KITAB SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja Katolik |
|
|
Katekismus Gereja Katolik
| 2682. | Berdasarkan turut serta yang unik dari Perawan Maria dalam karya Roh Kudus, Gereja suka berdoa dalam persatuan dengannya, supaya bersama dia memuji hal-hal besar yang telah dikerjakan Allah baginya, dan untuk mempercayakan kepada Maria permohonan dan pujian.
| | 2683. | Saksi-saksi yang sudah mendahului kita masuk Kerajaan Allah Bdk. Ibr 12:2., terutama para "kudus" yang sudah diakui Gereja, turut serta dalam tradisi doa yang hidup dengan perantaraan contoh hidupnya, dengan menyumbangkan tulisan-tulisannya dan dengan doanya sekarang ini. Mereka memandang Allah, memuja Dia dan tanpa henti-hentinya memperhatikan mereka yang ditinggalkannya di dunia ini. Pada waktu masuk "ke dalam kegembiraan Tuhannya" kepada mereka "diberikan... tanggung jawab dalam perkara yang besar" Bdk. Mat 25:21. . Doa syafaatnya adalah pelayanan yang tertinggi bagi rencana Allah. Kita dapat dan harus memohon mereka, supaya membela kita dan seluruh dunia.
| | 2684. | Dalam persekutuan para kudus telah pula berkembang pelbagai spiritualitas [sikap hidup rohani] dalam peredaran sejarah Gereja-gereja. Karisma pribadi dari seorang saksi cinta kasih Allah kepada manusia dapat dialihkan, seperti "roh" Elia kepada Elisa3 dan kepada Yohanes Pembaptis Bdk. Luk 1:17., supaya murid-murid dapat mengambil bagian dalam roh ini Bdk. PC 2.. Satu spiritualitas bertumbuh dari berbagai aliran liturgi dan teologi. Ia memberi kesaksian mengenai berakarnya iman di dalam suatu konteks manusia dan sejarah tertentu. Berbagai spiritualitas Kristen mengambil bagian dalam tradisi doa yang hidup. Mereka adalah pembimbing-pembimbing yang mutlak perlu untuk kaum beriman. Keragaman kekayaan sikap hidup rohani memancarkan terang Roh Kudus yang jemih dan satu-satunya.
"Roh adalah benar-benar tempat para kudus, dan seorang kudus adalah tempat yang cocok untuk Roh, karena ia membiarkan Allah tinggal dalam dirinya dan ia disebut kenisah Roh Kudus" (Basilius, Spir. 26,62).
| | 2685. | Keluarga Kristen adalah tempat pendidikan doa yang pertama. Atas dasar Sakramen Perkawinan, keluarga adalah "Gereja rumah tangga", di mana anak-anak Allah berdoa "sebagai Gereja" dan belajar bertekun dalam doa. Teristimewa untuk anak-anak kecil, doa sehari-hari dalam keluarga adalah kesaksian pertama untuk ingatan Gereja yang hidup, yang dibangkitkan dengan penuh kesabaran oleh Roh Kudus.
| | 2686. | Juga pejabat-pejabat yang tertahbis bertanggung jawab atas pembinaan bagi saudara-saudarinya di dalam Kristus. Sebagai pelayan Gembala yang baik, mereka ditahbiskan untuk membawa Umat Allah kepada sumber-sumber doa yang hidup: kepada Sabda Allah, liturgi, kehidupan ilahi, dan kepada pengertian akan kehadiran Allah dalam kenyataan-kenyataan kehidupan Bdk. PO 4-6.
| | 2687. | Banyak orang biara menahbiskan seluruh hidupnya kepada doa. Sejak zaman bapa-bapa rahib di padang gurun Mesir; orang-orang pertapa, biarawan dan biarawati mempersembahkan kehidupannya untuk pujaan kepada Allah dan syafaat bagi umat-Nya. Tanpa doa, kehidupan yang dibaktikan kepada Allah itu tidak akan bertahan dan tidak akan tersebar; doa adalah salah satu sumber yang hidup bagi renungan dan kehidupan rohani di dalam Gereja.
| | 2688. | Katekese untuk anak-anak, orang muda, dan dewasa bertujuan agar Sabda Allah direnungkan dalam doa pribadi, dihadirkan dalam doa liturgi dan diterima di dalam hati, supaya dapat menghasilkan buah dalam suatu kehidupan yang baru. Katekese juga dapat dipergunakan untuk menilai dan memajukan kesalehan rakyat Bdk. CT 54.. Menghafalkan doa-doa utama memberikan satu sokongan yang mutlak perlu kepada kehidupan doa; tetapi yang penting ialah belajar mengalami arti doa-doa ini Bdk. CT 55.
| | 2689. | Kelompok doa, ya "sekolah doa" dewasa ini adalah suatu tanda dan salah satu kekuatan demi pembaharuan doa di dalam Gereja, sejauh menimba dari sumber-sumber doa Kristen yang benar. Mengusahakan persekutuan adalah satu tanda untuk doa yang sungguh gerejani.
| | 2690. | Roh Kudus memberikan kepada warga beriman tertentu anugerah-anugerah kebijaksanaan, iman, dan pembedaan roh-roh demi bimbingan rohani, artinya satu kegiatan demi doa sebagai milik bersama. Pria dan wanita yang memiliki anugerah-anugerah yang demikian itu, memberikan sumbangan berharga bagi tradisi doa yang hidup.
Karena itu, jiwa yang merindukan kesempurnaan harus menurut nasihat santo Yohanes dari Salib "memperhatikan dengan baik kepada siapa ia mempercayakan diri; karena sebagaimana guru, demikianlah murid, dan sebagaimana bapa, demikianlah anak". Pembimbing rohani "harus arif dan bijaksana, tetapi harus juga memiliki pengalaman dalam kehidupan rohani... Jika pembimbing rohani tidak mempunyai pengalaman akan kehidupan rohani, ia tidak dapat menangani bimbingan rohani bagi satu jiwa yang menerima dari Allah rahmat-rahmat khusus, dan ia tidak mempunyai pengertian untuk itu" (llama, Bait 3).
| | 2691. | Gereja, rumah Allah, adalah tempat doa liturgi yang sebenarnya untuk umat paroki. Ia juga merupakan tempat utama untuk menyembah Kristus yang hadir secara real di dalam Sakramen mahakudus. Memilih suatu tempat yang cocok, dapat mempengaruhi ketulusan doa.
Untuk doa pribadi, tempatnya bisa saja satu "sudut doa" dengan Kitab Suci dan ikon, supaya di sana, dalam "tempat yang tersembunyi" Bdk. Mat 6:6., berada di hadirat Bapa kita. Di dalam satu keluarga Kristen, tempat doa yang demikian itu memudahkan doa bersama.
Persekutuan biara terpanggil untuk memajukan keikutsertaan orang beriman pada ibadat harian dan untuk menyediakan kesunyian yang perlu untuk doa pribadi yang lebih mendalam Bdk. PC 7.
Ziarah-ziarah mengingatkan bahwa kita di dunia ini sedang berada dalam perjalanan menuju surga. Sejak dahulu kala ziarah itu sangat tepat untuk pembaharuan doa. Tempat-tempat kudus bagi para penziarah adalah tempat yang sangat cocok untuk mencari sumber-sumber hidup, untuk menghidupkan bentuk-bentuk doa Kristen "sebagai Gereja".
| | 2692. | Gereja penziarah bersatu dalam doanya dengan doa para kudus, yang doa syafaatnya Gereja minta.
| << >>
|