengan setia "iman yang sudah satu kali diberikan Allah untuk selama-lamanya kepada umatnya" (Yud 3). Ia menyimpan kata-kata Kristus dalam ingatannya; ia meneruskan pengakuan iman para Rasul dari generasi ke generasi. Sebagai seorang ibu yang mengajarkan anak-anaknya berbicara dan dengan demikian juga mengerti dan hidup bersama, Gereja, ibu kita, mengajarkan bahasa iman kepada kita supaya menghantar kita masuk ke dalam pengertian dan kehidupan iman.

172.Melalui wahyu-Nya, "Allah yang tidak kelihatan (lih. Kol 1:15; 1 Tim 1:17) dari kelimpahan cinta kasih-Nya menyapa manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya (lih. Kel 33:11; Yoh 15:14-15), dan bergaul dengan mereka (lih. Bar 3:38), untuk mengundang mereka ke dalam persekutuan dengan diri-Nya dan menyambut mereka di dalamnya" (DV 2). Jawaban yang pantas untuk undangan itu ialah iman.Sejak berabad-abad Gereja mengakui di dalam sekian banyak bahasa, kebudayaan, bangsa, dan negara imannya yang satu-satunya, yang diterimanya dari Tuhan yang satu, yang diteruskannya oleh Pembaptisan yang satu, yang berakar dalam keyakinan bahwa semua manusia hanya mempunyai satu Allah dan Bapa Bdk. Ef 4:4-6.. Santo Ireneus dari Lyon, seorang saksi iman itu, menerangkan:

<<   >>