Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki,( 67, 834 / 883-901)
SEJARAH PAUS

Ensiklik & Surat Paus

Dokumen KV 2

No: masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak) 

Katekismus Gereja Katolik
Katekismus Gereja Katolik
www.imankatolik.or.id
Cari Kata dalam KGK
www.imankatolik.or.id
Nomor:
masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901
Kata:
masukkan kata yang akan dicari untuk
menunjukkan no. katekismus

1138.Dalam pelayanan pemujaan Allah dan dalam penyelesaian rencana-Nya, turut serta semua orang yang dihimpun kembali di bawah Kristus sebagai Kepala : kekuatan-kekuatan surgawi Bdk. Why 4-5; Yes 6:2-3., seluruh ciptaan (di dalam buku Wahyu dinyatakan oleh empat makhluk hidup), pelayan Perjanjian Lama dan Baru (kedua puluh empat tua-tua), umat Allah yang baru (seratus empat puluh empat ribu Bdk. Why 7:1-8; 14:1.), terutama mereka yang telah dibunuh demi Sabda Allah 4Bdk. Why 6:9-11., dan Bunda Allah yang kudus (wanita Bdk. Why 12., mempelai Anak Domba Bdk. Why 21:9.), dan akhirnya "suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa" (Why 7:9).

1139.Roh dan Gereja menyanggupkan kita mengambil bagian dalam liturgi abadi ini, apabila kita merayakan misteri keselamatan dalam Sakramen-sakramen.

1140.Seluruh jemaat, Tubuh yang bersatu dengan Kristus, Kepalanya, merayakannya. "Upacara-upacara liturgi bukanlah tindakan perorangan, melainkan perayaan Gereja sebagai Sakramen kesatuan, yakni umat kudus yang berhimpun dan diatur di bawah para Uskup. Maka upacara-upacara itu menyangkut seluruh Tubuh Gereja dan menampakkan serta mempengaruhinya; sedangkan masing-masing anggota disentuhnya secara berlain-lainan, menurut keanekaan tingkatan, tugas, serta keikutsertaan aktual mereka" (SC 26). Karena itu berlakulah: "Setiap kali suatu upacara, menurut hakikatnya yang khas, diselenggarakan sebagai perayaan bersama, dengan dihadiri banyak umat yang ikut serta secara aktif, hendaknya ditandaskan, agar bentuk itu sedapat mungkin diutamakan terhadap upacara perseorangan yang seolah-olah bersifat pribadi" (SC 27).

1141.Jemaat yang merayakan adalah persekutuan orang yang dibaptis, yang "karena kelahiran kembali dan pengurapan Roh Kudus disucikan menjadi kediaman rohani dan imamat suci, untuk sebagai orang kristiani... mempersembahkan kurban rohani" (LG 10). "Imamat bersama" ini adalah imamat Kristus, imam satu-satunya, dalamnya semua anggota-Nya mengambil bagian Bdk. LG 10; 34; PO 2.
"Bunda Gereja sangat menginginkan, supaya semua orang beriman dibimbing ke arah keikutsertaan yang sepenuhnya, sadar dan aktif dalam perayaan-perayaan liturgi. Keikutsertaan seperti itu dituntut oleh hakikat liturgi sendiri, dan berdasarkan Baptis merupakan hak serta kewajiban Umat kristiani sebagai bangsa terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, Umat kepunyaan Allah sendiri (1Ptr 2:9) Bdk. 1Ptr 2:4-5." (SC 14).

1142.Tetapi "tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama" (Rm 12:4). Beberapa anggota dipanggil oleh Allah di dalam dan melalui Gereja untuk pelayanan khusus bagi jemaat. Pelayan-pelayan ini dipilih dan ditahbiskan melalui Sakiamen Tahbisan. Dengan itu, Roh Kudus memungkinkan mereka supaya bertindak atas nama pribadi Kristus, Kepala, untuk melayani semua anggota Gereja Bdk. PO 2 dan 15.. Pejabat tertahbis adalah bagaikan "ikon" Kristus, Imam. Dalam Ekaristi, Sakramen Gereja tampil sepenuhnya; karena itu jabatan Uskup mendapat perwujudannya yang istimewa kalau ia memimpin perayaan Ekaristi dan dalam persekutuan dengan dia, jabatan para imam dan diaken.

1143.Masih ada lagi pelayan-pelayan khusus lain untuk melayani imamat bersama para umat beriman. Yang ditugaskan untuk itu tidak menerima Sakramen Tahbisan; tugas mereka ditentukan oleh Uskup sesuai dengan tradisi liturgi dan kebutuhan pastoral. "Juga para pelayan misa (putera altar), lektor, para komentator, dan anggota paduan suara, benar-benar menjalankan pelayanan liturgis" (SC 29).

1144.Dengan demikian waktu perayaan Sakramen-sakramen, seluruh himpunan adalah "selebran" [yang merayakan], setiap orang sesuai dengan tugasnya, tetapi dalam "kesatuan roh", yang bekerja di dalam semua mereka. "Pada perayaan-perayaan liturgi setiap anggota, entah pejabat entah umat, hendaknya dalam menunaikan tugas hanya menjalankan, dan melakukan seutuhnya, apa yang menjadi peranannya menurut hakikat perayaan serta kaidah-kaidah liturgi" (SC 28).

1145.Tanda dan lambang bagaikan benang, yang dengannya perayaan Sakramen ditenun. Sesuai dengan pedagogi keselamatan ilahi, arti dari tanda dan lambang itu berakar dalam karya penciptaan dan dalam kebudayaan manusiawi. Namun ia tampil lebih jelas dalam peristiwa-peristiwa Perjanjian Lama dan menyatakan diri sepenuhnya dalam pribadi dan karya Kristus.

1146.Tanda-tanda dari dunia pengalaman manusia. Dalam kehidupan manusiawi tanda dan lambang mendapat tempat yang penting. Karena manusia itu sekaligus makhluk jasmani dan rohani, ia menyatakan dan menangkap kenyataan-kenyataan rohani melalui tanda dan lambang jasmani. Sebagai makhluk sosial manusia memerlukan tanda dan lambang, supaya melalui bahasa, melalui gerak-gerik, dan kegiatan dapat berhubungan dengan orang lain. Yang sama berlaku untuk hubungannya dengan Allah.

1147.Allah berbicara kepada manusia melalui ciptaan yang tampak. Kosmos material menampilkan diri kepada akal budi manusia, supaya ia melihat di dalamnya jejak-jejak Penciptanya Bdk. Keb 13: 1; Rm 1:19-20; Kis 14:17.. Siang dan malam, angin dan api, air dan bumi, pohon dan buah-buahan berbicara tentang Allah dan melambangkan sekaligus keagungan dan kedekatan-Nya.

1148.Karena mereka diciptakan oleh Allah, maka kenyataan yang dapat ditangkap oleh indera ini menjadi tanda karya Allah, yang menguduskan manusia, dan juga karya manusia yang menyembah Allah. Demikian berlaku pula untuk tanda dan lambang dalam hidup sosial manusia: mencuci dan mengurapi, membagikan roti dan minum dari cawan yang sama dapat menjadi pernyataan kehadiran Allah yang menguduskan dan terima kasih manusia terhadap Penciptanya.

1149.Agama-agama besar umat manusia sering kali memberi kesaksian dengan sangat mengesankan mengenai arti ritus religius yang kosmis dan simbolik ini. Liturgi Gereja membutuhkan, mengintegrasikan, dan menguduskan unsur-unsur ciptaan dan kebudayaan manusia, dengan memberikan kepadanya martabat tanda-tanda rahmat, penciptaan baru dalam Yesus Kristus.

1150.Tanda-tanda perjanjian. Bangsa terpilih menerima dari Allah tanda-tanda dan lambang-lambang khusus, yang menandakan kehidupan liturginya. Mereka bukan lagi hanya gambaran tentang peraturan dalam kosmos dan bukan lagi hanya isyarat-isyarat sosial, melainkan tanda-tanda perjanjian dan lambang karya agung Allah untuk umat-Nya. Penyunatan, pengurapan, dan penahbisan para raja dan para imam, peletakan tangan, persembahan, dan terutama Paska, termasuk tanda-tlanda liturgis Perjanjian Lama ini. Gereja melihat di dalam tanda-tanda ini pratanda Sakramen-sakramen Perjanjian Baru.

1151.Tanda-tanda yang diangkat oleh Kristus. Dalam khotbah-khotbah-Nya Yesus Tuhan sering memakai tanda-tanda dari ciptaan, guna menjelaskan misteri Kerajaan Allah. Bdk. Luk 8:10. Ia menyembuhkan orang dan menopang ajaran-Nya melalui tanda yang kelihatan atau gerakan simbolik. Bdk. Yoh 9:6; Mrk 7:33-35; 8:22-25. Ia memberikan kepada peristiwa-peristiwa dan tanda-tanda Perjanjian Lama, terutama keluaran dari Mesir dan Paska, Bdk. Luk 9:31; 22:7-20. satu arti baru, karena Ia sendiri adalah arti dari semua lambang ini.

1152.Tanda-tanda sakramental. Sejak Pentekosta, Roh Kudus menguduskan dunia melalui tanda-tanda sakramental Gereja-Nya. Sakramen-sakramen Gereja tidak menghapus seluruh kekayaan tanda dan lambang kosmos dan kehidupan sosial, tetapi menyucikan dan mengintegrasikannya. Sekaligus mereka memenuhi apa yang Perjanjian Lama nyatakan lebih dahulu. Mereka melambangkan dan melaksanakan keselamatan yang diperoleh Kristus, mereka menggambarkan lebih dahulu kemuliaan surga dan dalam arti tertentu mengantisipasinya.

1153.Perayaan sebuah Sakramen adalah pertemuan anak-anak Allah dengan Bapanya di dalam Kristus dan Roh Kudus. Pertemuan itu merupakan dialog dan mendapat perwujudannya dalam perbuatan dan perkataan. Memang kegiatan liturgi dengan sendirinya sudah merupakan satu bahasa, tetapi Sabda Allah dan jawaban iman harus mengiringi dan menghidupkan kegiatan ini, supaya Sabda tentang Kerajaan Allah lebih dapat menghasilkan buah di tanah yang baik. Kegiatan liturgi menyatakan melalui tanda-tanda, apa yang Sabda Allah ungkapkan: penawaran rahmat Allah dan serentak jawaban iman umat-Nya.

1154.Ibadat Sabda merupakan bagian yang mutlak perlu dalam perayaan sakramental. Untuk membangkitkan iman umat beriman, tanda-tanda yang mengiringi Sabda Allah, diperjelas: Kitab Suci (buku bacaan atau buku Injil), penghormatannya (arak-arakan, dupa, terang), tempat pewartaan (ambo), pembacaannya yang harus didengarkan dan dimengerti dengan baik, homili yang disampaikan pejabat, yang menjelaskan lebih lanjut isi pewartaan, demikian pula jawaban umat yang hadir (seperti aklamasi, mazmur, litani dan pengakuan iman).

1155.Perkataan liturgi dan perbuatan liturgi sebagai pengajaran dan tanda tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain; juga sebagai perwujudan dari apa yang mereka artikan, mereka tidak terpisahkan. Roh Kudus tidak hanya menuntun menuju pengertian akan Sabda Allah, dengan membangkitkan iman, tetapi melalui Sakramen-sakramen Ia juga mewujudkan karya-karya agung Allah, yang diwartakan Sabda Allah. Ia menghadirkan dan menyampaikan pekerjaan, yang Bapa telah selesaikan melalui Putera-Nya yang kekasih.

1156."Tradisi musik Gereja semesta merupakan kekayaan yang tak terperikan nilainya, lebih gemilang dari ungkapan-ungkapan seni lainnya, terutama karena nyanyian suci yang terikat pada kata-kata merupakan bagian Liturgi meriah yang penting atau integral" (SC 112). Syair-syair dan nyanyian mazmur-mazmur yang diilhami yang sering diiringi oleh alat-alat sudah berkaitan erat dengan perayaan liturgi dalam Pedanjian Lama. Gereja melanjutkan tradisi ini dan mengembangkannya: "Berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian, dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati" (Ef 5:19) Bdk. Kol 3:16-17.. "Yang bermadah, berdoa ganda" Bdk. Agustinus, Psal. 72, 1.

1157.Lagu dan musik memenuhi fungsinya sebagai tanda semakin baik,"sejauh ia semakin erat dihubungkan dengan kegiatan liturgi" (SC 112). Untuk itu perlu diperhatikan tiga butir berikut ini: keindahan ungkapan doa, keikutsertaan jemaat yang serasi pada waktu yang sudah ditentukan, dan sifat perayaan yang semarak. Dengan demikian nyanyian dan musik melayani tujuan dari perkataan dan kegiatan liturgi: pemuliaan Allah dan pengudusan umat beriman Bdk. SC 11 2.?
"Betapa aku menangis karena madah dan nyanyianmu, sangat terharu oleh suara yang merdu dalam gerejamu! Suara-suara itu masuk ke dalam telingaku dan meneteskan kebenaran ke dalam hatiku; perasaan-perasaan saleh bergelora di dalamnya, air mataku mengalir, dan aku memperoleh kepuasan hati yang sejati" (Agustinus,. conf. 9,6,14).

1158.Keserasian tanda-tanda (nyanyian, musik, perkataan, dan kegiatan) akan makin berarti dan berhasil, kalau mereka sernakin dikembangkan dalam kekayaan kebudayaan Umat Allah yang merayakannya Bdk SC 119.. Karena itu, "nyanyian rohani umat hendaknya dikembangkan secara ahli, sehingga kaum beriman dapat bernyanyi dalam kegiatan-kegiatan devosional dan perayaan-perayaan ibadat, menurut kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan rubrik" (SC 118). Tetapi "syair-syair bagi nyanyian liturgi hendaknya selaras dengan ajaran Katolik, bahkan terutama hendaklah ditimba dari Kitab Suci dan sumber-sumber liturgi" (SC 121).

1159.Gambar kudus, ikon liturgi, menampilkan Kristus pada tempat yang pertama. Ia tidak dapat menggambarkan Allah yang tidak kelihatan dan tidak dapat dimengerti. Inkarnasi Putera Allah telah membuka satu tata gambar baru:
"Pada mulanya Allah, yang bukan badan, bukan juga rupa, tidak dapat dilukiskan sama sekali melalui gambar. Tetapi sekarang, setelah ia kelihatan dalam daging dan hidup, bersama manusia, saya dapat membuat satu gambar dari apa yang saya lihat dari Allah. Kita memandang kemuliaan Tuhan dengan wajah tak terselubung" (Yohanes dari Damasku, imag. 1,16).

1160.Ikonografi Kristen menampilkan Injil melalui gambar, sama seperti Kitab Suci menyampaikannya melalui sabda. Gambar dan sabda saling menjelaskan:
"Singkatnya, kita mempertahankan segala tradisi Gereja, apakah itu disampaikan kepada kita secara tertulis atau lisan, tanpa merusakkannya dengan pembaharuan. Salah satu tradisi ini adalah lukisan ikon. Karena ia sesuai dengan pewartaan Injil, maka ia berguna bagi kita, untuk memperkuat iman kepada inkarnasi Sabda Allah yang sebenarnya dan bukan khayalan dan untuk menghasilkan keuntungan besar bagi kita. Karena hal-hal yany saling menjelaskan itu... rupa-rupanya mempunyai arti yang sama" (Konsili Nisea II. 787: COD 111).

1161.Semua tanda dari perayaan liturgi menunjuk kepada Kristus, demikian juga, gambar-gambar Bunda Allah tersuci dan para kudus. Mereka adalah tanda tentang Kristus, yang dimuliakan dalam mereka. Di dalam mereka, kita memandang "jumlah besar saksi-saksi" (Ibr 12:1), yang masih tetap memperhatikan keselamatan dunia, dan bersama siapa kita disatukan, terutama dalam perayaan sakramental. Melalui ikon-ikon iman kita melihat manusia yang "diciptakan menurut citra Allah", dan diubah Bdk. Rm 8:29; 1 Yoh 3:2. menjadi serupa dengan Allah, dan malahan para malaikat, yang juga dihimpun di bawah Kristus, Kepala.
"Sambil mengikuti ajaran bapa-bapa suci kita yang mewartakan Allah dan tradisi Gereja Katolik - karena kami tahu bahwa ia berasal dari Roh Kudus yang hidup di dalamnya - kami memutuskan untuk memasang dengan segala ketelitian dan sikap hati-hati, di dalam gereja-gereja Allah yang kudus, di atas perabot-perabot dan pakaian yang kudus, dinding dan papan, rumah dan jalan, demikian juga penempatan salib yang bernilai dan yang membawa kehidupan, memasang gambar-gambar yang patut dimuliakan dan kudus - biar dari cat, batu, atau salah satu bahan yang sesuai - [ini berlaku juga] untuk gambar Tuhan Allah dan Penebus kita Yesus Kristus, Bunda kita yang tak bemoda dan suci yang melahirkan Allah, para malaikat yang patut dihormati dan segala orang kudus dan saleh" (Konsili Nisea II: DS 600).

1162."Keindahan dan warna gambar-gambar merangsang doaku. Mereka merupakan pesta bagi mataku, sebagaimana gambar dari suatu pemandangan alam tnerangsang hatiku, untuk memuja Allah" (Yohanes dari Damaskus, imag. 1,27). Melihat gambar-gambar suci, bersama dengan renungan mengenai Sabda Allah dan dengan nyanyian madah gerejani, membentuk keserasian tanda-tanda liturgi, sehingga misteri yang dirayakan meresap ke dalam kenangan hati, lalu tampak dengan jelas dalam cara hidup baru umat beriman.

1163."Bunda Gereja yang penuh kasih memandang sebagai tugasnya: pada hari-hari tertentu di sepanjang tahun merayakan karya penyelamatan mempelai ilahinya dengan kenangan suci. Sekali seminggu, pada hari yang disebut hari Tuhan, Gereja mengenangkan kebangkitan Tuhan, yang sekali setahun, pada hari raya agung Paska, juga dirayakannya bersama dengan sengsara-Nya yang suci. Namun selama kurun waktu setahun Gereja memaparkan seluruh misteri Kristus. ... Dengan mengenangkan misteri-misteri penebusan itu, Gereja membuka bagi kaum beriman kekayaan keutamaan serta pahala Tuhannya sedemikian rupa, sehingga rahasia-rahasia itu senantiasa hadir dengan cara tertentu. Umat mencapai misteri-misteri itu dan dipenuhi dengan rahmat keselamatan" (SC 102).

1164.Sejak hukum Musa, Umat Allah telah mengenal pesta-pesta tertentu berhubungan dengan Paska, untuk memperingati karya agung Allah Penyelamat, berterima kasih kepada-Nya untuk itu, menghidupkan terus kenangan akan karya itu dan mengajarkannya kepada generasi-generasi baru, guna menjadikannya pedoman hidup. Pada masa Gereja, antara Paska Kristus yang dilakukan satu kali untuk selama-lamanya dan penyelesaiannya di dalam Kerajaan Allah, liturgi yang dirayakan pada hari-hari pesta tertentu, diwarnai oleh sifat baru dari misteri Kristus.

1165.Kalau Gereja merayakan misteri Kristus, maka di dalam doanya selalu kedengaran lagi satu perkataan: hari ini! - satu kata yang menggemakan doanya yang diajarkan Tuhan Bdk. Mat 6:11. dan seruan Roh Kudus Bdk. Ibr. 3:7- 4:11; Mzm 95:7.. "Hari ini" dari Allah yang hidup. ke mana manusia diundang untuk masuk, adalah "saat" Paska Yesus, yang meresapi dan menopang seluruh sejarah.
"Kehidupan telah menyebar luas ke segala makhluk dan semuanya telah dipenuhi dengan sinar yang besar. Fajar segala fajar merembes masuk ke semesta alam, dan Ia yang telah ada. sebelum "bintang kejora" dan sebelum bintang-bintang, Dia yang tidak dapat mati dan tidak berkesudahan, Kristus Agung, menyinari segala makhluk lebih cerah daripada matahari. Karen itu bagi kita yang percaya kepada-Nya, menyingsinglah satu hari yanj langgeng, abadi, dan cerah, yang tidak ada titik akhirnya: Paska mistik" (Hipolitus, pasch. 1-2).

1166."Berdasarkan tradisi para Rasul yang berasal mula pada hari kebangkitan Kristus sendiri, Gereja merayakan misteri Paska sekali seminggu, pada hari yang tepat sekali disebut Hari Tuhan atau Hari Minggu" (SC 106). Hari kebangkitan Tuhan adalah serentak "hari pertama dalam minggu", mengenangkan hari pertama ciptaan, dan "hari kedelapan" di mana Kristus sesudah "istirahat"-Nya pada Sabtu agung menerbitkan hari "yang Tuhan janjikan", "hari yang tidak mengenal malam" (Liturgi Bisantin). "Perjamuan Tuhan" adalah sentrumnya, karena di sana seluruh persekutuan umat beriman menemui Tuhan yang telah bangkit, yang mengundang mereka ke pesta pedamuan-Nya Bdk. Yoh 21:12; Luk 24:9b.
"Hari Tuhan, hari kebangkitan, hari umat Kristen, adalah hari kita. Ia dinamakan hari Tuhan, karena pada hari ini Tuhan telah naik kepada Bapa sebagai pemenang. Kalau orang kafir menamakannya hari matahari, kita pun senang mengakuinya, karena hari ini terang dunia telah terbit, hari ini matahari keadilan telah kelihatan, yang sinar-sinarnya membawa keselamatan" (Hironimus, pasch.).

1167.Benarlah bahwa hari Minggu adalah hari, di mana umat beriman berkumpul untuk perayaan liturgi, "untuk mendengarkan Sabda Allah dan ikut serta dalam perayaan Ekaristi, dan dengan demikian mengenangkan sengsara, kebangkitan dan kemuliaan Tuhan Yesus, serta mengucap syukur kepada Allah, yang melahirkan mereka kembali ke dalam pengharapan yang hidup berkat kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati" (SC 106).
"Kalau kami, o Kristus, merenungkan mukjizat-mukjizat, yang terjadi pada hari Minggu kebangkitan-Mu yang mulia ini, kami lalu berkata: Terberkatilah hari Minggu, karena padanya terjadilah awal ciptaan... keselamatan dunia... pembaharuan umat manusia... Padanya surga dan bumi bergembira dan seluruh alam semesta dipenuhi dengan sinarnya. Terberkatilah hari Minggu, karena padanya pintu-pintu firdaus dibuka, sehingga Adam dan semua orang terbuang masuk ke dalamnya tanpa perasaan takut" (Fanqith, Ofisi Syria dari Antiokia, jilid 6; Bagian musim panas, hal 193b).

<<   >>