Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki,( 67, 834 / 883-901)
SEJARAH PAUS

Ensiklik & Surat Paus

Dokumen KV 2

No: masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak) 

Katekismus Gereja Katolik
Katekismus Gereja Katolik
www.imankatolik.or.id
Cari Kata dalam KGK
www.imankatolik.or.id
Nomor:
masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901
Kata:
masukkan kata yang akan dicari untuk
menunjukkan no. katekismus

20.Bagian yang dicetak dengan huruf kecil mengandung catatan historis atau apologetik atau juga penjelasan dan pelajaran yang melengkapi.

21.Kutipan-kutipan dengan huruf kecil diangkat dari sumber patristik, liturgi, magisterium, atau hagiografi guna memperkaya penjelasan ajaran. Sering kali teks-teks ini dipilih sekian, agar bisa langsung digunakan dalam katekese.

22.Pada akhir tiap tema, teks-teks singkat menyimpulkan isi ajaran yang hakiki dalam rumusan padat. Teks-teks itu ingin mendorong katekese lokal untuk merumuskan kalimat-kalimat singkat yang dapat dihafal.

23.Katekismus ini pada tempat pertama sekali bermaksud untuk menjelaskan ajaran. Gunanya ialah untuk memperdalam pengetahuan iman. Dengan demikian, ia bertujuan agar iman semakin matang, semakin berakar dalam kehidupan, dan semakin bercahaya dalam kesaksian Bdk. CT 20-22; 25..

24.Berdasarkan tujuannya maka katekismus ini sendiri tidak dapat membuat penyesuaian dalam penjelasan dan metode kateketik yang dituntut oleh perbedaan dalam kultur, tahap kehidupan, dalam kehidupan rohani, dalam situasi kemasyarakatan dan gerejani dari para alamat. Penyesuaian yang mutlak perlu ini merupakan tugas katekismus-katekismus lokal dan terutama tugas mereka yang bertanggung jawab atas pengajaran umat beriman:
"Barang siapa menjalankan tugas mengajar, harus 'menjadi segala-galanya untuk semua' (1 Kor 9:22), supaya memenangkan semua mereka untuk Kristus... janganlah ia mengira bahwa manusia yang dipercayakan kepada pelayanannya semuanya mempunyai sifat yang sama, sehingga ia dapat mengajar mereka semua dengan cara yang sama menurut skema yang mapan dan pasti, untuk membentuk mereka ke arah kesalehan yang benar. Sebaliknya sebagian dari mereka adalah bagaikan 'bayi yang baru lahir' (1 Ptr 2:2); yang lain baru mulai bertumbuh dalam Kristus; sedangkan beberapa sudah termasuk usia dewasa... Mereka yang dipanggil untuk tugas ini harus mengerti bahwa sangat perlu, agar dalam usaha mengajarkan misteri iman dan perintah kehidupan, ajaran disesuaikan dengan daya pikir dan daya tangkap para pendengar" (Catech.R. Pengantar 11).

25.Pada akhir pengantar ini perlu diingatkan lagi akan pedoman pastoral, yang dalam Katekismus Roma dirumuskan sebagai berikut:
"Seluruh nasihat dan pengajaran harus diarahkan kepada cinta yang tidak mengenal titik akhir. Jadi, kalau orang hendak menjelaskan sesuatu yang harus diimani, diharapkan atau dilaksanakan - maka selalu harus terutama cinta kepada Tuhan kita dianjurkan, supaya setiap orang dapat mengerti bahwa semua amal kebajikan kesempurnaan Kristen hanya bersumber pada cinta dan hanya mengenal satu tujuan, yaitu cinta" (Pengantar 10).

26.Apabila kita mengakui iman kita, kita mulai dengan kata-kata: "Aku percaya" atau "kami percaya". Sebelum kita menguraikan kepercayaan Gereja seperti yang diakui dalam syahadat, dirayakan dalam liturgi, dihayati dalam pelaksanaan perintah-perintah dan dalam doa, kita menanyakan kepada diri sendiri, apa artinya "percaya". Kepercayaan adalah jawaban manusia kepada Allah yang mewahyukan dan memberikan Diri kepada manusia dan dengan demikian memberikan kepenuhan sinar kepada dia yang sedang mencari arti terakhir kehidupannya. Secara berturut-turut kita merenungkan pertama sekali mengenai manusia yang sedang mencari (Bab I), lalu mengenai wahyu ilahi, yang dengannya Allah menyongsong manusia (Bab II), dan akhirnya mengenai jawaban kepercayaan (Bab III).

27.Kerinduan akan Allah sudah terukir dalam hati manusia karena manusia diciptakan oleh Allah dan untuk Allah. Allah tidak henti-hentinya menarik dia kepada diri-Nya. Hanya dalam Allah manusia dapat menemukan kebenaran dan kebahagiaan yang dicarinya terus-menerus:
"Makna paling luhur martabat manusia terletak pada panggilannya untuk memasuki persekutuan dengan Allah. Sudah sejak asal mulanya manusia diundang untuk berwawancara dengan Allah. Sebab manusia hanyalah hidup, karena ia diciptakan oleh Allah dalam cinta kasih-Nya, dan lestari hidup berkat cinta kasih-Nya. Dan manusia tidak sepenuhnya hidup menurut kebenaran, bila ia tidak dengan sukarela mengakui cinta kasih itu, serta menyerahkan diri kepada Penciptanya" (GS 19,1).

28.Sejak dahulu kala manusia menyatakan melalui pandangan iman dan pola tingkah laku religius (seperti doa, kurban, upacara, dan meditasi), atas berbagai cara, usaha mereka untuk menemukan Allah. Cara pengungkapan itu tidak selalu jelas artinya, tetapi terdapat sekian umum di antara segala bangsa manusia, sehingga manusia dapat disebut sebagai makhluk religius:
"Dari satu orang saja [Allah] telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada" (Kis. 17:26-28).

29.Namun "hubungan kehidupan yang mesra dengan Allah ini" (GS 19,1) dapat dilupakan oleh manusia, disalah-artikan, malahan ditolak dengan tegas. Sikap yang demikian itu dapat mempunyai sebab yang berbeda-beda Bdk. GS 19-21.: protes terhadap kejahatan di dunia, ketidakpahaman religius atau sikap tidak peduli, kesusahan duniawi dan kekayaan Bdk. Mat 13:22., contoh hidup yang buruk dari para beriman, aliran berpikir yang bermusuhan dengan agama, dan akhirnya kesombongan manusia berdosa untuk menyembunyikan diri karena takut akan Tuhan Bdk. Kej 3:8-10. dan melarikan diri dari Tuhan yang memanggil Bdk. Yun 1:3..

30."Semua yang mencari Tuhan, hendaklah bergembira" (Mzm 105:3). Biarpun manusia melupakan atau menolak Tuhan, namun Tuhan tidak berhenti memanggil kembali setiap manusia, supaya ia mencari-Nya serta hidup dan menemukan kebahagiaannya. Tetapi pencarian itu menuntut dari manusia seluruh usaha berpikir dan penyesuaian kehendak yang tepat, "hati yang tulus", dan juga kesaksian orang lain yang mengajar kepadanya untuk mencari Tuhan.
"Ya Allah, agunglah Engkau dan patut dipuji: kekuatan-Mu besar dan kebijaksanaan-Mu tanpa batas. Manusia yang sendiri satu bagian dari ciptaan-Mu, ingin meluhurkan Dikau. Betapapun ia berdosa dan dapat mati, namun ia ingin memuji Dikau karena ia adalah satu bagian dari ciptaan-Mu. Untuk itu, Engkau menanamkan hasrat di dalam kami karena Engkau telah menciptakan kami menurut citra-Mu sendiri. Hati kami tetap tidak tenang sampai ia menemukan ketenteraman di dalam Engkau" (Agustinus, conf. 1,1,1).

<<   >>