Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki,( 67, 834 / 883-901)
SEJARAH PAUS

Ensiklik & Surat Paus

Dokumen KV 2

No: masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak) 

Katekismus Gereja Katolik
Katekismus Gereja Katolik
www.imankatolik.or.id
Cari Kata dalam KGK
www.imankatolik.or.id
Nomor:
masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901
Kata:
masukkan kata yang akan dicari untuk
menunjukkan no. katekismus

1684.Pemakaman Kristen tidak memberi Sakramen ataupun sakramentali kepada orang yang mati karena ia berada di luar tata rahmat sakramental. Namun demikian perayaan itu adalah upacara liturgi Gereja Bdk. SC 81-82. - 3Bdk. SC 81.. Pelayanan Gereja di satu pihak hendak menyatakan persekutuan yang aktif dengan orang yang mati; di lain pihak ia juga mengundang jemaat yang berhimpun untuk pemakaman itu supaya mengambil bagian dalam upacara ini dan mengumumkan kepadanya kehidupan abadi.

1685.Ritus pemakaman yang berbeda-beda menyatakan ciri Paska kematian Kristen sesuai dengan keadaan dan tradisi tiap wilayah, juga menyangkut warna liturgi. Bdk. SC 81.

1686.Ordo exsequiarum (OEx) liturgi Roma menyebut tiga bentuk upacara pemakaman yang sesuai dengan tiga tempat di mana itu dilakukan: rumah, gereja, dan tempat pemakaman. Ritus itu juga harus disesuaikan dengan bobot yang diberi kepadanya oleh keluarga, kebiasaan setempat, kebudayaan, dan kesalehan populer. Jalannya upacara untuk semua tradisi liturgi dan mencakup empat unsur pokok:

1687.Salam untuk jemaat. Salam imam membuka upacara. Sanak keluarga dari orang yang mati mendapat salam berupa perkataan "hiburan" [dalam arti Perjanjian Baru: kekuatan Roh Kudus dalam harapan]. Bdk. 1 Tes 4:18. Jemaat yang berkumpul dan berdoa juga mengharapkan "kata-kata hidup abadi". Kematian seorang anggota jemaat (atau hari ulang tahun kematian ataupun hari ketujuh dan keempat puluh sesudah kematian) merupakan kesempatan untuk mengarahkan pandangan melewati cakrawala dunia ini. Ia harus mengantarkan umat beriman kepada pengertian yang benar dalam iman akan Kristus yang telah bangkit.

1688.Ibadat Sabda. Perayaan upacara Sabda waktu pemakaman memerlukan satu persiapan yang saksama, karena mungkin ada juga umat beriman hadir, yang kadang sekali mengikuti liturgi, demikian juga sahabat yang bukan Katolik dari orang yang mati. Terutama homili harus menjauhkan "gaya sastra pidato perpisahan waktu pemakaman" (OEx 41) dan menjelaskan misteri kematian Kristen dalam terang Kristus yang telah bangkit.

1689.Kurban Ekaristi. Kalau perayaan itu dilakukan di gereja, maka Ekaristi adalah pusat kenyataan Paska kematian Kristen. Bdk. OEx 1. Di dalamnya Gereja menyatakan persekutuannya yang berdaya guna dengan orang yang mati: ia mempersembahkan kepada Bapa dalam Roh Kudus kurban kematian dan kebangkitan Kristus dan memohon kepada-Nya, supaya membersihkan anak-Nya dari dosa-dosanya dan dari akibat-akibatnya dan menerimanya di dalam kepenuhan Paska perjamuan perkawinan surgawi. Bdk. OEx 57. Melalui Ekaristi yang dirayakan atas cara ini, jemaat beriman, terutama keluarga dari orang yang mati, belajar hidup dalam persekutuan dengan dia yang "telah meninggal dalam Tuhan", dengan menerima Tubuh Kristus, dalamnya ia adalah anggota hidup, dan berdoa untuk dia dan bersama dia.

1690.Perpisahan dengan orang yang mati dalamnya Gereja "menyerahkannya kepada Allah". Perpisahan adalah "salam terakhir dari jemaat Kristen kepada seorang anggotanya, sebelum jenazahnya diusung ke makam" (OEx 10). Tradisi Bisantin menyatakan hal ini dalam kecup perpisahan kepada orang yang mati:
Dalam salam terakhir ini "orang menyanyi, karena ia telah berpisah dan berangkat dari kehidupan ini, tetapi juga, karena ada satu persekutuan dan satu penyatuan kembali. Oleh kematian kita sama sekali tidak dipisahkan satu dari yang lain, karena kita semua berjalan di jalan yang sama dan kita akan bertemu kembali di tempat yang sama. Kita tidak pernah akan dipisahkan satu dari yang lain, karena kita hidup untuk Kristus dan sekarang telah bersatu dengan Kristus; kita pergi kepada-Nya.... Kita semua akan bersatu lagi satu dengan yang lain di dalam Kristus" (Simeon dari Tesalonika, sep.).

1691."Hai orang Kristen, kenalilah martabatmu! Engkau sudah ikut mengambil bagian dalam kodrat ilahi, jangan kembali kepada kemalanganmu yang lama, dan janganlah hidup di bawah martabatmu. Ingatlah akan Kepala dan Tubuh, yang engkau menjadi anggotanya. Ingatlah bahwa engkau sudah diluputkan dari kuasa kegelapan dan telah diterima dalam terang dan Kerajaan Allah" (Leo Agung, serm. 21, 2-3).

1692.Pengakuan iman mengatakan betapa besar anugerah-anugerah yang Allah karuniakan kepada manusia dalam karya penciptaan-Nya dan lebih lagi dalam karya penebusan dan pengudusan. Yang diakui iman, disampaikan Sakramen-sakramen. Oleh Sakramen kelahiran lembali, warga Kristen telah menjadi "anak-anak Allah" (Yoh 1:12; 1 Yoh 3:1) dan telah "mengambil bagian dalam kodrat ilahi" (2 Ptr 1:4). Sambil melihat dalan iman martabatnya yang baru, orang Kristen harus mulai hidup sedemikian rupa, sehingga "sesuai dengan injil Kristus" (Flp 1:27). Untuk itu mereka disanggupkan oleh rahmat Kristus dan anugerah-anugerah Roh-Nya yang mereka terima melalui Sakramen-sakramen dan melalui doa.

1693.Yesus Kristus lalu melakukan apa yang berkenan kepada Bapa Bdk. Yoh 8:29.. Ia hidup dalam persekutuan sempurna dengan Dia. Juga murid-murid-Nya dipanggil untuk hidup di depan hadirat Bapa, "yang juga melihat yang tersembunyi" (Mat 6:6), supaya mereka "menjadi sempurna, sebagaimana Bapa surgawi sempurna adalah sempurna adanya"Bdk. Mat 5:47.

1694.Warga Kristen "telah mati bagi dosa, tetapi hidup bagi Allah dalam Yesus Kristus" (Rm 6:11) karena mereka telah digabungkan di dalam Kristus melalui Pembaptisan Bdk. Rm 6:5.. Dengan demikian, mereka mengambil bagian dalam kehidupan dari Dia yang telah bangkit Bdk, Kol 2:12.. Dalam mengikuti Kristus dan bersatu dengan Dia Bdk. Yoh 15:5., warga Kristen mampu meneladani Allah "sebagai anak-anak-Nya yang kekasih" (Ef 5:1) dan mengikuti-Nya pada jalan cinta kasih. Mereka berusaha supaya dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan, "menaruh pikiran dan perasaan" yang "terdapat juga dalam Yesus Kristus" (Flp 25) dan berpedoman pada teladan-Nya bdk. Yoh 13:12-16.

1695."Dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah" (1 Kor 6:11), "dikuduskan dalam Kristus Yesus dan dipanggil menjadi orang kudus" (1 Kor 1:2), orang Kristen telah menjadi "bait Roh Kudus " Bdk. 1 Kor 6:19.. "Roh Putera" mengajar mereka supaya berdoa kepada Bapa Bdk. Gal 4:6.. Dan karena la telah menjadi kehidupan mereka, la mendorong mereka supaya bertindakBdk. Gal 5:25. sehingga mereka dapat menghasilkan "buah-buah Roh" (Gal 5:22) melalui cinta kasih yang aktif. Roh Kudus menyembuhkan luka-luka dosa dan "membaharui roh dan pikiran" kita (Ef4:23). Ia menerangi dan meneguhkan kita supaya kita hidup dalam "kebaikan, keadilan, dan kebenaran" (Ef 5:9), dalam segala-galanya sebagai "anak-anak terang" (Ef 5:8).

1696.Jalan Kristus mengantar "menuju kehidupan", tetapi sebuah jalan yang berlawanan mengantar "menuju kebinasaan" (Mat 7:13-14)3. Perumpamaan Injil mengenai dua jalan mempunyai tempat tetap dalam katekese Gereja. la menunjukkan betapa pentingnya keputusan moral untuk keselamatan kita. "Ada dua jalan: yang satu menuju kehidupan, dan yang lain menuju kematian. Tetapi mereka berbeda jauh satu dari yang lain" (Didache, 1,1).

1697.Katekese harus menunjukkan dengan jelas betapa besar kegembiraan yang terdapat di jalan Kristus, dan apa tuntutannya Bdk. CT 29.. Katekese mengenai kehidupan "sebagai manusia baru" (Rm 6:4) di dalam Kristus haruslah merupakan:
? Katekese Roh Kudus. la adalah guru batin tentang kehidupan yang sesuai dengan Kristus, tamu yang mengasihi dan sahabat yang menjiwai kehidupan ini, membimbingnya, meluruskannya dan menguatkannya.
? Katekese rahmat, karena oleh rahmat kita diselamatkan dan hanya oleh rahmat perbuatan-perbuatan kita dapat menghasilkan buah untuk kehidupan abadi.
? Katekese sabda bahagia, karena jalan Kristus disimpulkan dalam sabda bahagia, jalan satu-satunya menuju kebahagiaan abadi yang dirindukan hati manusia.
? Katekese mengenai dosa dan pengampunan. Kalau manusia tidak melihat bahwa ia pendosa, ia tidak dapat mengetahui kebenaran mengenai diri sendiri; tetapi kebenaran ini adalah prasyarat untuk tingkah laku yang baik. Tanpa tawaran pengampunan, manusia tidak dapat menanggung kebenaran ini.
? Katakese keutamaan manusiawi, yang membuat kita mengerti betapa indah dan betapa patut diinginkan kemampuan dan kesediaan untuk melakukan yang baik.
? Katekese keutamaan Kristen, yakni iman, harapan, dan kasih - satu katekese yang dengan besar hati mengambil patokan pada contoh orang-orang kudus.
? Katekese perintah ganda mengenai cinta kasih, yang dikembangkan dalam dekalog.
? Katekese gerejani, karena di dalam aneka ragam pertukaran "hal-hal rohani" dalam "persekutuan para kudus", kehidupan Kristen dapat bertumbuh, berkembang, dan berkomunikasi.

1698.Yesus Kristus selalu merupakan titik acuan yang pertama dan terakhir dari katekese. Ia adalah "jalan dan kebenaran dan hidup" (Yoh 14:6). Kalau kita memandang kepada Kristus dengan penuh iman, kita dapat mengharapkan bahwa Ia akan memenuhi janji-janji-Nya dalam diri kita. Dan kalau kita mengasihi Dia, seperti Dia telah mengasihi kita, kita akan bertingkah laku sesuai dengan martabat kita.
"Aku minta kepadamu, ingatlah bahwa Tuhan kita Yesus Kristus adalah Kepalamu dan bahwa engkau adalah salah satu anggota-Nya. Ia berfungsi untuk engkau, sebagaimana kepaIa untuk anggota-anggota. SegaIa sesuatu yang menjadi milik-Nya adalah milikmu: roh, hati, tubuh, jiwa, dan segaIa kemampuan. Engkau harus memanfaatkan semuanya, seakan-akan itu milikmu, untuk melayani, memuji, mengasihi, dan memuliakan Allah. Engkau ada untuk Kristus, sebagaimana satu anggota ada untuk kepala. Karena itu, Ia merindukan dengan sangat mempergunakan segaIa kemampuanmu, seakan-akan itu milik-Nya, untuk melayani Bapa dan memuliakan-Nya" (Yohanes Eudes, Cord. 1,5).
"Bagiku, hidup adalah Kristus" (Flp 1:21).

1699.Hidup dalam Roh Kudus menyempumakan panggilan manusia (Bab I). Hidup itu mencakup cinta kepada Allah dan solidaritas dengan manusia (Bab II). Itu dianugerahkan karena rahmat demi keselamatan kita (Bab III).

1700.Martabat manusia berakar dalam penciptaannya menurut citra dan rupa Allah (Artikel 1); ia disempumakan dalam panggilannya ke dalam kebahagiaan Allah (Artikel 2). Tugas manusia ialah menyongsong penyempumaan itu dalam kebebasan (Artikel 3). Oleh tindakan-tindakannya yang sadar (Artikel 4), manusia mengikuti yang baik yang dijanjikan Allah dan disaksikan hati nuraninya atau ia melawannya (Artikel 5). Manusia memberi sumbangan tersendiri untuk pertumbuhan batinnya; ia memakai seluruh kemampuan cita rasa dan rohnya sebagai sarana demi pertumbuhan ini (Artikel 6). Dengan bantuan rahmat, ia tumbuh dalam kebajikan (Artikel 7), menjauhkan dosa dan menyerahkan diri, setelah ia berdosa, kepada kerahiman Bapa surgawinya seperti anak yang hilang itu Bdk. Luk 15:11-31. (Artikel 8). Dengan demikian, ia memperoleh cinta kasih yang sempurna.

1701."Kristus ... dalam pewahyuan misteri Bapa serta cinta kasih-Nya sendiri, sepenuhnya menampilkan manusia bagi manusia, dan membeberkan kepadanya panggilannya yang amat luhur" (GS 22,1). Di dalam Kristus, "gambar Allah yang tidak kelihatan" (Kol 1:15) Bdk. 2 Kor 4:4., manusia diciptakan menurut "citra" Pencipta, "serupa dengan Dia". Di dalam Kristus, Penebus dan Juru Selamat, citra ilahi di dalam manusia yang telah dirusakkan dosa pertama diperbaiki dalam keindahannya yang asli dan dimumikan oleh rahmat Allah Bdk. GS 22,2.

1702.Citra Allah hadir dalam setiap manusia. Ia menjadi tampak dalam persekutuan manusia yang menyerupai kesatuan Pribadi-pribadi ilahi.

1703.Karena ia mempunyai "jiwa yang bersifat rohani dan kekal abadi" (GS 14), maka "manusia... merupakan satu-satunya makhluk di dunia ini... yang oleh Allah dikehendaki demi dirinya sendiri" (GS 24,3). Sudah sejak pembuahannya, ia telah ditentukan untuk kebahagiaan abadi.

1704.Manusia mengambil bagian dalam terang dan kekuatan Roh ilahi. Dengan akal budinya, ia mampu mengerti susunan yang diletakkan oleh Pencipta dalam segaIa makhluk. Dengan kehendaknya, ia mampu berjalan menuju keselamatannya yang benar. Ia menemukan kesempumaannya "dalam mencari dan mencintai yang benar dan yang baik" (GS 15,2).

1705.Berkat jiwanya dan berkat kekuatan rohani akal budi dan kehendaknya, manusia dilengkapi dengan kebebasan "yang adalah lambang yang unggul citra ilahi di dalam manusia" (GS 17).

1706.Oleh akal budinya, manusia mendengarkan suara Allah yang mengajaknya "untuk mencintai serta melakukan yang baik dan mengelakkan yang jahat" (GS 16). Setiap manusia diwajibkan untuk mematuhi hukum ini, yang menggema di dalam hati nurani dan dipenuhi dengan cinta kepada Allah dan kepada sesama. Dalam tindakan moral tampaklah martabat manusia.

1707.Manusia "dari awal sejarahnya, karena terpengaruh oleh yang jahat, telah menyalah gunakan kebebasannya" (GS 13,1). Ia jatuh dalam godaan dan telah melakukan yang jahat. Memang ia masih selalu merindukan yang baik, akan tetapi kodratnya telah dilukai oleh dosa asal. Ia condong kepada yang jahat dan dapat keliru.
"Oleh karena itu dalam batinnya manusia mengalami perpecahan. Itulah sebabnya mengapa seluruh hidup manusia, ditinjau sebagai perorangan maupun secara kolektif tampak sebagai perjuangan, itu pun perjuangan yang dramatis, antara kebaikan dan kejahatan, antara terang dan kegelapan" (GS 13,2).

<<   >>