Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki,( 67, 834 / 883-901)
SEJARAH PAUS

Ensiklik & Surat Paus

Dokumen KV 2

No: masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak) 

Katekismus Gereja Katolik
Katekismus Gereja Katolik
www.imankatolik.or.id
Cari Kata dalam KGK
www.imankatolik.or.id
Nomor:
masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901
Kata:
masukkan kata yang akan dicari untuk
menunjukkan no. katekismus

40.Karena pengetahuan kita tentang Allah itu terbatas, maka pembicaraan kita tentang Allah pun demikian juga. Kita hanya dapat berbicara tentang Allah dari sudut pandang ciptaan dan sesuai dengan cara mengerti dan cara berpikir manusiawi kita yang terbatas.

41.Segala makhluk menunjukkan keserupaan tertentu dengan Allah, terutama manusia yang diciptakan menurut citra Allah. Karena itu, aneka ragam kesempurnaan makhluk ciptaan (kebenarannya, kebaikannya, keindahannya) mencerminkan kesempurnaan Allah yang tidak terbatas. Maka, berdasarkan kesempurnaan makhluk ciptaan, kita dapat membuat pernyataan tentang Allah "sebab orang dapat mengenal Khalik dengan membanding-bandingkan kebesaran dan keindahan ciptaan-ciptaan-Nya" (Keb 13:5).

42.Allah itu agung melebihi setiap makhluk. Karena itu, kita harus membersihkan pembicaraan kita tentang Dia terus-menerus dari segala keterbatasan, dari segala gambaran, dari segala ketidaksempurnaan, supaya jangan menggantikan Allah "yang tidak terucapkan, yang tidak dimengerti, yang tidak kelihatan, yang tidak dibayangkan" (Liturgi santo Yohanes Kristostomus, Doa Syukur Agung) dengan gambaran-gambaran manusiawi kita tentang Dia. Kata-kata manusiawi kita tidak pernah akan mencapai misteri Allah.

43.Kalau kita berbicara tentang Allah dengan cara demikian, maka bahasa kita memang mengungkapkan diri secara manusiawi, namun dengan sebenarnya menyangkut Allah sendiri, walaupun tidak mampu menyatakan Dia dalam kesederhanaan-Nya yang tidak terbatas. Kita harus sadar, bahwa "antara Pencipta dan ciptaan tidak dapat dinyatakan satu keserupaan tanpa menegaskan satu ketidakserupaan yang lebih besar lagi" (Konsili Lateran 4: DS 806). "Mengenai Allah kita tidak dapat memahami Siapa Dia, tetapi hanya Siapa yang bukan Dia, dan bagaimana semua makhluk yang lain berhubungan dengan Dia" (Tomas Aqu., s.gent. 1,30).

44.Manusia menurut kodrat dan panggilannya adalah makhluk religius. Karena ia datang dari Allah dan berjalan menuju Allah, maka hanya dalam hubungan sukarela dengan Allah, manusia dapat menghayati kehidupan manusiawi yang utuh.

45.Manusia diciptakan, supaya hidup dalam persatuan dengan Allah, di mana ia menemukan kebahagiaannya: "Kalau saya akan menggantungkan diri kepada-Mu dengan seluruh kepribadianku, maka tidak akan ada lagi kesedihan dan kesusahan yang meresahkan aku, dan kehidupanku yang seluruhnya dipenuhi oleh Engkau barulah menjadi kehidupan yang sebenarnya" (Agustinus, conf. 10,28,39).

46.Apabila manusia mendengarkan kabar makhluk-makhluk ciptaan dan suara hati nuraninya, ia dapat sampai kepada kepastian bahwa Allah berada sebagai sebab dan tujuan dari segala-galanya.

47.Gereja mengajarkan bahwa Allah yang satu-satunya dan yang benar, pencipta dan Tuhan kita, dapat diketahui dengan pasti dari segala karya-Nya, berkat sinar kodrati akal budi kita Bdk. Konsili Vatikan 1: DS 3026..

48.Dengan sesungguhnya kita dapat berbicara tentang Allah, apabila kita bertitik tolak dari aneka ragam kesempurnaan makhluk ciptaan, yang olehnya mereka menjadi serupa dengan kesempurnaan Allah yang tidak terbatas. Namun bahasa kita yang terbatas, tidak dapat menyelami seluruh misteri-Nya.

49."Tanpa Sang Pencipta makhluk lenyap menghilang" (GS 36). Karena itu kaum beriman didorong oleh cinta Kristus untuk membawa terang Allah yang menghidupkan kepada mereka, yang tidak mengenal-Nya atau menolak-Nya.

50.Dengan bantuan budi kodratinya, manusia dapat mengenalAllah dengan pasti dari segala karya-Nya. Namun masih ada lagi satu tata pengetahuan, yang tidak dapat dicapai manusia dengan kekuatannya sendiri: yakni wahyu ilahi Bdk. Konsili Vat I: DS 3015.. Melalui keputusan yang sama sekali bebas, Allah mewahyukan dan memberikan Diri kepada manusia, dan menyingkapkan rahasia-Nya yang paling dalam, keputusan-Nya yang berbelas kasih, yang Ia rencanakan sejak keabadian di dalam Kristus untuk semua manusia. Ia menyingkapkan rencana keselamatan-Nya secara penuh, ketika Ia mengutus Putera-Nya yang terkasih, Tuhan kita Yesus Kristus dan Roh Kudus. 36, 1066.

51."Dalam kebaikan dan kebijaksanaan-Nya Allah berkenan mewahyukan diri-Nya dan memaklumkan rahasia kehendak-Nya; berkat rahasia itu manusia dapat menghadap Bapa melalui Kristus, Sabda yang menjadi daging, dalam Roh Kudus, dan ikut serta dalam kodrat ilahi" (DV 2).

52.Allah "yang bersemayam dalam terang yang tak terhampiri" (1 Tim 6:16) hendak menyampaikan kepada manusia, yang Ia ciptakan dalam kebebasan, kehidupan ilahi-Nya sendiri, supaya melalui Putera-Nya yang tunggal Ia mengangkat mereka menjadi anak-anak-Nya Bdk. Ef 1:4-5.. Dengan mewahyukan Diri, Allah hendak menyanggupkan manusia untuk memberi jawaban kepada-Nya, mengakui-Nya dan mencintai-Nya atas cara yang jauh melampaui kemampuan manusia itu sendiri.

53.Keputusan wahyu ilahi itu diwujudkan "dalam perbuatan dan perkataan yang bertalian batin satu sama lain" (DV2). Di dalamnya tercakup "kebijaksanaan mendidik" ilahi yang khas: Allah menyatakan Diri secara bertahap kepada manusia; Ia mempersiapkan manusia secara bertahap untuk menerima wahyu diri-Nya yang adikodrati, yang mencapai puncaknya dalam pribadi dan perutusan Yesus Kristus, Sabda yang menjadi manusia.
Dengan menggunakan kiasan bahwa Allah dan manusia seakan-akan saling membiasakan diri satu sama lain, santo Ireneus dari Lyon berbicara berulang kali tentang pedagogi ilahi ini. "Sabda Allah berdiam dalam manusia dan menjadi putera manusia, supaya manusia membiasakan diri untuk menerima Allah, dan Allah membiasakan diri untuk tinggal dalam manusia seturut perkenanan Bapa" (haer. 3,20,2) Bdk. misalnya haer. 3,17,1; 4,12,4; 4,21,3..

<<   >>