KITAB SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja Katolik |
|
|
Katekismus Gereja Katolik
| 2509. | Satu pelanggaran terhadap kebenaran menuntut pemulihan kembali.
| | 2510. | Kaidah emas membantu seseorang membeda-bedakan dalam situasi konkret, apakah kebenaran harus disampaikan atau tidak kepada orang yang menanyakannya.
| | 2511. | "Rahasia pengakuan tidak dapat diganggu gugat" (CIC, can. 983 ?1). Rahasia jabatan harus disimpan. Penyampaian yang intim, yang dapat merugikan orang lain, tidak boleh disebarluaskan.
| | 2512. | Masyarakat mempunyai hak atas informasi yang berdasar kebenaran, kebebasan dan keadilan. Dalam penggunaan media komunikasi, orang harus menjaga batas yang wajar.
| | 2513. | Kesenian-kesenian, terutama kesenian sakral, "pada hakikatnya dimaksudkan untuk dengan cara tertentu mengungkapkan keindahan Allah yang tak terperikan dalam karya manusia. Lagi pula semakin dikhususkan bagi Allah dan untuk memajukan puji syukur serta kemuliaan-Nya, karena tiada tujuannya yang lain, kecuali untuk dengan buah hasilnya membantu manusia sedapat mungkin mengangkat hatinya kepada Allah" (SC 122).
| | 2514. | Santo Yohanes membeda-bedakan tiga macam hawa nafsu atau keinginan: keinginan daging, keinginan mata dan kesombongan dunia Bdk. 1 Yoh 2:16.. Menurut tradisi katekese Katolik perintah kesembilan melarang keinginan daging, perintah kesepuluh melarang keinginan akan milik orang lain.
| | 2515. | Secara etimologis, kata "keinginan" dapat berarti setiap bentuk keinginan kuat manusia. Teologi Katolik mengartikannya dengan satu daya perasaan nafsu berahi yang kuat, yang melawan pikiran manusia. Rasul Paulus menggunakan kata itu untuk pemberontakan "daging" melawan "roh" Bdk. Gal 5:16.17.24; Ef 2:3.. Keinginan berasal dari ketidaktaatan dosa pertama Bdk. Kej 3:11.. Juga apabila keinginan itu bukan suatu pelanggaran, namun ia mengganggu tata kekuatan manusia yang susila dan membuatnya cenderung untuk melakukan dosa Bdk. Konsili Trente: DS 1515.
| | 2516. | Oleh karena manusia adalah makhluk yang terdiri dari roh dan badan, terdapatlah di dalamnya semacam ketegangan: kecenderungan roh dan badan berada dalam semacam perlawanan. Tetapi konflik ini adalah warisan dari dosa; ia berasal darinya dan serentak menyatakannya. Kita mengalaminya dalam perjuangan rohani sehari-hari.
"Bukanlah maksud Rasul untuk mendiskriminasikan badan dan mengecamnya, yang bersama dengan jiwa rohani membentuk kodrat manusia dan subyektivitas pribadinya; ia lebih banyak berbicara tentang pekerjaan-pekerjaan, atau lebih baik, tentang pola tingkah laku habitual - kebajikan dan kebiasaan buruk - yang secara susila baik atau buruk sebagai buah ketaatan (dalam kasus pertama) atau perlawanan (dalam kasus kedua) terhadap karya keselamatan Roh Kudus. Karena itu Rasul menulis: Roh Allah sudah memberikan kepada kita hidup yang baru; oleh sebab itu Dia jugalah harus menguasai hidup kita (Gal 5:25)" (DeV 55).
| | 2517. | Hati adalah tempat kediaman kepribadian susila: "Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, perzinaan, percabulan, pencurian, sumpah palsu, dan hujah" (Mat 15:19). Dalam perjuangan melawan keinginan daging dibutuhkan pembersihan hati dan pengekangan diri.
"Jagalah dirimu dalam kesederhanaan dan kemurnian, dan engkau akan seperti anak-anak yang tidak mengenal yang jahat, yang merusakkan kehidupan manusia" (Hermas, mand. 2, 1).
| | 2518. | Sabda bahagia keenam menyampaikan: "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah" (Mat 5:8). Yang mempunyai "hati murni" ialah mereka yang sudah menyesuaikan pikiran dan kehendaknya dengan tuntutan kekudusan Allah, terutama dalam tiga bidang: cinta kasih kristiani Bdk. 1 Tim 4:3-9; 2Tim 2:22., kemurnian atau sikap tak bercela dibidang seks Bdk. 1 Tes 4:7; Kol 13:5; Ef 4:19., dan cinta kepada kebenaran dan kepatuhan kepada agama Bdk. Tit 1:15; 1 Tim 1:34; 2 Tim 2:23-26.. Kemurnian hati, badan, dan iman berhubungan satu sama lain.
Orang-orang Kristen harus mengimani artikel-artikel simbolum, "supaya sebagai orang beriman mereka taat kepada Allah; sebagai orang yang sangat taat, mereka harus hidup baik di bidang susila; sebagai orang yang hidup baik di bidang susila, mereka membersihkan hatinya, dan sebagai orang yang membersihkan hatinya mereka harus mengerti apa yang mereka imani" (Agustinus, fid. et symb. 10, 25).
| | 2519. | Kepada orang-orang yang murni hatinya sudah dijanjikan bahwa mereka akan memandang Tuhan dari muka ke muka dan akan menjadi serupa dengan Dia Bdk. 1 Kor 13:12; 1 Yoh 3:2.. Hati yang murni adalah prasyarat untuk memandang Allah. Sudah dalam masa kini ia memungkinkan kita untuk melihat kenyataan dalam terang Allah dan menerima orang lain sebagai "sesama". Ia menyanggupkan kita memandang tubuh manusia, tubuh kita sendiri, serta tubuh sesama sebagai kenisah Roh Kudus, jejak keindahan ilahi.
| | 2520. | Pembaptisan memberi kepada yang dibaptis rahmat pemurnian dari segala dosa. Tetapi selanjutnya orang yang dibaptis itu harus berjuang melawan keinginan daging dan hawa nafsu yang tidak teratur. Dengan rahmat Allah ia mampu untuk itu :
? oleh kebajikan dan anugerah kemurnian, karena kemurnian memungkinkan untuk mencintai dengan hati yang jujur dan tidak terbagi;
? oleh maksud yang jujur, yang melihat tujuan manusia yang sebenamya, karena yang sudah dibaptis mencari dengan mata yang bersahaja untuk mengetahui dan memenuhi kehendak Allah Bdk. Rm 12:2; Kol 1:10. di dalam segala-galanya.
? dengan cara melihat yang jujur secara lahir-batin, oleh pengendalian perasaan dan fantasi, oleh penolakan setiap kepuasan akan pikiran yang tidak senonoh, yang menyesatkan dari jalan hukum-hukum ilahi: "Pemandangan merangsang hawa nafsu pada orang bodoh" (Keb 15:5);
? oleh doa:
"Dulu aku sangka bahwa pantang adalah masalah kekuatan pribadi... karena dalam kebodohanku aku tidak tahu apa yang tertulis: bahwa tidak ada seorang pun dapat berpantang, kecuali Tuhan memberikan itu kepadanya. Engkau rela menganugerahkan itu kepadaku, kalau andaikata aku dengan kerinduan batin menyerang telinga-Mu dan dengan kepercayaan yang kokoh menyerahkan kepentingan saya kepada-Mu" (Agustinus, conf. 6,11,20).
| | 2521. | Kemurnian menuntut sikap yang sopan. Ini adalah bagian hakiki dari pengekangan diri. Sikap yang sopan memelihara hal-hal pribadi manusia. Ia menolak membuka apa yang harus disembunyikan. Ia diarahkan kepada kemurnian yang perasaan halusnya ia nyatakan. Ia mengatur pandangan dan gerakan sesuai dengan martabat manusia dan hubungan di antara mereka.
| | 2522. | Sikap sopan melindungi rahasia pribadi dan cinta kasihnya. Ia mengundang untuk bersabar dan mengekang diri dalam hubungan cinta kasih; ia menuntut, bahwa prasyarat-prasyarat untuk ikatan definitif dan penyerahan timbal balik dari suami dan isteri dipenuhi. Dalam sikap sopan itu termasuk pula kerendahan hati. Ia mempengaruhi pemilihan busana. Di mana ia mengira bahwa ada bahaya sikap ingin tahu yang tidak sehat, di sana ia berdiam diri dan bersikap hati-hati. Ia menjaga keintiman orang lain.
| | 2523. | Ada sifat sopan dalam perasaan dan terhadap badan. Ia umpamanya protes terhadap penyalahgunaan tubuh manusia yang "voyeuristik" dalam iklan tertentu atau terhadap tuntutan media-media tertentu, sehingga berlangkah terlampau jauh dalam membuka bagian-bagian yang sangat intim. Sikap sopan menggerakkan satu tata hidup, yang berlawanan dengan paksaan mode dan desakan dari ideologi yang berlaku.
| | 2524. | Bentuk ungkapan sikap sopan ini berbeda dari kultur ke kultur. Tetapi di mana-mana terkandung gagasan mengenai martabat rohani yang khas untuk manusia. Ia tumbuh melalui tumbuhnya kesadaran pribadi. Mendidik anak-anak dan kaum remaja dalam sikap sopan ini berarti membangkitkan hormat terhadap pribadi manusia.
| | 2525. | Kemurnian Kristen menuntut satu pemurnian lingkungan sosial. Ia menuntut dari media komunikasi cara ungkapan, yang menghargai kepentingan orang lain dan tahu batas. Kemurnian hati membebaskan dari tersebarnya erotisme dan menjauhkan tontonan yang menyuburkan voyeurisme dan khayalan.
| | 2526. | Yang dinamakan permisivitas moral adalah pandangan yang berdasar atas anggapan keliru mengenai kebebasan manusia. Perkembangan kebebasan membutuhkan pendidikan melalui hukum kesusilaan. Dari para pendidik, dituntut bahwa mereka menyampaikan kepada kaum muda satu pelajaran yang menghormati kebenaran, sifat-sifat hati, dan martabat manusia yang bersifat susila dan rohani.
| | 2527. | "Kabar baik tentang Kristus tiada hentinya memperbaharui kehidupan dan kebudayaan manusia yang jatuh berdosa, memerangi dan menyingkirkan kesesatan dan kejahatan, yang berasal dari godaan dosa yang selalu mengancam. Ia tak henti-hentinya memurnikan dan mengangkat adat-istiadat para bangsa. Warta itu bagaikan dari dalam. menyuburkan harta semarak jiwa serta bakat pembawaan setiap bangsa dan setiap masa dengan kekayaan adikodrati, meneguhkannya, melengkapinya, dan membaharuinya dalam Kristus" (GS 58,4).
| | 2528. | "Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya" (Mat 5:28).
| | 2529. | Perintah kesembilan mewaspadakan keinginan daging dan hawa nafsu.
| | 2530. | Perjuangan melawan keinginan daging terjadi melalui pembersihan hati dan latihan menjaga batas dalam segala hal.
| | 2531. | Kemurnian hati akan memperlihatkan Tuhan kepada kita. Sejak sekarang ini ia sudah melihat segala-galanya dalam terang Tuhan.
| | 2532. | Untuk pembersihan hati dibutuhkan doa, kemurnian, kejujuran maksud, dan pandangan.
| | 2533. | Kemurnian hati menuntut sikap yang sopan, yang terdiri dari kesabaran, kerendahan hati, dan perasaan halus. Sikap yang sopan melindungi keintiman seseorang.
| | 2534. | Perintah kesepuluh menggandakan dan melengkapkan perintah kesembilan tentang keinginan daging. Ia melarang menginginkan barang orang lain, karena dari keinginan itu lahir pencurian, perampokan, dan penipuan, yang dilarang oleh perintah ketujuh. "Keinginan mata" Bdk. 1 Yoh 2:16. menghantar menuju kekerasan dan ketidakadilan yang dilarang oleh perintah kelima Bdk. Mi 2:2.. Sebagaimana ketidakmurnian, keinginan berakar dalam penyembahan berhala yang dilarang oleh ketiga perintah yang pertama Bdk. Keb 14:12.. Perintah kesepuluh menyangkut maksud hati; bersama dengan perintah kesembilan ia merangkum semua peraturan hukum.
| | 2535. | Keinginan inderawi membuat kita merindukan hal-hal yang tidak kita miliki. Dengan demikian kita - umpamanya - merindukan makanan apabila kita lapar; atau udara panas apabila kita kedinginan. Keinginan-keinginan ini dalam dirinya baik; namun sering kali mereka melampaui ukuran yang arif dan menggoda kita merindukan sesuatu secara tidak adil, apa yang bukan milik kita, melainkan milik orang lain atau menjadi hak orang lain.
| | 2536. | Perintah kesepuluh melarang keserakahan dan keinginan tanpa batas akan barang-barang duniawi; melarang kelobaan yang tidak terkendalikan, yang muncul dari kerinduan yang tidak tahu batas dan penuh nafsu akan kekayaan dan kekuasaan berkaitan dengan itu. Ia juga melarang kerinduan melakukan satu ketidakadilan, yang akan merugikan harta milik duniawi dari orang lain:
"Kalau dilarang dalam hukum: Engkau tidak boleh menginginkan maka kata-kata ini mempunyai arti bahwa kita menjauhkan keinginan kita dari milik orang lain; karena kehausan keinginan akan barang orang lain itu sangat besar dan tanpa batas dan tidak akan dipuaskan sebagaimana dikatakan Kitab Suci: seorang tamak tidak pernah memiliki uang yang cukup (Pkh 5:9) (Catech. R. 3,10,13).
| | 2537. | Keinginan akan barang-barang milik sesama tidak melanggar perintah ini, sejauh orang hendak mendapatkannya dengan cara-cara yang benar. Katekese tradisional menyebutkan dengan jelas, manusia-manusia macam apa saja yang harus berjuang melawan kebiasaan jahat ini dan karena itu mereka harus dinasihati dengan lebih cermat lagi supaya mengikuti peraturan ini:
"Para pedagang yang menginginkan kelaparan dan kenaikan harga, dan tidak senang melihat bahwa ada orang lain di samping mereka yang membeli atau menjual, karena tanpa saingan mereka dapat menjual dengan lebih mahal dan membeli dengan lebih murah. Dalam hal ini mereka-mereka itu pun berdosa yang menginginkan agar orang lain menderita, supaya mereka sendiri dapat mengambil keuntungan waktu membeli atau menjual ... juga para dokter yang menginginkan penyakit; para hakim yang menghendaki banyak kejadian yang berat dan perkelahian" (Catech. R. 3,10,23).
| | 2538. | Perintah kesepuluh menuntut agar menyingkirkan rasa iri dari hati manusia. Ketika nabi Natan hendak berusaha menobatkan raja Daud, ia menceriterakan kepadanya sejarah seorang miskin yang hanya memiliki seekor domba, yang ia perlakukan seperti anaknya sendiri, dan seorang kaya, yang walaupun memiliki kawanan domba yang banyak, merasa iri terhadap orang miskin itu dan akhimya mengambil dombanya Bdk. 2 Sam 12:1-4.. Rasa iri hati dapat menghantar Bdk. Kej 4:3-7; 1 Raj 21:1-29. sampai kepada perbuatan-perbuatan yang terjahat. Oleh iri hati setan datanglah kematian ke dunia Bdk. Keb 2:24.
"Kita saling berperang dan iri hati mempersenjatai kita satu terhadap yang lain... Kalau semua orang dengan gigih merobek Tubuh Kristus, kita lalu akan sampai di mana ? Kita sudah mulai menghancurkan Tubuh Kristus... Kita mengatakan bahwa kita adalah anggota dari Tubuh yang satu dan sama, dan di samping itu kita saling menelan bagaikan binatang buas" (Yohanes Krisostomus hom. in Cor. 27,3-4).
| << >>
|