KITAB SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja Katolik |
|
|
Katekismus Gereja Katolik
| 2000. | Rahmat pengudusan adalah satu anugerah yang tetap, satu kecondongan adikodrati yang tetap. Ia menyempurnakan jiwa, supaya memungkinkannya hidup bersama dengan Allah dan bertindak karena kasih-Nya. Orang membeda-bedakan apa yang dinamakan rahmat habitual, artinya satu kecondongan yang tetap, supaya hidup dan bertindak menurut panggilan ilahi, dari apa yang dinamakan rahmat pembantu, yakni campur tangan ilahi pada awal pertobatan atau dalam proses karya pengudusan.
| | 2001. | Persiapan manusia untuk menerima rahmat sudah merupakan karya rahmat. Rahmat itu perlu untuk menampilkan dan menopang kerja sama kita pada pembenaran melalui iman dan pada pengudusan melalui kasih. Allah menyelesaikan apa yang sudah dimulai-Nya di dalam kita, "karena Ia mulai dengan menyebabkan, bahwa kita mau; Ia menyelesaikan dengan bekerja sama dengan kehendak kita yang telah ditobatkan" (Agustinus, grat. 17).
"Memang kita juga bekerja, namun kita hanya bekerja sama dengan Allah yang bekerja. Karena kerahiman telah mendahului kita, supaya kita, setelah disembuhkan, dihidupkan; Ia mendahului kita, supaya kita dipanggil, dan Ia mengikuti kita, supaya kita dimuliakan; Ia mendahului kita, supaya kita hidup saleh, dan Ia mengikuti kita, supaya kita hidup bersama Allah untuk selama-lamanya, karena tanpa Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa" (Agustinus, nat.et grat. 31).
| | 2002. | Tindakan bebas Allah menuntut jawaban bebas dari manusia. Karena Allah telah menciptakan manusia menurut citra-Nya dan telah memberi kepadanya bersama dengan kebebasan kemungkinan, supaya mengenai Dia dan mengasihi Dia. Jiwa hanya dapat masuk secara sukarela ke dalam persatuan kasih. Allah langsung menjamah dan menggerakkan hati manusia. Ia telah menempatkan di dalam manusia kerinduan akan yang benar dan yang balk, yang hanya Ia yang dapat memenuhinya. Janji-janji akan "kehidupan abadi" menjawab kerinduan batin ini melampaui segala harapan.
"Kalau pada akhir karya-Mu yang sangat baik Engkau beristirahat pada hariketujuh, maka itu sekedar mengatakan kepada kami lebih dahulu melalui suara buku-Mu, bahwa kami juga pada akhir karya kami, - yang sangat baik, sebab Engkau telah menganugerahkannya kepada kami, - dapat beristirahat dalam Engkau pada sabat kehidupan abadi" (Agustinus, conf. 13,36,51).
| | 2003. | Rahmat pada tempat pertama adalah anugerah Roh Kudus yang membenarkan dan menguduskan kita. Tetapi di dalam rahmat termasuk juga anugerah-anugerah yang Roh berikan kepada kita, untuk membuat kita mengambil bagian dalam karya-Nya serta menyanggupkan kita untuk berkarya demi keselamatan orang lain dan pertumbuhan Tubuh Kristus, yaitu Gereja. Termasuk di dalamnya rahmat-rahmat sakramental, artinya anugerah-anugerah khusus dalam Sakramen yang berbeda-beda. Termasuk juga di dalamnya rahmat-rahmat khusus, yang dinamakan karisma, sesuai dengan ungkapan Yunani yang dipergunakan oleh santo Paulus, yang berarti kemurahan hati, anugerah bebas, dan perbuatan baik Bdk. LG 12.. Ada berbagai macam karisma, sering kali juga yang luar biasa seperti anugerah mukjizat atau anugerah bahasa. Semuanya itu diarahkan kepada rahmat pengudusan dan bertujuan pada kesejahteraan umum Gereja. Karisma itu harus mengabdi kasih, yang membangun Gereja Bdk. 1 Kor 12.
| | 2004. | Di antara rahmat-rahmat khusus perlu disebutkan rahmat status, yang menyertai pelaksanaan kewajiban kehidupan Kristen dan pelaksanaan pelbagai pelayanan di dalam Gereja.
"Kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita" (Rm 12:6-8).
| | 2005. | Karena rahmat itu adikodrati, maka ia berada di luar pengalaman kita dan hanya diketahui oleh iman. Jadi, kita tidak boleh percaya kepada perasaan atau pekerjaan kita, untuk menyimpulkan darinya bahwa kita telah dibenarkan dan diselamatkan Bdk. Konsili Trente: DS 1533-1534.. Tetapi menurut perkataan Tuhan: "Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka" (Mat 7:20), maka apabila kita ingat akan perbuatan baik Allah di dalam kehidupan kita dan di dalam kehidupan para kudus, kita dapat melihat di dalamnya suatu jaminan, bahwa rahmat sedang bekerja di dalam kita. Dan itu memberi kita semangat untuk suatu iman yang menjadi semakin kuat dan suatu sikap kemiskinan yang penuh kepercayaan.
Sikap ini terutama dijelaskan secara amat baik dalam jawaban santa Jeanne d Arc atas sebuah pertanyaan hakim-hakim Gerejanya: Setelah ditanya, apakah ia tahu bahwa ia berada dalam rahmat Allah, ia menjawab: "kalau aku tidak ada di dalamnya, semoga Allah menempatkan aku di dalamnya; kalau aku ada di dalamnya, semoga Allah memelihara aku di dalamnya" (Jeanne d Am, proc.).
| | 2006. | Kata" jasa" pada umumnya menunjukkan pembayaran oleh satu persekutuan atau masyarakat yang berutang karena perbuatan salah seorang anggotanya, yang dirasakan sebagai perbuatan baik atau perbuatan buruk, sebagai sesuatu yang perlu diganjar atau disiksa. Mengganjar jasa-jasa adalah masalah keutamaan keadilan, karena ia menjawab prinsip persamaan yang berlaku dalam keadilan itu.
| | 2007. | Terhadap Allah tidak ada jasa dalam arti kata yang sebenarnya dari pihak manusia. Antara Dia dan kita terdapat satu ketidaksamaan yang tidak dapat diukur, karena kita telah menerima segala sesuatu dari Dia, Pencipta kita.
| | 2008. | Jasa manusia di hadapan Allah dalam kehidupan Kristen hanya muncul dari kenyataan bahwa Allah telah menetapkan secara bebas untuk mengizinkan manusia bekerja sama dengan rahmat-Nya. Titik tolak kerja sama ini adalah selalu tindakan Allah sebagai Bapa yang memberi dorongan supaya manusia dapat bertindak bebas, sehingga jasa-jasa untuk pekerjaan-pekerjaan baik pada tempat pertama harus dialamatkan kepada rahmat Allah dan sesudah itu baru kepada orang beriman. Jasa manusia pada dasamya adalah milik Allah, karena perbuatan-nya yang baik berasal dari rahmat dan bantuan Roh Kudus di dalam Kristus.
| | 2009. | Pengangkatan sebagai anak membuat kita mengambil bagian dalam kodrat ilahi karena rahmat. Karena itu ia dapat memberikan suatu jasa yang sungguh, sesuai dengan keadilan cuma-cuma dari pihak Allah. Inilah suatu hak karena rahmat, hak penuh dari kasih, yang menjadikan kita "rekan ahli waris" Kristus, layak untuk "menerima kehidupan abadi pada waktunya" (Konsili Trente: DS 1546). Jasa-jasa pekerjaan kita yang baik adalah anugerah kebaikan Allah Bdk. Konsili Trente: DS 1548.. "Rahmat telah mendahului; sekarang diganjar, apa yang sebenarnya utang... Jasa-jasa adalah hadiah Allah" (Agustinus, Berm. 298,4-5).
| | 2010. | Karena di dalam tata rahmat tindakan pertama berasal dari Allah, maka seorang pun tidak dapat memperoleh rahmat pertama, yang darinya muncul pertobatan, pengampunan, dan pembenaran. Baru setelah didorong oleh Roh Kudus dan kasih, kita dapat memperoleh untuk kita sendiri dan untuk orang lain, rahmat yang menyumbang demi kekudusan kita, demi pertumbuhan rahmat dan kasih, serta demi penerimaan kehidupan abadi. Sesuai dengan kebijaksanaan Allah, maka harta-harta sementara pun dapat diperoleh, umpamanya kesehatan dan persahabatan. Rahmat dan harta-harta ini adalah obyek doa Kristen. Doa menyediakan rahmat, yang mutlak perlu untuk perbuatan kita yang menghasilkan jasa.
| << >>
|