KITAB SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja Katolik |
|
|
Katekismus Gereja Katolik
| 376. | Oleh sinar rahmat ini kehidupan manusiawi diperkuat menurut segala aspek. Selama manusia tinggal dalam hubungan erat dengan Allah ia tidak perlu mati Bdk. Kej 2:17; 3:19. atau bersengsara Bdk. Kej 3:16., Keselarasan batin dari pribadi manusiawi, keselarasan antara pria dan wanita Bdk. Kej 2:25., dan keselarasan antara pasangan suami isteri pertama dan seluruh ciptaan merupakan keadaan yang dinamakan "keadilan purba".
| | 377. | "Kekuasaan" atas dunia yang diberikan oleh Allah kepada manusia sejak awal, dilaksanakan pada tempat pertama sekali di dalam manusia itu sendiri yaitu kekuasaan atas diri sendiri. Manusia dalam seluruh kodratnya utuh dan teratur, karena ia bebas dari tiga macam hawa nafsu Bdk. 1 Yoh 2:16., yang membuat dia menjadi hamba kenikmatan hawa nafsu, ketamakan akan harta duniawi, dan penonjolan diri yang bertentangan dengan petunjuk akal budi.
| | 378. | Bukti hubungan baik dengan Allah ialah bahwa Allah menempatkan manusia dalam "kebun" Bdk. Kej 2:8.. Ia hidup di dalamnya "untuk mengusahakan dan memelihara" taman itu (Kej 2:15). Pekerjaan itu untuk pria dan wanita bukan kerja paksa Bdk. Kej 3:17-19., melainkan kerja sama dengan Allah demi penyempurnaan ciptaan yang kelihatan.
| | 379. | Seluruh keselarasan keadilan purba, yang rencana Allah persiapkan untuk manusia, hilang karena dosa nenek moyang kita.
| | 380. | "Engkau menjadikan manusia menurut gambaran-Mu, Engkau menyerahkan kepadanya tugas menguasai alam raya; agar dengan demikian dapat mengabdi kepada-Mu, satu-satunya Pencipta" (MR, Doa Syukur Agung IV 118).
| | 381. | Manusia sudah ditentukan untuk mencerminkan dengan setia citra Putera Allah yang menjadi manusia - "gambar Allah yang tidak kelihatan " (Kol 1:15) - supaya Kristus menjadi yang sulung di antara banyak saudara Bdk. Ef 1:3-6; Rm 8:29.
| | 382. | Manusia adalah "satu jiwa maupun raganya" (GS 14, 1). Ajaran iman mengatakan bahwa jiwa yang rohani dan tidak dapat mati langsung diciptakan oleh Allah.
| | 383. | "Allah tidak menciptakan manusia seorang diri: sebab sejak awal mula 'Ia menciptakan mereka pria dan wanita' (Kej 1:27). Rukun hidup mereka merupakan bentuk pertama persekutuan antar pribadi - pribadi (GS 12,4).
| | 384. | Wahyu memperlihatkan kepada kita keadaan kekudusan dan keadilan asli pria dan wanita sebelum berdosa. Dari persahabatannya dengan Allah muncullah kebahagiaan hidup mereka dalam firdaus.
| | 385. | Allah itu baik secara tak terbatas dan segala karya-Nya baik. Namun tidak ada seorang yang luput dari pengalaman penderitaan, kebobrokan alami - yang rupanya sudah termasuk keterbatasan ciptaan - dan terutama tidak seorang pun dapat mengelak masalah kejahatan moral. Dari manakah datangnya kejahatan? "Aku bertanya-tanya mengenai awal kejahatan, tetapi tidak menemukan jalan keluar" demikian santo Agustinus (conf. 7,7,11), dan pencariannya yang menyedihkan hati, baru akan mendapat jalan keluar dalam pertobatannya kepada Allah yang hidup. "Kuasa rahasia kedurhakaan" (2 Tes 2:7) hanya menyingkapkan diri dalam cahaya "rahasia iman" (1 Tim 3:16). Wahyu cinta ilahi yang terjadi dalam Kristus menunjukkan sekaligus banyaknya dosa dan melimpahnya rahmat Bdk. Rm 5:20.. Kalau kita menghadapi pertanyaan mengenai awal kejahatan, kita juga harus mengarahkan pandangan iman kita kepada Dia, yang mengalahkannya Bdk. Luk 11:21-22; Yoh 16:11; 1 Yoh 3:8.
| | 386. | Dalam sejarah manusia dosa itu hadir. Orang akan berusaha dengan sia-sia untuk tidak melihatnya atau untuk memberikan nama lain kepada kenyataan gelap ini. Supaya mengerti, apa sebenarnya dosa itu, orang lebih dahulu harus memperhatikan hubungan mendalam antara manusia dan Allah. Kalau orang tidak memperhatikan hubungan ini, kejahatan dosa tidak akan dibuka kedoknya dalam arti yang sebenarnya - sebagai penolakan Allah, sebagai pemberontakan terhadap-Nya - walaupun ia tetap membebani kehidupan dan sejarah manusia.
| | 387. | Hanya dalam terang wahyu ilahi orang melihat, apa itu dosa, terutama dosa asal. Wahyu ini memberi kepada kita pengetahuan mengenai Allah, dan tanpa itu orang tidak akan melihat dosa dengan jelas dan akan digoda untuk menjelaskan dosa sebagai satu gangguan dalam pertumbuhan, satu kelemahan jiwa, satu kesalahan atau sebagai akibat otomatis dari satu struktur masyarakat yang salah. Hanya kalau mengetahui, untuk mana Allah telah menentukan manusia, orang dapat mengerti bahwa dosa adalah penyalah-gunaan kebebasan, yang Allah berikan kepada makhluk yang berakal budi, supaya mereka dapat mencintai-Nya dan mencintai satu sama lain.
| | 388. | Dengan kemajuan wahyu, kenyataan dosa pun diterangi. Walaupun Umat Allah Perjanjian Lama dalam cahaya kisah dosa pertama yang diceriterakan dalam buku Kejadian, mengenal sedikit keadaan manusia, ia toh tidak dapat mengerti arti terdalam kisah ini; arti itu baru nyata dalam cahaya kematian dan kebangkitan Yesus Kristus Bdk. Rm 5:12-21.. Orang harus mengenal Kristus sebagai sumber rahmat untuk mengerti Adam sebagai sumber dosa. Roh Kudus, yang diutus Kristus yang bangkit untuk kita, sudah datang, "supaya menginsyafkan dunia akan dosa" (Yoh 16:8), dengan mewahyukan Dia, yang menyelamatkan dari dosa.
| | 389. | Ajaran mengenai dosa asal boleh dikatakan "sisi gelap" dari warta gembira bahwa Yesus adalah Penebus segala manusia, bahwa semua orang membutuhkan keselamatan dan bahwa berkat Kristus keselamatan ditawarkan kepada semua orang. Gereja yang mengetahui "pikiran Kristus" Bdk. 1 Kor 2:16. menyadari dengan jelas bahwa orang tidak dapat mempersoalkan wahyu tentang dosa asal, tanpa membahayakan misteri Kristus.
| << >>
|