KITAB SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja Katolik |
|
|
Katekismus Gereja Katolik
| 2059. | "Sepuluh firman" itu diucapkan oleh Allah dalam rangka satu teofani "Tuhan telah berbicara berhadapan muka dengan kamu di gunung dan di tengah-tengah api" (Ul 5:4). Sepuluh firman itu termasuk dalam pewahyuan diri Allah dan kemuliaan-Nya. Di dalam firman-firman yang Ia berikan, Allah memberi Diri sendiri dan kehendak-Nya yang kudus. Dengan menyatakan kehendak-Nya, Allah mewahyukan Diri kepada umat-Nya.
| | 2060. | Anugerah firman dan hukum adalah bagian dari perjanjian yang Allah adakan dengan orang-orang-Nya. Menurut buku Keluaran, wahyu dari "sepuluh firman itu" terjadi dalam jangka waktu antara penawaran perjanjian 1 dan pengikatan perdamaian 2, setelah umat itu mewajibkan diri untuk "melakukan" segala sesuatu yang dikatakan Tuhan, dan supaya "mematuhi" Dia (Kel 24:7). Dekalog baru disampaikan, kalau sebelumnya diperingatkan akan perjanjian itu ("Tuhan, Allah kita telah mengikat perjanjian dengan kita di Horeb": Ul 5:2). 62
| | 2061. | Firman-firman itu memperoleh artinya yang penuh dalam rangka perjanjian. Menurut Kitab Suci, tindakan moral manusia mendapat arti yang sebenarnya di dalam perjanjian dan oleh perjanjian. Yang pertama dari "sepuluh firman" itu mengingatkan bahwa Allah mengasihi umat-Nya lebih dahulu:
"Karena untuk menyiksa dosa telah terjadi perpindahan dari firdaus kebebasan ke perhambaan dunia ini, maka kalimat pertama dari dekalog, yang adalah kata pertama dari firman-firman Allah, menyangkut kebebasan: Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan (Kel 20:2; Ul 5:6)" (Origenes, hom. in Ex. 8, 1).
| | 2062. | Firman-firman itu sendiri baru menyusul di tempat kedua; mereka mengatakan, apa yang harus dilakukan berdasarkan hubungan dengan Allah yang diadakan melalui perjanjian. Pelaksanaan hidup kesusilaan adalah jawaban atas tindakan Tuhan yang penuh kasih. Ia adalah pengakuan, pemberian hormat, dan terima kasih kepada Allah. Ia adalah kerja sama dalam rencana yang Allah laksanakan dalam sejarah.
| | 2063. | Perjanjian dan dialog antara Allah dan manusia juga tampak dalam kenyataan bahwa Allah sebagai pembuat hukum selalu berbicara dalam orang pertama ("Akulah Tuhan ...") dan selalu menyapa orang per orang ("Engkau ..."). Di dalam semua firman Allah, orang disapa dengan kata ganti orang dalam bentuk tunggal. Sementara Allah mengumumkan kehendak-Nya kepada seluruh umat, Ia juga menyampaikannya kepada setiap orang.
Tuhan "mewajibkan kasih kepada Allah dan menekankan keadilan terhadap sesama, supaya manusia itu benar dan layak bagi Allah, dan mempersiapkannya melalui dekalog untuk persahabatan-Nya dan untuk kerukunan dengan sesama .... Kata-kata dekalog ... berlaku juga untuk kita [orang Kristen], karena dengan kedatangan Tuhan, mereka dikembangkan dan diperluas, bukan dihapus" (Ireneus, haer. 4,16,3-4).
| | 2064. | Setia kepada Kitab Suci dan dalam kesesuaian dengan contoh Yesus, tradisi Gereja selalu memberi kepada dekalog peranan utama.
| | 2065. | Sejak santo Agustinus "sepuluh firman" itu mendapat tempat penting dalam pengajaran untuk calon baptis dan umat beriman. Dalam abad ke-15 muncul pula kebiasaan untuk menyusun kembali firman-firman dekalog dalam rumusan positif dan dalam bentuk sajak yang mudah diingat. Kebiasaan itu untuk sebagian masih ada sampai sekarang. Katekismus Gereja sering kali menerangkan ajaran kesusilaan Kristen berdasarkan "sepuluh perintah".
| | 2066. | Dalam peredaran sejarah perintah-perintah dibagi dan diurutkan secara berlain-lainan. Katekismus ini mengikuti pembagian yang dibuat oleh santo Agustinus, dan telah menjadi tradisi dalam Gereja Katolik. Pembagian ini juga digunakan dalam pengakuan iman Luteran. Bapa-bapa Yunani memakai pembagian yang agak lain, yang terdapat di dalam Gereja Ortodoks dan persekutuan aliran Calvin.
| | 2067. | Kesepuluh perintah menyatakan kasih kepada Allah dan sesama. Tiga perintah yang pertama terutama berhubungan dengan kasih kepada Allah, tujuh yang lain berhubungan dengan kasih kepada sesama.
"Seperti kasih mencakup dua perintah dan pada keduanya itu Tuhan menggantungkan seluruh hukum Taurat dan Kitab para nabi ... demikianlah kesepuluh perintah dibagi atas dua loh batu. Tiga ditulis pada batu yang satu dan tujuh pada batu yang lain" (Agustinus, serm. 33,2,2).
| | 2068. | Konsili Trente mengajarkan bahwa kesepuluh perintah adalah wajib bagi orang Kristen dan bahwa manusia yang telah dibenarkan juga harus mengikutinya Bdk. DS 1569-1570.. Konsili Vatikan II menegaskan: "Para Uskup sebagai pengganti para Rasul menerima pengutusan untuk mengajar semua bangsa dan mewartakan Injil kepada segenap makhluk, supaya semua orang, karena iman, baptis, dan pelaksanaan perintah-perintah memperoleh keselamatan" (LG 24).
| | 2069. | Dekalog merupakan satu keseluruhan yang tidak dapat dibagi. Tiap "firman"nya menunjuk kepada yang lain dan kepada seluruhnya: mereka bergantung satu sama lain. Kedua loh batu saling menerangkan; mereka membentuk satu kesatuan. Siapa melanggar satu perintah, melanggar seluruh hukum Bdk. Yak 2:10-11., Orang tidak dapat menghormati sesama, tanpa memuji Allah, Penciptanya. Orang tidak dapat menyembah Allah, tanpa mengasihi manusia, yang adalah makhlukNya. Dekalog mempersatukan kehidupan rohani dan kehidupan sosial manusia.
| | 2070. | Sepuluh firman adalah bagian dari wahyu Allah. Serentak mereka mengajarkan kepada kita kodrat manusia yang sebenarnya. Mereka menampilkan kewajiban-kewajiban hakikinya dan dengan demikian juga secara tidak langsung hak-hak asasinya, yang ada di dalam kodrat manusia. Dekalog merupakan ungkapan yang baik sekali tentang hukum moral kodrati:
"Sejak awal Allah telah menanamkan firman-firman kodrati di dalam hati manusia. Pertama-tama Ia hanya mengingatkan mereka. Itulah dekalog" (Ireneus, haer. 4,15, 1).
| | 2071. | Walaupun firman-firman dekalog dapat dimengerti oleh pikiran, namun mereka diwahyukan. Supaya sampai kepada pengetahuan yang lengkap dan pasti mengenai tuntutan hukum kodrati itu, manusia berdosa memerlukan wahyu itu.
"Dalam keadaan dosa sangat diperlukan satu penjelasan lengkap mengenai perintah-perintah dekalog, karena sinar akal budi telah digelapkan dan kehendak telah menyimpang dari jalan" (Bonaventura, sent. 4,37,1,3).
Kita mengenai perintah-perintah Allah melalui wahyu ilahi, yang dinyatakan kepada kita di dalam Gereja dan oleh suara hati nurani.
Daya Ikat Dekalog
| | 2072. | Karena sepuluh firman menyatakan kewajiban-kewajiban mendasar manusia terhadap Allah dan sesama, maka mereka, sesuai dengan hakikatnya, adalah kewajiban-kewajiban yang mengikat. Mereka tidak berubah, berlaku selama-lamanya dan di mana-mana. Tidak ada seorang pun dikecualikan darinya. Allah telah menulis sepuluh firman itu di dalam hati manusia.
| | 2073. | Kewajiban menaati perintah-perintah itu juga menyangkut kewajiban-kewajiban, yang menurut masalahnya tidak begitu berat bobotnya. Umpamanya, oleh perintah kelima dilarang saling menghina dengan kata-kata, yang hanya bisa menjadi satu kesalahan berat berdasarkan situasi ataupun maksud dari orang yang mengeluarkan penghinaan itu.
"Terpisah dari Aku, Kamu Tidak Dapat Berbuat Apa-apa"
| | 2074. | Yesus mengatakan: "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barang siapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (Yoh 15:5). Buah yang dibicarakan di sini adalah kekudusan suatu kehidupan yang menghasilkan buah karena persatuannya dengan Kristus. Kalau kita percaya kepada Yesus Kristus, mengambil bagian dalam misteri-Nya dan menghayati perintah-perintah-Nya, maka Penebus sendiri datang untuk mengasihi Bapa-Nya dan saudara-saudara-Nya, Bapa kita dan saudara-saudara kita di dalam kita. Oleh rahmat Roh Kudus, pribadi-Nya menjadi pedoman batin yang hidup bagi tindakan kita. "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu" (Yoh 15:12).
| | 2075. | "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" - Jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah " (Mat 19:16-17).
| | 2076. | Melalui tindakan dan khotbah-Nya, Yesus telah memberi kesaksian tentang keabsahan dekalog yang tetap.
| | 2077. | Anugerah dekalog terjadi dalam perjanjian yang Allah adakan dengan umat-Nya. Firman-firman Allah mendapat artinya yang benar di dalam dan melalui perjanjian ini.
| | 2078. | Dalam kesetiaan kepada Kitab Suci dan dengan mengikuti contoh Yesus, tradisi Gereja telah memberikan satu peranan istimewa dan mendasar kepada dekalog.
| | 2079. | Dekalog merupakan satu kesatuan organis tiap "firman" atau "perintah" menunjuk kepada keseluruhan. Siapa melanggar satu perintah, bersalah terhadap seluruh hukum Bdk. Yak 2:10-11.
| | 2080. | Dekalog menyatakan dengan sangat tepat hukum kesusilaan kodrati. Kita mengenalnya melalui wahyu ilahi dan akal budi manusia.
| | 2081. | Sepuluh firman sesuai dengan hakikatnya menyampaikan kewajiban-kewajiban yang berat. Tetapi ketaatan kepada perintah-perintah ini juga menyangkut kewajiban-kewajiban yang menurut obyeknya kurang berat.
| | 2082. | Apa yang Allah perintahkan, itu dimungkinkan-Nya melalui rahmat-Nya.
| | 2083. | Yesus menyimpulkan kewajiban manusia terhadap Allah dalam perkataan "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu" (Mat 22:37) Bdk. Luk 10:27 "... dengan segenap kekuatanmu dan segenap akal budimu".. Perintah ini merupakan gema langsung dari seruan meriah: "Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa !" (Ul 6:4).Allah telah lebih dahulu mengasihi kita. Yang pertama dari "sepuluh firman" mengingatkan kita akan kasih Allah yang esa ini. Perintah-perintah yang menyusul menjelaskan jawaban penuh kasih, yang hendaknya manusia berikan kepada Allahnya.
| | 2084. | Allah menyatakan diri-Nya dengan memperingatkan tindakan-Nya yang mahakuasa, yang baik dan yang membebaskan dalam sejarah umat-Nya, dengan berkata: "Aku telah mengantar engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan". Firman pertama mengandung perintah pertama dari hukum: " Engkau harus takut akan Tuhan, Allahmu; engkau harus berbakti kepada Dia .... Janganlah kamu mengikuti allah lain dari antara allah bangsa-bangsa sekelilingmu" (UL6:13-14). Panggilan pertama dan tuntutan yang adil dari Allah ialah supaya manusia menerima-Nya dan berbakti kepada-Nya.
| | 2085. | Allah yang satu dan benar mewahyukan kemuliaan-Nya pertama-tama kepada umat Israel Bdk. Kel 19:16-25; 24:15-18.. Bersama wahyu Allah, dinyatakan pula panggilan dan hakikat manusia yang benar. Manusia dipanggil untuk memberi kesaksian tentang Allah, dengan bertingkah laku sesuai dengan kenyataan bahwa ia diciptakan "menurut citra Allah" dan serupa dengan Allah.
Santo Yustinus martir berkata (sekitar thn. 155) kepada seorang pakar Yahudi: "tidak akan ada Allah lain, Tryphon, dan dari awal mula pun tidak ada Allah lain ... kecuali Dia, yang membuat semesta alam dan mengaturnya. Selanjutnya kami percaya bahwa Allah kami tidak lain dari Allah kamu, sebaliknya Ia adalah sama dengan Dia, yang telah membawa nenek moyangmu keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung. Juga kami tidak berharap kepada Allah yang lain - karena memang tidak ada lain - kecuali kepada Allah yang sama seperti Allahmu, kepada Allah Abraham, Ishak, dan Yakub" (Yustinus, dial. 11, 1).
| | 2086. | Di dalam firman pertama tercakup "perintah iman, harapan, dan kasih. Sebab kalau kita mengatakan mengenai Allah bahwa Ia tidak bergerak, tidak berubah, tetap sama, maka amat beralasan kita mengakui-Nya sebagai yang setia tanpa ketidakadilan sedikit pun. Karena itu perlu kita menerima kata-kata-Nya, percaya kepada-Nya dengan teguh dan berharap kepada-Nya dengan sepenuh hati. Tetapi siapa yang melihat kemahakuasaan-Nya, kelemahlembutan-Nya, dan kerelaan-Nya, serta kecenderungan-Nya untuk berbuat baik - dapatkah ia menaruh harapannya kepada sesuatu yang lain dari Dia? Kalau ia memandang kekayaan kebaikan dan kasih-Nya yang telah Ia curahkan ke dalam kita - bukankah ia harus mengasihi Dia? Karena itu, untuk membuka dan menutup perintah dan peraturan-Nya, Allah memakai kata-kata Akulah Tuhan" (Catech. R. 3,2,4).
| | 2087. | Kehidupan kesusilaan kita berakar dalam iman kepada Allah yang menyatakan kasih-Nya kepada kita. Santo Paulus berbicara tentang "ketaatan iman" (Rm 1:5; 16:26) sebagai kewajiban pertama. Dalam kenyataan ia melihat bahwa tidak mengenal Allah adalah alasan dan penjelasan untuk segala kesalahan susila Bdk. Rm 1:18-32. Terhadap Allah kita mempunyai kewajiban, supaya percaya kepada-Nya dan memberi kesaksian tentang Dia.
| | 2088. | Perintah pertama menuntut dari kita supaya memupuk iman kita, merawatnya dengan hati-hati dan berjaga-jaga serta menolak segala sesuatu yang bertentangan dengannya. Orang dapat berdosa melawan iman dengan berbagai cara:Keragu-raguan iman yang disengaja berarti kurang bergairah atau malahan menolak untuk menerima sebagai benar, apa yang Allah wahyukan dan apa yang Gereja sampaikan untuk dipercaya. Keragu-raguan yang tidak disengaja mencakup kelambanan untuk percaya, kesukaran untuk mengatasi keberatan-keberatan terhadap iman, atau juga rasa takut yang ditimbulkan oleh kegelapan iman. Kalau keragu-raguan itu dipelihara dengan sengaja, ia akan membawa menuju kebutaan rohani.
| << >>
|