KITAB SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja Katolik |
|
|
Katekismus Gereja Katolik
| 2124. | Istilah "ateisme" dapat dipakai untuk pelbagai fenomena yang berbeda-beda. Satu bentuk yang sering ialah materialisme praktis yang membatasi kebutuhan dan keinginannya pada ruang dan waktu. Humanisme ateistis adalah pendapat yang salah, "bahwa manusia menjadi tujuan bagi dirinya sendiri; ialah satu-satunya perancang dan pelaksana riwayatnya sendiri" (GS 20, 1). Satu bentuk lain dari ateisme dewasa ini mengharapkan pembebasan manusia melalui pembebasan ekonomi dan sosial. "Bentuk ateisme itu mempertahankan, bahwa agama pada hakikatnya merintangi kebebasan itu, sejauh memberikan kepada manusia harapan akan kehidupan di masa mendatang yang semu saja, dan mengelakkannya dari pembangunan masyarakat di dunia" (GS 20,2).
| | 2125. | Karena ateisme menyangkal atau menolak keberadaan Allah, ia adalah dosa melawan keutamaan penyembahan kepada Allah Bdk.Rm 1:18.. Maksud dan situasi dapat membatasi dengan sangat tanggung jawab terhadap kesalahan ini. Dalam kelahiran dan penyebarluasan ateisme "umat beriman dapat juga tidak kecil peran sertanya, yakni: sejauh mereka - dengan melalaikan pembinaan iman, atau dengan cara memaparkan ajaran yang sesat, atau juga karena cacat-cela mereka dalam kehidupan keagamaan, moral, dan kemasyarakatan - harus dikatakan lebih menyelubungi daripada menyingkapkan wajah Allah yang sejati maupun wajah agama yang sesungguhnya" (GS 19,3).
| << >>
|