KITAB SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja Katolik |
|
|
Katekismus Gereja Katolik
| 292. | Kesatuan yang tidak terpisahkan dari karya cipta Putera dan Roh dengan karya cipta Bapa dipratandai dalam Perjanjian Lama Bdk. Mzm 33:6; 104:30; Kej 1:2-3, diwahyukan dalam Perjanjian Baru, dan akhirnya diucapkan secara jelas dalam peraturan iman Gereja: "Hanya satu adalah Allah dan Pencipta... Ialah Bapa, Ialah Pencipta, Ialah pengasal, pembentuk, yang oleh Diri sendiri, artinya oleh Sabda-Nya dan kebijaksanaan-Nya... mengadakan segala sesuatu" (Ireneus, haer, 2,30,9). "Oleh Putera dan Roh" yang seakan-akan adalah "tangan-Nya" (ibid., 4,20, 1). Ciptaan adalah karya bersama Tritunggal Maha Kudus.
| | 293. | Kitab Suci dan tradisi selalu mengajar dan memuji kebenaran pokok: "Dunia diciptakan demi kemuliaan Allah" (Konsili Vatikan I: DS 3025). Sebagaimana santo Bonaventura jelaskan, Tuhan menciptakan segala sesuatu "bukan untuk menainbah kemuliaan-Nya melainkan untuk mewartakan dan menyampaikan kemuliaan-Nya" (sent. 2,1,2,2, 1). Tuhan tidak mempunyai alasan lain untuk mencipta selain cinta-Nya dan kebaikan-Nya: "Makhluk ciptaan keluar dari tangan Allah yang dibuka dengan kunci cinta" (Tomas Aqu. sent.2, prol.). Dan Konsili Vatikan I menjelaskan:
"Satu-satunya Allah yang benar ini telah mencipta dalam kebaikan-Nya dan 'kekuatan-Nya yang maha kuasa' - bukan untuk menambah kebahagiaan-Nya, juga bukan untuk mendapatkan (kesempurnaan], melainkan untuk mewahyukan kesempurnaan-Nya melalui segala sesuatu yang Ia berikan kepada makhluk ciptaan - karena keputusan yang sepenuhnya bebas, menciptakan sejak awal waktu dari ketidak-adaan sekaligus kedua ciptaan, yang rohani dan yang jasmani" (DS 3002).
| | 294. | Adalah kemuliaan Allah bahwa kebaikan-Nya menunjukkan diri dan menyampaikan diri. Untuk itulah dunia ini diciptakan. "Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia" (Ef 1:5-6). "Karena kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup; tetapi kehidupan manusia adalah memandang Allah. Apabila wahyu Allah melalui ciptaan sudah sanggup memberi kehidupan kepada semua orang yang hidup di bumi, betapa lebih lagi pernyataan Bapa melalui Sabda harus memberikan kehidupan kepada mereka yang memandang Allah" (Ireneus, haer. 4,20,7). Tujuan akhir ciptaan ialah bahwa Allah "Pencipta akhirnya menjadi 'semua di dalam semua' (1 Kor 15:28) dengan mengerjakan kemuliaan-Nya dan sekaligus kebahagiaan kita" (AG 2).
| << >>
|