KITAB SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja Katolik |
|
|
Katekismus Gereja Katolik
| 2060. | Anugerah firman dan hukum adalah bagian dari perjanjian yang Allah adakan dengan orang-orang-Nya. Menurut buku Keluaran, wahyu dari "sepuluh firman itu" terjadi dalam jangka waktu antara penawaran perjanjian 1 dan pengikatan perdamaian 2, setelah umat itu mewajibkan diri untuk "melakukan" segala sesuatu yang dikatakan Tuhan, dan supaya "mematuhi" Dia (Kel 24:7). Dekalog baru disampaikan, kalau sebelumnya diperingatkan akan perjanjian itu ("Tuhan, Allah kita telah mengikat perjanjian dengan kita di Horeb": Ul 5:2). 62
| | 2061. | Firman-firman itu memperoleh artinya yang penuh dalam rangka perjanjian. Menurut Kitab Suci, tindakan moral manusia mendapat arti yang sebenarnya di dalam perjanjian dan oleh perjanjian. Yang pertama dari "sepuluh firman" itu mengingatkan bahwa Allah mengasihi umat-Nya lebih dahulu:
"Karena untuk menyiksa dosa telah terjadi perpindahan dari firdaus kebebasan ke perhambaan dunia ini, maka kalimat pertama dari dekalog, yang adalah kata pertama dari firman-firman Allah, menyangkut kebebasan: Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan (Kel 20:2; Ul 5:6)" (Origenes, hom. in Ex. 8, 1).
| | 2062. | Firman-firman itu sendiri baru menyusul di tempat kedua; mereka mengatakan, apa yang harus dilakukan berdasarkan hubungan dengan Allah yang diadakan melalui perjanjian. Pelaksanaan hidup kesusilaan adalah jawaban atas tindakan Tuhan yang penuh kasih. Ia adalah pengakuan, pemberian hormat, dan terima kasih kepada Allah. Ia adalah kerja sama dalam rencana yang Allah laksanakan dalam sejarah.
| | 2063. | Perjanjian dan dialog antara Allah dan manusia juga tampak dalam kenyataan bahwa Allah sebagai pembuat hukum selalu berbicara dalam orang pertama ("Akulah Tuhan ...") dan selalu menyapa orang per orang ("Engkau ..."). Di dalam semua firman Allah, orang disapa dengan kata ganti orang dalam bentuk tunggal. Sementara Allah mengumumkan kehendak-Nya kepada seluruh umat, Ia juga menyampaikannya kepada setiap orang.
Tuhan "mewajibkan kasih kepada Allah dan menekankan keadilan terhadap sesama, supaya manusia itu benar dan layak bagi Allah, dan mempersiapkannya melalui dekalog untuk persahabatan-Nya dan untuk kerukunan dengan sesama .... Kata-kata dekalog ... berlaku juga untuk kita [orang Kristen], karena dengan kedatangan Tuhan, mereka dikembangkan dan diperluas, bukan dihapus" (Ireneus, haer. 4,16,3-4).
| | 2064. | Setia kepada Kitab Suci dan dalam kesesuaian dengan contoh Yesus, tradisi Gereja selalu memberi kepada dekalog peranan utama.
| | 2065. | Sejak santo Agustinus "sepuluh firman" itu mendapat tempat penting dalam pengajaran untuk calon baptis dan umat beriman. Dalam abad ke-15 muncul pula kebiasaan untuk menyusun kembali firman-firman dekalog dalam rumusan positif dan dalam bentuk sajak yang mudah diingat. Kebiasaan itu untuk sebagian masih ada sampai sekarang. Katekismus Gereja sering kali menerangkan ajaran kesusilaan Kristen berdasarkan "sepuluh perintah".
| << >>
|