KITAB SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja Katolik |
|
|
Katekismus Gereja Katolik
| 451. | Gelar "Tuhan" memberi kepada doa Kristen warnanya sendiri. Kita ingat saja akan undangan untuk berdoa "Tuhan sertamu" atau akan penutup doa "demi Yesus Kristus.... Tuhan kami" atau juga akan seruan penuh iman dan harapan "Maran atha" [Tuhan datang] atau "Mar?na tha" [Datanglah ya Tuhan] (1 Kor 16:22). "Amin. Datanglah, Tuhan Yesus!" (Why 22:20).
| | 452. | Nama "Yesus" berarti "Allah membebaskan". Anak Perawan Maria dinamakan "Yesus", karena "Ia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka " (Mat 1:21). "Di bawah kolong langit tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kis 4:12).
| | 453. | "Kristus" berarti "yang diurapi", "Mesias". Yesus adalah Kristus, "karena Allah mengurapi Yesus dengan Roh Kudus dan kuat kuasa" (Kis 10:38). Ia adalah Dia "yang akan datang" (Luk 7:19), "harapan Israel" (Kis 28:20).
| | 454. | "Putera Allah" menyatakan hubungan unik dan abadi dari Yesus Kristus dengan Allah, Bapa-Nya: Dialah Putera Bapa yang tunggal Bdk. Yoh 1:14.18; 3:16.18., malahan Ia sendiri Allah Bdk. Yoh 1:1.. Sebagai seorang Kristen, orang harus percaya bahwa Yesus Kristus adalah Putera Allah Bdk. Kis 8:37; 1 Yoh 2:23.
| | 455. | "Tuhan" menyatakan kekuasaan penguasa ilahi. Mengakui Yesus sebagai Tuhan atau berseru kepada-Nya berarti percaya kepada ke Allah-an-Nya. "Tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: 'Yesus adalah Tuhan', selain oleh Roh Kudus" (1 Kor 12:3).
| | 456. | Kita menjawab, dengan mengakui bersama Syahadat Nisea-Konstantinopel: "Ia turun dari surga untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita, menjadi daging oleh Roh Kudus dari Perawan Maria dan menjadi manusia".
| | 457. | Sabda menjadi manusia, untuk mendamaikan kita dengan Allah dan dengan demikian menyelamatkan kita: Allah "telah mengasihi kita dan telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita" (1 Yoh 4:10). Kita tahu bahwa "Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juru Selamat dunia" (1 Yoh 4:14), bahwa "Ia telah menyatakan Diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa" (1 Yoh 3:5):
"Kodrat kita yang sakit membutuhkan dokter; manusia yang jatuh membutuhkan orang yang mengangkatnya kembali; yang kehilangan kehidupan membutuhkan seorang yang memberi hidup; yang kehilangan hubungan dengan yang baik membutuhkan seorang yang membawanya kembali kepada yang baik; yang tinggal dalam kegelapan merindukan kedatangan sinar; yang tertawan merindukan seorang penyelamat, yang terbelenggu seorang pelepas, yang tertekan di bawah kuk perhambaan memerlukan seorang pembebas. Bukankah itu hal-hal yang cukup berarti dan penting untuk menggerakkan Allah, sehingga Ia turun bagaikan seorang dokter yang mengunjungi kodrat manusiawi, setelah umat manusia terjerat dalam situasi yang sangat menyedihkan dan memprihatinkan" (Gregorius dari Nisa or.catech. 14).
| | 458. | Sabda sudah menjadi manusia, supaya dengan demikian kita mengenal cinta Allah: "Kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dunia, supaya kita hidup oleh-Nya" (1 Yoh 4:9). "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yoh 3:16).
| | 459. | Sabda menjadi manusia, untuk menjadi contoh kekudusan bagi kita: "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku" (Mat 11:29). "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yoh 14:6). Dan di atas gunung transfigurasi, Bapa memerintah: "Dengarkanlah Dia" (Mrk 9:7) Bdk. Ul 6:4-5.. Yesus adalah gambaran inti dari sabda bahagia dan norma hukum yang baru: "Supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu" (Yoh 15:12). Kasih ini menuntut penyerahan diri sendiri, dengan mengikutinya Bdk. Mrk 9:34.
| | 460. | Sabda menjadi manusia, supaya kita "mengambil bagian dalam kodrat ilahi" (2 Ptr 1:4): "Untuk itulah Sabda Allah menjadi manusia, dan Anak Allah menjadi anak manusia, supaya manusia menerima Sabda dalam dirinya, dan sebagai anak angkat, menjadi anak Allah" (Ireneus, haer. 3,19,1). Sabda Allah "menjadi manusia, supaya kita di-ilahi-kan" (Atanasius, inc. 54,3). "Karena Putera Allah yang tunggal hendak memberi kepada kita bagian dalam ke-Allah-an-Nya, Ia menerima kodrat kita, menjadi manusia, supaya mengilahikan manusia" (Tomas Aqu., opusc. 57 in festo Corp. Chr. 1).
| | 461. | Dengan menggunakan ungkapan santo Yohanes ("Verbum caro factum est - Sabda telah menjadi daging": Yoh 1:14) Gereja menggunakan istilah "inkarnasi" [menjadi daging] untuk peristiwa Putera Allah mengambil kodrat manusiawi, supaya dengan demikian dapat melaksanakan keselamatan kita. Dalam satu madah yang dikutip oleh santo Paulus, Gereja memuji rahasia inkarnasi itu:
"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, tetapi telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Flp 2:5-8) Bdk. LH, Kidung Ibadat Sore I Hari Minggu.
| | 462. | Surat kepada umat Ibrani berbicara tentang misteri yang sama:
"Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: 'Kurban dan persembahan tidak Engkau kehendaki - tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku -. Kepada kurban bakaran dan kurban penghapus dosa Engkau tidak berkenan. Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang... untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku' " (Ibr 10:5-7; dengan mengutip Mzm 40:7-9 LXX).
| | 463. | Kepercayaan akan penjelmaan Putera Allah menjadi manusia adalah tanda pengenal iman Kristen yang paling khas: "Demikianlah kita mengenal Roh Allah: Setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah" (1 Yoh 4:2). Itulah sejak awal mula keyakinan Gereja yang menggembirakan. Gereja menyanyikan "Sungguh agunglah rahasia ibadah kita": "Ia telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia" (1 Tim 3:16).
| | 464. | Peristiwa inkarnasi Putera Allah yang unik dan yang terjadi hanya satu kali, tidak berarti bahwa Yesus Kristus sebagiannya Allah dan sebagiannya manusia atau bahwa peristiwa itu merupakan pencampur-adukan yang tidak jelas antara yang ilahi dan yang manusiawi. Ia dengan sesungguhnya telah menjadi manusia dan sementara itu Ia tetap Allah dengan sesungguhnya. Yesus Kristus adalah Allah benar dan manusia benar. Selama abad-abad pertama Gereja harus membela dan menjelaskan kebenaran iman ini terhadap bidah yang menafsirkannya secara salah.
| | 465. | Bidah-bidah pertama kurang mengakui ke-Allah-an Kristus daripada kemanusiaan-Nya yang benar [Doketisme gnostis]. Sudah sejak waktu para Rasul, iman Kristen menegaskan inkarnasi benar dari Putera Allah, yang "datang mengenakan daging" Bdk. 1 Yoh 4:2-3; 2 Yoh 7.. Tetapi dalam abad ke-3 Gereja sudah harus menegaskan, dalam konsili yang berkumpul di Antiokia melawan Paulus dari Samosata, bahwa Yesus Kristus adalah Putera Allah menurut kodrat-Nya dan bukan melalui adopsi. Dalam Kredonya konsili ekumenis pertama tahun 325, Konsili Nisea, mengakui, bahwa Putera Allah "dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat (homousios] dengan Bapa". Ia menghukum Arius, yang menyatakan bahwa "Putera Allah ada dari ketiadaan" (DS 130) dan "dari substansi atau hakikat yang lain" daripada Bapa (DS 126).
| | 466. | Bidah Nestorian melihat dalam Kristus satu pribadi manusiawi yang digabungkan dengan Pribadi Putera Allah yang ilahi. Untuk melawan ajaran salah ini, santo Sirilus dari Aleksandria dan konsili ekumenis ketiga yang berkumpul di Efesus pada tahun 431 mengakui bahwa "Sabda menjadi manusia... dengan cara mempersatukan daging yang dijiwai jiwa berakal dengan diri-Nya sendiri menurut hupostasis [pribadi]" (DS 250). Kodrat manusiawi Kristus tidak memiliki subyek lain kecuali pribadi ilahi Putera Allah, yang menerimanya dan sudah menjadikannya milik-Nya pada waktu Ia dikandung. Karena itu, konsili yang sama mengumumkan bahwa Maria, karena ia mengandung Putera Allah dalam rahimnya, benar-benar menjadi "Yang melahirkan Allah", "bukan karena kodrat Sabda atau dengan lebih tepat ke-Allah-an-Nya menerima awal keberadaan-Nya dari perawan yang kudus, melainkan karena tubuh kudus yang dijiwai dengan jiwa yang berakal budi dilahirkan dari dia; dengan tubuh itu Sabda mempersatukan diri menurut hupostasis [pribadi] dan karena itu dikatakan tentang Dia bahwa Ia dilahirkan menurut daging" (DS 251).
| | 467. | 'Monofisitisme' mengatakan bahwa kodrat manusiawi terlebur dalam Kristus, ketika kodrat itu diterima oleh Pribadi ilahi-Nya, oleh Putera Allah. Konsili ekumenis keempat yang berkumpul di Kalsedon pada tahun 451 menjelaskan melawan bidah ini:
"Sambil mengikuti para bapa yang kudus kami semua sepakat untuk mengajarkan, untuk mengakui Tuhan kita Yesus Kristus sebagai Putera yang satu dan sama; yang sama itu sempurna dalam ke-Allah-an dan yang sama sempurna dalam kemanusiaan; yang sama itu sungguh Allah dan sungguh manusia dari jiwa yang berakal budi dan dari tubuh; yang sama menurut ke-Allah-an-Nya sehakikat dengan Bapa dan menurut kemanusiaan-Nya sehakikat dengan kita, 'sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa' (Ibr 4:15). Yang sama pada satu pihak menurut ke-Allah-an-Nya dilahirkan dari Bapa sebelum segala waktu, di lain pihak menurut kemanusiaan-Nya dalam hari-hari terakhir karena kita dan demi keselamatan kita, dilahirkan dari Maria, perawan [dan] Bunda Allah.
Yang satu dan sama itu adalah Kristus, Putera tunggal dan Tuhan, yang diakui dalam dua kodrat, tidak tercampur, tidak berubah, tidak terpisah dan tidak mungkin dibagi-bagikan, di mana perbedaan kodrat tidak dihilangkan karena persatuan, tetapi kekhususan dari tiap kodrat itu dipertahankan dan mempersatukan diri dalam satu pribadi dan dalam satu hupostasis" (DS 301-302).
| | 468. | Sesudah Konsili Kalsedon, beberapa orang menafsirkan kodrat manusiawi Kristus seperti semacam pribadi yang berdiri sendiri. Melawan mereka konsili ekumenis kelima yang berkumpul di Konstantinopel pada tahun 553 mengakui dalam hubungan dengan Kristus, "satu hupostasis [pribadi] ialah Tuhan Yesus Kristus, yang adalah satu dari Tritunggal Maha Kudus" (DS 424). Dengan demikian, segala sesuatu yang ada pada kodrat manusiawi Kristus harus dikenakan kepada Pribadi ilahi-Nya sebagai pembawa-Nya yang sebenarnya Bdk. Konsili Efesus: DS 255., bukan hanya mukjizat-mukjizat melainkan juga penderitaan Bdk. DS 424. dan malahan juga kematian, karena "Tuhan Yesus Kristus yang disalibkan dalam daging adalah sungguh Allah dan Tuhan kemuliaan dan satu dari Tritunggal Maha Kudus" (DS 432).
| << >>
|