KITAB SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja Katolik |
|
|
Katekismus Gereja Katolik
| 2649. | Doa pujian sama sekali tidak ingat diri, ia secara murni terarah kepada Allah. Ia memuji-Nya karena diri-Nya sendiri; ia memuliakan-Nya, bukan hanya karena perbuatan-Nya, melainkan karena Ia ada.
| | 2650. | Doa tidak terbatas pada pengungkapan spontan suatu dorongan batin; doa harus dikehendaki. Juga tidak cukup untuk mengetahui, apa yang Kitab Suci wahyukan tentang doa; doa harus dilatih. Roh Kudus mengajar anak-anak Allah berdoa dalam "Gereja yang beriman dan berdoa" (DV 8) melalui tradisi hidup, tradisi kudus.
| | 2651. | Tradisi doa Kristen adalah satu dari bentuk-bentuk, dalamnya pentradisian iman berlangsung. Ini terjadi terutama dengan studi dan renungan kaum beriman, yang menyimpan kejadian-kejadian dan kata-kata keselamatan dalam hatinya dan semakin mendalami kenyataan-kenyataan rohani yang mereka alami Bdk. DV 8.
| | 2652. | Roh Kudus adalah "air yang hidup", yang dalam hati pendoa menjadi "sumber yang membual", "yang airnya memberi kehidupan kekal" (Yoh 4:14). Ia mengajar kepada kita, supaya menerima Kristus pada sumber ini. Dalam kehidupan Kristen terdapat sumber-sumber air, di mana Kristus menantikan kita, untuk memuaskan dahaga kita dengan Roh Kudus.
| | 2653. | Gereja menasihati semua umat beriman Kristen dengan sungguh-sungguh, "agar dengan sering membaca Kitab Suci, mereka sampai kepada suatu pengetahuan yang unggul mengenai Kristus". Mereka harus selalu ingat, "bahwa doa harus menyertai pembacaan Kitab Suci, supaya terwujudlah wawancara antara Allah dan manusia. Sebab kita berbicara dengan-Nya bila berdoa; kita mendengarkan-Nya bila membaca amanat-amanat ilahi(Ambrosius, off. 1,88)" (DV 25).
| | 2654. | Bapa-bapa kehidupan rohani menyimpulkan dalam tafsirannya mengenai Matius 7:7 sikap-sikap hati, yang dalam doa dipelihara oleh Sabda Allah: "Kalau membaca, carilah dan kamu akan menemukan dalam renungan; kalau berdoa, ketuklah dan bagimu akan dibukakan melalui meditasi" Bdk. Guigo Karthai, scala.
| | 2655. | Perutusan Kristus dan Roh Kudus, yang mewartakan, menghadirkan dan menyampaikan misteri keselamatan di dalam liturgi sakramental Gereja, dilanjutkan dalam hati yang berdoa. Kadang-kadang bapa-bapa rohani membanding-bandingkan hati dengan sebuah altar. Doa menampung liturgi selama dan sesudah perayaan dalam dirinya dan menjadikannya miliknya sendiri. Juga apabila doa itu dilakukan "di tempat tersembunyi" (Mat 6:6), ia tetap doa Gereja dan persekutuan bersama Tritunggal Mahakudus Bdk. IGLH 9.
| | 2656. | Kita masuk ke dalam doa seperti ke dalam liturgi: melalui pintu iman yang sempit. Dalam tanda-tanda kehadiran Tuhan kita mencari dan merindukan wajah-Nya. Di dalam tanda-tanda itu kita hendak mendengarkan Sabda-Nya dan menyimpannya.
| | 2657. | Roh Kudus mengajar kita, supaya merayakan liturgi dalam penantian akan kedatangan Kristus kembali; dengan demikian ia mendidik kita berdoa dalam harapan. Doa Gereja dan doa pribadi memperkuat harapan di dalam kita. Terutama mazmur-mazmur dengan bahasanya yang konkret dan kaya-raya mengajar kepada kita, supaya menaruh harapan kita kepada Allah: "Aku sangat menanti-nantikan Tuhan; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong" (Mzm 40:2). "Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan" (Rm 15:13).
| | 2658. | "Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita" (Rm 5:5). Doa, yang dibentuk oleh kehidupan liturgi, menimba segala-galanya dari cinta kasih, dengannya kita dicintai dalam Kristus. Ia membuat kita menjawab dengan mencinta, sebagaimana Ia mencintai kita. Cinta kasih adalah sumber utama bagi doa; siapa menimba darinya, mencapai puncak doa tertinggi:
"Aku mencintai Engkau, ya Allahku, dan kerinduanku satu-satunya ialah mencintai Engkau sampai hembusan napas terakhir hidupku. Aku mencintai Engkau, ya Allahku, yang patut dicintai tanpa batas, dan aku lebih suka mati dalam cinta kepada-Mu, daripada hidup tanpa cinta kepada-Mu. Aku mencintai Engkau, ya Tuhan, dan rahmat satu-satunya, yang aku mohon dari-Mu ialah rahmat supaya mencintai Engkau sampai kekal... Allahku, kalau lidahku tidak dapat mengatakan setiap saat bahwa aku mencintai Engkau, maka aku mau bahwa hatiku mengulanginya untuk-Mu sekian banyak kali, sebanyak aku bernapas" (Jean Marie Vianney, Doa).
| | 2659. | Kalau kita mendengar Sabda Tuhan dan mengambil bagian dalam misteri Paska, kita belajar berdoa pada waktu-waktu tertentu. Tetapi Roh-Nya dikaruniakan kepada kita setiap saat, dalam peristiwa-peristiwa setiap hari, sebagai sumber doa. Ajaran Yesus mengenai doa kepada Bapa kita dan mengenai penyelenggaraan Bdk. Mat 6:11.34. mengikuti garis pemikiran yang sama: Waktu terletak dalam tangan Bapa; kita menjumpai Dia hari ini, bukan kemarin atau esok, melainkan: "Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu" (Mzm 95:7- 8).
| << >>
|