KITAB SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja Katolik |
|
|
Katekismus Gereja Katolik
| 338. | Tidak ada sesuatu pun, yang tidak menerima keberadaannya dari Pencipta. Dunia mulai, ketika ia diciptakan oleh Sabda Allah dari ketidakadaan. Segala makhluk yang ada, seluruh alam, seluruh sejarah umat manusia, berakar dalam kejadian pokok ini; oleh "kejadian" ini dunia dibentuk dan waktu mulai bergulir Bdk. Agustinus, Gen. Man. 1,2,4.
| | 339. | Tiap makhluk memiliki kebaikan dan kesempurnaannya sendiri. Dari tiap karya selama "enam hari itu", dikatakan: "Dan Allah melihat bahwa semuanya itu baik". "Sebab berdasarkan kenyataannya sebagai ciptaan, segala sesuatu dikaruniai kemandirian, kebenaran dan kebaikannya sendiri, lagi pula menganut hukum-hukum dan mempunyai tata susunannya sendiri" (GS 36,2). Makhluk-makhluk yang berbeda-beda itu mencerminkan dalam kekhususan mereka yang dikehendaki Allah, tiap-tiapnya dengan caranya sendiri, satu sinar kebijaksanaan dan kebaikan Allah yang tidak terbatas. Karena itu manusia harus menghormati kodrat yang baik dari setiap makhluk dan bersikap waspada terhadap penyalah-gunaan benda-benda itu. Kalau tidak, maka Allah dihina dan terjadilah akibat -akibat yang sangat buruk bagi manusia dan alam sekitarnya.
| | 340. | Ketergantungan makhluk-makhluk satu sama lain dikehendaki Allah. Matahari dan bulan, pohon aras dan bunga liar, rajawali dan burung pipit - semua keanekaan dan ketidak-samaan yang tidak terhitung banyaknya itu mengatakan bahwa tidak ada satu makhluk pun yang mencukupi dirinya sendiri, bahwa makhluk-makhluk hanya ada dalam ketergantungan satu sama lain untuk saling melengkapi dalam pelayanan timbal balik.
| | 341. | Keindahan alam semesta: Peraturan dan harmoni dari dunia yang diciptakan berasal dari keaneka-ragaman makhluk dan hubungan antar mereka. Manusia menemukannya satu demi satu sebagai hukum alam. Mereka menimbulkan keheranan pada para ilmuwan. Keindahan ciptaan mencerminkan keindahan Pencipta yang tidak terbatas. Ia harus membangkitkan rasa hormat dan menggerakkan manusia supaya menundukkan akal budi dan kehendaknya kepada Pencipta.
| | 342. | Tingkat-tingkat makhluk-makhluk dinyatakan oleh urutan "enam hari", yang melangkah dari yang kurang sempurna kepada yang lebih sempurna. Allah mencintai semua makhluk-Nya Mzm 145:9., memperhatikan tiap-tiapnya, bahkan burung pipit pun. Walaupun demikian Yesus berkata: "Kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit" (Luk 12:7) dan "Manusia lebih berharga daripada seekor domba" (Mat 12:12).
| | 343. | Manusia adalah puncak karya penciptaan. Kisah penciptaan dalam Kitab Suci menandaskan ini, dengan membedakan penciptaan manusia secara jelas dari penciptaan makhluk-makhluk yang lain Bdk. Kej 1:26.
| | 344. | Antara semua makhluk terdapat suatu solidaritas, karena semua mereka mempunyai Pencipta yang sama, dan semua mereka diarahkan kepada kemuliaan-Nya.
Terpujilah Engkau, Tuhanku, dengan sekalian makhluk-Mu
terutama tuanku saudara Surya,
dia itu siang dan menerangi dengan pancarannya.
Dia itu elok dan bersinar dengan teramat cerahnya,
pembawa lambang-Mu, sang Mahaluhur.
Terpujilah Engkau Tuhanku
karena saudari Air,
besar gunanya, merendah, mulia, dan murni.
Terpujilah Engkau, Tuhanku,
karena saudari kami, Ibu Pertiwi,
penyuap dan pengasuh kami,
penghasil buah-buahan,
bunga beraneka-warna dan hijau-hijauan.
Puji dan muliakanlah Tuhanku,
beri syukur kepada-Nya,
abdilah Dia dengan kerendahan hati besar.
(Fransiskus dari Assisi, Gita Sang Surya)
| | 345. | Sabat - penutup "enam hari kerja". Kitab Suci mengatakan "pada hari ketujuh Allah telah menyelesaikan pekerjaan yang dilakukan-Nya itu" - demikianlah "langit dan bumi diselesaikan" - "berhentilah Ia pada hari ketujuh... Dan Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskan-Nya" (Kej 2:1-3). Kata-kata terilham ini sangat informatif:
| | 346. | Allah memberikan dasar dan hukum kepada ciptaan-Nya, yang tetap berilaku Bdk. Ibr 4:3-4.. Orang beriman dapat mengandalkannya; mereka dipandangnya sebagai tanda dan jaminan kesetiaan Allah yang tidak tergoyahkan baginya, yang dengannya Allah memegang perjanjian-Nya dengan teguh Bdk. Yer 31:35-37; 33:19-26.. Manusia dari pihaknya harus taat dengan setia kepada dasar dan menghormati hukum, yang telah Allah ukirkan ke dalam ciptaan.
| | 347. | Tujuan penciptaan itu ialah Sabat dan dengan demikian penghormatan dan penyembahan Allah. Kebaktian telah terukir dalam tata penciptaan Bdk. Kej 1:14.. "Kebaktian harus didahulukan dari apa pun" demikian bunyi peraturan santo Benediktus, yang dengan demikian menunjukkan kepada kita urutan kepentingan manusiawi yang tepat.
| | 348. | Sabat merupakan pusat hukum Israel. Menghayati perintah-perintah berarti hidup menurut kebijaksanaan dan kehendak Allah yang nyata dalam karya penciptaan-Nya.
| | 349. | Hari kedelapan. Tetapi bagi kita tiba satu hari baru: hari kebangkitan Kristus. Hari ketujuh menyelesaikan ciptaan pertama. Pada hari kedelapan mulailah penciptaan baru. Dengan demikian karya penciptaan berpuncak pada karya penebusan yang lebih besar lagi. Ciptaan pertama mendapat arti dan puncaknya dalam penciptaan baru dalam Kristus, yang melampaui yang pertama dalam kecemerlangan Bdk. MR Malam Paskah 24: Doa sesudah bacaan pertama.
| | 350. | Malaikat-malaikat adalah makhluk rohani yang memuliakan Allah tanpa henti-hentinya dan melayani rencana keselamatan-Nya untuk makhluk lain. "Dalam segala pekerjaan baik, para malaikat berkerja sama dengan kita" (Tomas Aqu., s. th. 1, 114,3, ad 3).
| | 351. | Para malaikat mengelilingi Kristus, Tuhan mereka. Mereka melayani-Nya terutama dalam pelaksanaan perutusan keselamatan-Nya untuk manusia.
| | 352. | Gereja menghormati para malaikat yang mendampingi Gereja dalam ziarah duniawinya dan melindungi setiap manusia.
| | 353. | Adalah kehendak Allah bahwa makhluk-makhluk-Nya berbeda satu sama lain, bahwa mereka memiliki kebaikannya masing-masing, bahwa mereka bergantung satu sama lain dan bahwa mereka berada dalam satu tata tertib. Ia telah menentukan segala makhluk material demi kesejahteraan umat manusia. Manusia dan melalui dia seluruh ciptaan telah ditentukan untuk memuliakan Allah.
| | 354. | Menghormati peraturan-peraturan yang diukirkan dalam ciptaan dan hubungan-hubungan yang sesuai dengan kodrat benda-benda adalah prinsip kebijaksanaan dan dasar kesusilaan.
| | 355. | "Allah menciptakan manusia itu menurut citra-Nya, menurut citra Allah diciptakan-Nya dia: laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka" (Kej 1:27). Manusia menduduki tempat khusus dalam ciptaan: ia diciptakan "menurut citra Allah" (I); dalam kodratnya bersatulah dunia rohani dan dunia jasmani (II); ia diciptakan "sebagai laki-laki dan perempuan" (III); Allah menjadikan dia sahabat-Nya (IV).
| | 356. | Dari segala ciptaan yang kelihatan, hanya manusia itu "mampu mengenal dan mencintai Penciptanya" (GS 12,3): ialah "yang di dunia merupakan satu-satunya makhluk, yang Allah kehendaki demi dirinya sendiri" (GS 24,3): hanya dialah yang dipanggil, supaya dalam pengertian dan cinta menganibil bagian dalam kehidupan Allah. Ia diciptakan untuk tujuan ini, dan itulah dasar utama bagi martabatnya:
"Apakah alasannya, maka Engkau meninggikan manusia ke martabat yang begitu mulia? Cinta yang tidak ternilai, yang dengannya Engkau memandang makhluk-Mu dalam diri-Mu sendiri dan jatuh cinta kepadanya, sebab Engkau menciptakannya karena cinta, karena cinta Engkau memberi kepadanya satu kodrat, yang dapat merasakan kegembiraan pada diri-Mu, harta abadi" (Katarina dari Siena, dial. 4,13).
| | 357. | Karena ia diciptakan menurut citra Allah, manusia memiliki martabatsebagai pribadi: ia bukan hanya sesuatu, melainkan seorang. Ia mampu mengenal diri sendiri, menjadi tuan atas dirinya, mengabdikan diri dalam kebebasan dan hidup dalam kebersamaan dengan orang lain, dan karena rahmat ia sudaii dipanggil ke dalam perjanjian dengan Penciptanya, untuk memberi kepada-Nya jawaban iman dan cinta, yang tidak dapat diberikan suatu makhluk lain sebagai penggantinya.
| | 358. | Tuhan menciptakan segala sesuatu untuk manusia Bdk. GS 12,1; 24,2; 39,1., tetapi manusia itu sendiri diciptakan untuk melayani Allah, untuk mencintai-Nya dan untuk mempersembahkan seluruh ciptaan kepada-Nya:
"Makhluk manakah yang diciptakan dengan martabat yang demikian itu? Itulah manusia, sosok yang agung, yang hidup dan patut dikagumi, yang dalam mata Allah lebih bernilai daripada segala makhluk. Itulah manusia; untuk dialah langit dan bumi dan lautan dan seluruh ciptaan. Allah sebegitu prihatin dengan keselamatannya, sehingga Ia tidak menyayangi Putera-Nya yang tunggal untuk dia. Allah malahan tidak ragu-ragu, melakukan segala sesuatu, supaya menaikkan manusia kepada diri-Nya dan memperkenankan ia duduk di sebelah kanan-Nya" (Yohanes Krisostomus, Serm. in Gen. 2,1).
| | 359. | "Sesungguhnya hanya dalam misteri Sabda yang menjelmalah misteri manusia benar-benar menjadi jelas" (GS 22,1).
"Rasul Paulus berbicara mengenai dua manusia, yang merupakan asal-usul umat manusia: Adam dan Kristus... Paulus mengatakan: 'Adam, manusia pertama, menjadi makhluk hidup duniawi. Adam terakhir menjadi Roh yang menghidupkan'. Yang pertama diciptakan oleh Yang terakhir, dan juga mendapat jiwa dari Dia, supaya ia menjadi hidup... Adam terakhir inilah, yang mengukir citra-Nya atas yang pertama waktu pembentukan. Karena itulah, maka ia menerima sosok tubuhnya dan menerimanya, supaya Ia tidak kehilangan, apa yang Ia jadikan menurut citra-Nya. Adam pertama, Adam terakhir: Yang pertama mempunyai awal, yang terakhir tidak mempunyai akhir, karena yang terakhir ini sebenarnya yang pertama. Dialah yang mengatakan 'Aku adalah Alfa dan Omega'" (Petrus Krisologus, sermo 117).
| | 360. | Umat manusia merupakan satu kesatuan karena asal yang sama. Karena Allah "menjadikan dari satu orang saja semua bangsa dan umat manusia" (Kis 17:26) Bdk. Tob 8:6..
Pandangan yang menakjubkan, yang memperlihatkan kepada kita umat manusia dalam kesatuan asal yang sama dalam Allah... dalam kesatuan kodrat, bagi semua disusun sama dari badan jasmani dan jiwa rohani yang tidak dapat mati dalam kesatuan tujuan yang langsung dan tugasnya di dunia; dalam kesatuan pemukiman di bumi, dan menurut hukum kodrat semua manusia berhak menggunakan hasil-hasilnya, supaya dengan demikian bertahan dalam kehidupan dan berkembang; dalam kesatuan tujuan adikodrati: Allah sendiri, dan semua orang berkewajiban untuk mengusahakannya: dalam kesatuan daya upaya, untuk mencapai tujuan ini;... dalam kesatuan tebusan, yang telah dilaksanakan Kristus untuk semua orang" (Pius XII Ens. "Summi Pontificatus") Bdk. NA 1.
| | 361. | "Hukum solidaritas dan cinta ini" (ibid.) menegaskan bagi kita, bahwa kendati keaneka-ragaman pribadi, kebudayaan dan bangsa, semua manusia adalah benar-benar saudara dan saudari.
| | 362. | Pribadi manusia yang diciptakan menurut citra Allah adalah wujud jasmani sekaligus rohani. Teks Kitab Suci mengungkapkan itu dalam bahasa kiasan, apabila ia mengatakan: "Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup" (Kej 2:7). Manusia seutuhnya dikehendaki Allah.
| | 363. | Dalam Kitab Suci istilah jiwa sering berarti kehidupan manusia Bdk. Mat 16:25-26; Yoh 15:13. atau seluruh pribadi manusia Bdk. Kis 2:41.. Tetapi ia berarti juga unsur terdalam pada manusia Bdk. Mat 26:38; Yoh 12:27., yang paling bernilai padanya Bdk. Mat 10:28; 2 Mak 6:30., yang paling mirip dengan citra Allah: "Jiwa" adalah prinsip hidup rohani dalam manusia.
| | 364. | Tubuh manusia mengambil bagian pada martabat keberadaan "menurut citra Allah": ia adalah tubuh manusiawi karena ia dijiwai oleh jiwa rohani. Pribadi manusiawi secara menyeluruh sudah ditentukan menjadi kenisah Roh dalam Tubuh Kristus Bdk. 1 Kor 6:19-20; 15:44-45..
"Manusia, yang satu jiwa maupun raganya, melalui kondisi badaniahnya sendiri menghimpun unsur-unsur dunia jasmani dalam dirinya, sehingga melalui dia unsur-unsur itu mencapai tarafnya tertinggi, dan melambungkan suaranya untuk dengan bebas memuliakan Sang Pencipta. Oleh karena itu manusia tidak boleh meremehkan hidup jasmaninya; tetapi sebaliknya, ia wajib memandang baik serta layak dihormati badannya sendiri, yang diciptakan oleh Allah dan harus dibangkitkan pada hari terakhir" (GS 14, 1).
| | 365. | Kesatuan jiwa dan badan begitu mendalam, sehingga jiwa harus dipandang sebagai "bentuk" badan , artinya jiwa rohani menyebabkan, bahwa badan yang dibentuk dari materi menjadi badan manusiawi yang hidup. Dalam manusia, roh dan materi bukanlah dua kodrat yang bersatu, melainkan kesatuan mereka membentuk kodrat yang satu saja.
| | 366. | Gereja mengajarkan bahwa setiap jiwa rohani langsung diciptakan Allah Bdk. Pius XII. Ens. "Humani generis" 1950: DS 3896; SPF 8. - ia tidak dihasilkan oleh orang-tua - dan bahwa ia tidak dapat mati Bdk. Konsili Lateran V 1513: DS 1440.: ia tidak binasa, apabila pada saat kematian ia berpisah dari badan, dan ia akan bersatu lagi dengan badan baru pada hari kebangkitan.
| | 367. | Kadang kata jiwa dibedakan dengan roh. Santo Paulus berdoa demikian: "Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya, dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus" (1 Tes 5:23). Gereja mengaiarkan bahwa perbedaan ini tidak membagi jiwa menjadi dua Bdk. Konsili Konstantinopel IV, 870: DS 657.. Dengan "roh" dimaksudkan bahwa manusia sejak penciptaannya diarahkan kepada tujuan adikodratinya Bdk. Konsili Vatikan 1: DS 3005; GS 22,5. dan bahwa jiwanya dapat diangkat ke dalam persekutuan dengan Allah Bdk. Pius XII, Ens. "Humani generis" 1950: DS 3891. karena rahmat.
| << >>
|