KITAB SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja Katolik |
|
|
Katekismus Gereja Katolik
| 2077. | Anugerah dekalog terjadi dalam perjanjian yang Allah adakan dengan umat-Nya. Firman-firman Allah mendapat artinya yang benar di dalam dan melalui perjanjian ini.
| | 2078. | Dalam kesetiaan kepada Kitab Suci dan dengan mengikuti contoh Yesus, tradisi Gereja telah memberikan satu peranan istimewa dan mendasar kepada dekalog.
| | 2079. | Dekalog merupakan satu kesatuan organis tiap "firman" atau "perintah" menunjuk kepada keseluruhan. Siapa melanggar satu perintah, bersalah terhadap seluruh hukum Bdk. Yak 2:10-11.
| | 2080. | Dekalog menyatakan dengan sangat tepat hukum kesusilaan kodrati. Kita mengenalnya melalui wahyu ilahi dan akal budi manusia.
| | 2081. | Sepuluh firman sesuai dengan hakikatnya menyampaikan kewajiban-kewajiban yang berat. Tetapi ketaatan kepada perintah-perintah ini juga menyangkut kewajiban-kewajiban yang menurut obyeknya kurang berat.
| | 2082. | Apa yang Allah perintahkan, itu dimungkinkan-Nya melalui rahmat-Nya.
| | 2083. | Yesus menyimpulkan kewajiban manusia terhadap Allah dalam perkataan "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu" (Mat 22:37) Bdk. Luk 10:27 "... dengan segenap kekuatanmu dan segenap akal budimu".. Perintah ini merupakan gema langsung dari seruan meriah: "Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa !" (Ul 6:4).Allah telah lebih dahulu mengasihi kita. Yang pertama dari "sepuluh firman" mengingatkan kita akan kasih Allah yang esa ini. Perintah-perintah yang menyusul menjelaskan jawaban penuh kasih, yang hendaknya manusia berikan kepada Allahnya.
| | 2084. | Allah menyatakan diri-Nya dengan memperingatkan tindakan-Nya yang mahakuasa, yang baik dan yang membebaskan dalam sejarah umat-Nya, dengan berkata: "Aku telah mengantar engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan". Firman pertama mengandung perintah pertama dari hukum: " Engkau harus takut akan Tuhan, Allahmu; engkau harus berbakti kepada Dia .... Janganlah kamu mengikuti allah lain dari antara allah bangsa-bangsa sekelilingmu" (UL6:13-14). Panggilan pertama dan tuntutan yang adil dari Allah ialah supaya manusia menerima-Nya dan berbakti kepada-Nya.
| | 2085. | Allah yang satu dan benar mewahyukan kemuliaan-Nya pertama-tama kepada umat Israel Bdk. Kel 19:16-25; 24:15-18.. Bersama wahyu Allah, dinyatakan pula panggilan dan hakikat manusia yang benar. Manusia dipanggil untuk memberi kesaksian tentang Allah, dengan bertingkah laku sesuai dengan kenyataan bahwa ia diciptakan "menurut citra Allah" dan serupa dengan Allah.
Santo Yustinus martir berkata (sekitar thn. 155) kepada seorang pakar Yahudi: "tidak akan ada Allah lain, Tryphon, dan dari awal mula pun tidak ada Allah lain ... kecuali Dia, yang membuat semesta alam dan mengaturnya. Selanjutnya kami percaya bahwa Allah kami tidak lain dari Allah kamu, sebaliknya Ia adalah sama dengan Dia, yang telah membawa nenek moyangmu keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung. Juga kami tidak berharap kepada Allah yang lain - karena memang tidak ada lain - kecuali kepada Allah yang sama seperti Allahmu, kepada Allah Abraham, Ishak, dan Yakub" (Yustinus, dial. 11, 1).
| | 2086. | Di dalam firman pertama tercakup "perintah iman, harapan, dan kasih. Sebab kalau kita mengatakan mengenai Allah bahwa Ia tidak bergerak, tidak berubah, tetap sama, maka amat beralasan kita mengakui-Nya sebagai yang setia tanpa ketidakadilan sedikit pun. Karena itu perlu kita menerima kata-kata-Nya, percaya kepada-Nya dengan teguh dan berharap kepada-Nya dengan sepenuh hati. Tetapi siapa yang melihat kemahakuasaan-Nya, kelemahlembutan-Nya, dan kerelaan-Nya, serta kecenderungan-Nya untuk berbuat baik - dapatkah ia menaruh harapannya kepada sesuatu yang lain dari Dia? Kalau ia memandang kekayaan kebaikan dan kasih-Nya yang telah Ia curahkan ke dalam kita - bukankah ia harus mengasihi Dia? Karena itu, untuk membuka dan menutup perintah dan peraturan-Nya, Allah memakai kata-kata Akulah Tuhan" (Catech. R. 3,2,4).
| | 2087. | Kehidupan kesusilaan kita berakar dalam iman kepada Allah yang menyatakan kasih-Nya kepada kita. Santo Paulus berbicara tentang "ketaatan iman" (Rm 1:5; 16:26) sebagai kewajiban pertama. Dalam kenyataan ia melihat bahwa tidak mengenal Allah adalah alasan dan penjelasan untuk segala kesalahan susila Bdk. Rm 1:18-32. Terhadap Allah kita mempunyai kewajiban, supaya percaya kepada-Nya dan memberi kesaksian tentang Dia.
| << >>
|